Iklan Banner Sukun
Politik Pemerintahan

Ketua Umum PBNU Tak Harus Punya Pondok Pesantren

Nahdaltul Ulama (NU)

Jember (beritajatim.com) – Setiap ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama meninggalkan warisan sesuai semangat dan tantangan zaman masing-masing. Mereka tak bisa dibandingkan karena memiliki kelebihan tersendiri.

“Bagaimanapun pada masing-masing kepengurusan ada nilai plus yang tidak boleh kita pandang remeh,” kata Abdullah Syamsul Arifin, Ketua Pengurus NU Cabang Jember, Jawa Timur.

Abdullah mencontohkan NU di bawah kepemimpinan KH Hasyim Muzadi. “Dengan kemampuan berkomunikasi dengan pihak luar, beliau mampu mendirikan kepengurusan NU di seluruh dunia, dengan menghadirkan pengurus cabang hampir di seluruh dunia,” katanya.

“Tapi kebutuhan berikutnya setelah itu berdiri, pada masa kepemimpinan KH Said Aqil.Siradj, berdiri Universitas NU hampir di seluruh Indonesia,” tambah Abdullah.

“Inilah prestasi-prestasi yang dimiliki di samping yang lain. Pada masa Kiai Hasyim Muzadi sudah ada embrio pembahasan itu (Universitas NU), tapi kan belum terbentuk. Pada masa Kiai Said Aqil muncul UNU-UNU,” kata Abdullah.

Ke depan, lanjut Abdullah, dibutuhkan sosok orang nomor satu yang mengawal pelayanan publik seperti pelayanan kesehatan, peningkatan perekonomian, atau penguatan pertanian. “Karena memang mayoritas warga NU ada di wilayah (persoalan) itu,” katanya.

“Kalau kita mau sebut kriteria: satu, memiliki karakter keulamaan yang kuat, walaupun dia tidak harus punya pondok pesantren. Karakter keulamaan kan tidak selamanya ada pada orang yang punya pondok pesantren. Kemudian memiliki tradisi akademik cukup diperhitungkan, memiliki kemampuan manajemen, dan mampu menyosialisasikan NU ke berbagai pihak,” kata Abdullah.

Aspek senioritas penting dalam memilih nakhoda NU. “Tapi ada unsur-unsur lain yang diajarkan dalam Islam dalam memilih pemimpin. Kalau kita mengacu pada salat berjemaah, urutannya adalah orang yang paling memiliki kompetensi dan kapabilitas,” kata Abdullah.

Jika kandidat ketua yang ada memiliki komptensi dan kapabilitas yang sama, menurut Abdullah, acuannya adalah senioritas. “Artinya senioritas masih di bawah kompetensi,” katanya. [wir/suf]


Apa Reaksi Anda?

Komentar