Politik Pemerintahan

Mengenang Soeharto, The Smiling General (1)

Komandan Kompi Peta, Gemar Bersemedi di Gua Saat Muda

Jember (beritajatim.com) – Soeharto, The Smiling General. Jenderal yang senang tersenyum. Bapak Pembangunan. Diktator 32 tahun. Tokoh di balik pembantaian tahun 1965. Inilah dia pemimpin paling kontroversial dalam sejarah Republik Indonesia. Bagi pemujanya, ia adalah pahlawan bangsa karena berhasil membawa Indonesia keluar dari keterpurukan ekonomi dan politik pada masa Orde Lama. Bagi musuh-musuhnya, ia adalah orang yang paling bertanggungjawab menumbuhkan gurita korupsi dan dekadensi di negeri ini.

Tapi siapakah Soeharto? Sejak awal, ia memang tokoh kontroversial dan diselimuti mitos. Bahkan dalam urusan latar belakang keluarga. Ia sendiri mengaku anak desa biasa.

“Saya ini benar-benar kelahiran Desa Kemusuk, dan memang anak petani dari Desa Kemusuk,” katanya, saat bercerita mengenai silsilah keluarganya di hadapan wartawan dan undangan, yang hadir di ruang kerja kepresidenan di Bina Graha Jakarta, 28 Oktober 1974.

Kemusuk adalah sebuah desa di pelosok Argomulyo, Godean, Jogjakarta. Soeharto lahir pada 8 Juni 1921, anak ketiga dari pasangan Kertosudiro dan Sukirah. Sang ayah adalah petugas pengatur air irigasi di desa. Kehidupan masa kecil Soeharto diwarnai perceraian orang tuanya. Ia akhirnya dirawat Mbah Kromodiryo, dukun bayi di desa. Namun, di tahun 1970-an, tersebar kabar bahwa sebenarnya Soeharto adalah keturunan keraton. Namun, Soeharto membantahnya.

Soeharto malah mengklaim dirinya dekat dengan penderitaan. “Saya mengalami banyak penderitaan yang mungkin tak dialami orang lain,” katanya. Penulis biografi kritis Soeharto dari Australia, Robert E. Elson berpendapat, penderitaan tersebut mengembangkan sifat keras dan ulet dalam diri Soeharto. Soeharto juga berhati-hati untuk tergantung kepada orang lain, dan lebih menyukai hubungan dekat dalam lingkup kecil di mana dia menjadi figur dominan.

Presiden RI ke-2, Soeharto. FOTO/Nationaal Archief

Soeharto bisa menyelesaikan sekolah menengahnya pada usia 18 tahun. Namun prestasi belajarnya biasa-biasa saja. Sekolah bukan hal menarik baginya. “Dia juga tidak terstimulasi oleh gagasan-gagasan intelektual atau oleh pentingnya konteks yang lebih luas di mana dia hidup…dan jelas tak terpengaruh oleh kegiatan gerakan perjuangan nasionalis Indonesia tahun 1920-an dan 1930-an,” kata Elson.

Dasar hidup Soeharto, menurut Elson, adalah pandangan dunia pedesaan dan kota kecil Jawa Tengah sempit dengan batas-batas sosial yang pasti dan terbatas. Jika sebagian besar pemimpin dan pemikir republik ini lebih dekat dengan tradisi rasionalisme, terutama Barat, Soeharto justru lebih dekat dengan nalar mistis Jawa.

Majalah Tempo menulis cerita, bagaimana sejak muda, Soeharto gemar bersemadi di sejumlah gua keramat, seperti Gua Jambe Lima, Gua Jambe Pitu, dan Gua Suci Rahayu. Di Gua Semar, yang terletak di Pegunungan Dieng, konon ia menerima wangsit untuk menjadi pemimpin.

Soeharto merintis karir militer dengan bergabung ke KNIL (Koninklijk Nederlansche Indie Leger), sebuah organ tentara bentukan Belanda, pada tahun 1940. Elson memujinya sebagai serdadu yang cerdas dan baik. Soeharto adalah orang lapang dan tahun 1942 sudah mendapat pangkat sersan. Tahun 1943, saat Jepang berkuasa, ia mendapat posisi komandan kompi Peta (Pembela Tana Air) dan dikenal sebagai sosok yang efisien dan dapat diandalkan.

Setelah Indonesia merdeka, karir militer Soeharto naik daun. Ia menjadi salah satu anggota pasukan yang membasmi pemberontakan eks-KNIL di Sulawesi Selatan. Pertengahan 1956, ia menjadi panglima Divisi Diponegoro.

Desember 1960, ia sudah berpangkat brigadir jenderal, dan pada 1962 dipromosikan menjadi mayor jenderal dan menjadi panglima Mandala Operasi Pembebasan Irian Barat. Tahun 1965, ia diangkat menjadi wakil panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Kostrad), dan tampil menjadi tokoh utama yang akhirnya menggantikan Soekarno di tampuk kepresidenan. [wir/ted]





Apa Reaksi Anda?

Komentar