Politik Pemerintahan

Ketua STIE Mandala Jamin Mahasiswa Tersangka Perusakan Gedung DPRD Jember

Jember (beritajatim.com) – Suwignyo Widadgo, Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Mandala, mengajukan diri untuk menjamin salah seorang mahasiswanya yang menjadi tersangka perusakan gedung DPRD Jember, Jawa Timur, agar tidak ditahan polisi.

Mahasiswa tersebut saat ini tengah berada di tahanan Kepolisian Sektor Kaliwates. Ia adalah salah satu dari lima orang yang dibekuk polisi karena melempari gedung parlemen dengan batu, dalam aksi unjuk rasa, Kamis (22/10/2020). Aksi itu sendiri diikuti ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Jember dan warga non mahasiswa.

“Saya menyayangkan ketika ada mahasiswa yang ikut aksi pada 22 Oktober itu (melakukan perusakan). Sebelum aksi, saya beri briefing, bahwa mahasiswa harus memahamui substansi yang mau dituntut. Kedua, kegiatan harus damai, tidak boleh membawa atribut apapun kecuali bendera organisasi dan jas almamamer. Tidak boleh membawa batu, bambu, dan sebagainya,” kata Suwignyo, Senin (9/11/2020).

Suwignyo juga mewanti-wanti kepada mahasiswa Mandala agar tidak bentrok dengan aparat kepolisian. “Ternyata di lapangan ada satu mahasiswa saya yang (jadi tersangka perusakan) seperti itu. Ini mahasiswa baru yang masuk dan belum pernah ada kegiatan di kampus, belum pernah ketemu,” katanya.

Orang tua mahasiswa tersebut kemudian menemui Suwignyo untuk meminta bantuan dan pendampingan hukum. “Anak itu mengakui telah melempar (gedung Dewan), sehingga dua malam berikutnya (setelah demo) diambil polisi di rumahnya dan ditahan,” kata Suwignyo.

Suwignyo lantas berinisiatif membuat surat penjaminan ke polres. “Saya siap menjamin mahasiswa yang bersangkutan tidak mengulangi lagi perbuatan serupa dan melakukan pembinaan,” katanya.

Mahasiswa tersebut sudah ditahan selama dua pekan. “Menurut saya, itu sudah cukup menjadi pelajaran kepada mahasiswa bersangkutan dan memberi efek jera, dan pasti jadi beban psikologis luar biasa,” kata Suwignyo.

Suwignyo juga mendatangi gedung DPRD Jember karena mendengar jika sekretariat parlemen yang melaporkan perusakan itu ke polisi. “Saya minta hearing dengan pimpinan Dewan, kira-kira bagaimana, kalau benar ada proses laporan, kami dan keluarga anak itu sama-sama mendapatkan manfaat agar si anak bisa meneruskan masa depan tanpa cacat. Keluarga menjadi tenang. Bagi institusi kami juga tidak menjadi beban,” katanya. [wir/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar