Iklan Banner Sukun
Politik Pemerintahan

Khofifah: 15 Daerah di Jatim Zona Hijau PMK dan Tetap Suplai Daging Sapi

Surabaya (beritajatim.com) – Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa terus mengawal upaya percepatan penanggulangan wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang menyerang hewan ternak di sejumlah daerah. Langkah penanganan dirumuskan lewat koordinasi antara Pemprov Jatim dengan Pusat Veteriner Farma (Pusvetma) Surabaya dan tim ahli

Usai rapat, Khofifah menyampaikan saat ini terdapat 15 kabupaten kota berstatus zona hijau atau bebas dari infeksi PMK. Kondisi hewan ternak di 15 kabupaten kota tersebut dipastikan terlindungi sehingga bisa untuk menyuplai kebutuhan daging bagi daerah lain, termasuk permintaan hewan kurban.

“Pusvetma dan Tim Pakar saya minta membuat exercise secara lebih detail. Terutama melakukan proteksi terhadap 15 kabupaten/kota yang saat ini masuk kategori zona hijau,” ungkap Gubernur Khofifah, dalam wawancara usai rakor, Rabu (25/6/2022).

Data Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur, 15 daerah yang masuk dalam kategori zona hijau PMK meliputi Sampang, Pamekasan, Sumenep, Banyuwangi, Situbondo, Ngawi, Pacitan, Tulungagung, Trenggalek, Ponorogo, Nganjuk, Kota Kediri, Kabupaten Kediri, Kota Blitar dan Kabupaten Blitar. Sedangkan, 23 daerah sisanya merupakan wilayah zona kuning PMK.

“Nah, kami lindungi kota/kabupaten yang berbatasan langsung dengan wilayah zona kuning atau merah. Karena kami lihat, beberapa daerah misalnya Pangkal Pinang itu suplai sapinya dari Madura. Sehingga, perlu dipikirkan bagaimana tetap bisa suplai ke sana secara aman,” katanya.

Proteksi yang dimaksud misalnya dengan pengiriman sapi melalui jalur penyeberangan laut. Tentunya dengan tidak melewati kawasan zona kuning.

“Bahkan kalau memungkinkan nanti kita minta izin ke Menteri Perhubungan untuk bisa direct (kirim langsung ke daerah tujuan),” imbuh Khofifah.

Dia menambahkan mobilitas pengiriman hewan ternak di kawasan Mataraman juga perlu diproteksi dengan baik. Misalnya dengan tidak mengirimkan hewan ternak yang dari zona kuning melewati daerah zona hijau.

“Nah proteksi-proteksi seperti ini membutuhkan komitmen kita semuanya. Apakah dari kabupaten atau kota, camat sampai di tingkat desa, babinsa, babinkamtibmas, sama-sama kita menjaga,” tuturnya.

Komitmen untuk melakukan proteksi di wilayah yang masih tergolong zona hijau PMK- menurut Khofifah, adalah upaya untuk menghindari para jagal yang masuk ke desa-desa dan menawar ternak dengan harga yang sangat murah.

“Kita jaga dan kita lindungi ternak dan peternak kita. Ini mendekati momen Idul Adha, kita harus cegah para pembeli sapi khususnya jagal yang mulai masuk ke desa-desa dan menawar sapi dengan harga sangat murah. Kita jaga dan lindungi agar peternak tetap tenang,” ucapnya.

Berdasarkan data Posko Terpadu Penanganan PMK Hewan Ternak Pemprov Jatim per tanggal 24 Mei 2022 sebanyak 8.794 sapi terjangkit PMK. Dari total tersebut, sebanyak 1.482 sapi telah dinyatakan sembuh dari PMK.

Sedang untuk sebaran kasus PMK di Jatim, lima wilayah yang tercatat memiliki jumlah kasus PMK Hewan Ternak aktif yakni Lumajang dengan 1.595 kasus, Gresik dengan 1.531 kasus, Mojokerto dengan 1.175 kasus, Probolinggo dengan 972 kasus, dan Sidoarjo 862 kasus.

Sementara itu, Kepala Pusvetma Surabaya, Edi Budi Susila mengaku bahwa dirinya dan Tim Pakar telah siap untuk memproduksi vaksin seperti arahan Menteri Pertanian.

Dirinya menyebut pengembangan vaksin akan dilakukan dengan metode kultur jaringan untuk membuat vaksin inaktif (inactivated vaccine).

Vaksin tersebut merupakan jenis vaksin yang mengandung virus yang sudah dimatikan dengan suhu panas, radiasi, atau bahan kimia. Proses ini membuat virus tetap utuh, namun tidak mempunyai kemampuan untuk berkembang biak.

“Ini berfungsi untuk melindungi hewan ternak yang belum terjangkit dari penularan PMK. Untuk yang sudah terjangkit akan kami maksimalkan pengobatan dan perawatannya,” ungkap Edi.

Upaya edukasi bagi para peternak juga masif dilakukan dengan sinergi dari berbagai pihak. Pasalnya, di beberapa daerah masih ditemukan adanya petani yang tidak paham penanganan hewan ternak yang terindikasi tertular PMK.

“Berikan vitamin agar imunitasnya bertambah dan mencegah penularan. Cuci mulut sapi dengan NaCL. Lalu bersihkan kandang dengan disinfektan setiap pagi dan sore, pastikan pula kebersihan kandang dan alatnya selalu terjaga,” imbuhnya.

Edi mengatakan bahwa dirinya bersama jajaran Pusvetma dan Tim Pakar sangat terbuka apabila ada penambahan Guru Besar dari wilayah lain untuk turut bergabung dalam upaya percepatan penanganan PMK hewan ternak melalui pembuatan vaksin.

“Kami sangat terbuka jika Ibu Gubernur merekomendasikan Guru Besar dari tempat lain untuk bergabung guna percepatam pembuatan vaksin ini,” pungkasnya.

Hadir dalam Rakor tersebut Kepala Dinas Kesehatan Jatim, Direktur RS Haji Surabaya, Direktur RSU dr Soetomo, Dinas Peternakan Jatim, Tim Pakar Pusvetma Prof Fredik Abdul Rantam dan Prof Suprapto Maat. (tok/beq)


Apa Reaksi Anda?

Komentar