Iklan Banner Sukun
Politik Pemerintahan

Ketua HKTI Jember: Tak Perlu Pabrik Pupuk Organik di Jember

Jumantoro, Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia Kabupaten Jember

Jember (beritajatim.com) – Jumantoro, Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia Kabupaten Jember, Jawa Timur, tak setuju dengan rencana pendirian dua pabrik pupuk organik oleh pemerintah daerah setempat tahun ini.

Pabrik pupuk organik itu akan didirikan di Kecamatan Silo dan Wuluhan dengan anggaran masing-masing Rp 2 miliar. Saat ini, pemerintah masih melakukan survei layak desain bangunan gedung dan alat mesin pertanian. Rencananya, pabrik pupuk organik itu akan membeli bahan baku kotoran ternak dari petani.

“Kalau bisa pabrik pupuk organik tidak usah. Petani saja dilatih bikin pupuk organik. Belikan kambing yang banyak. Kotorannya kambing buat pupuk organik. Kita ingin nyata,” kata Jumantoro.

“Di desa, Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) dan kelompok tani sudah ada APO (Alat Pupuk Organik). Itu dioptimalkan. Jangan sampai program itu menjadi besi tua lagi. Tapi bagaimana program itu yang riil-riil saja, dialokasikan untuk menyubsidi harga pupuk non subsidi menjadi harga subsidi,” kata pria yang juga menjabat bendahara Asosiasi Distributor Pupuk Indonesia Jember ini.

Jumantoro lebih mendukung usulan Komisi B DPRD Jember agar pemerintah kabupaten memenuhi kekurangan pupuk kimia yang dibutuhkan petani. Kurangnya kebutuhan pupuk ini dikarenakan realisasi Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) yang diajukan petani kepada pemerintah tidak sesuai harapan.

Luas tanam di Kabupaten Jember yang masuk dalam Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok elektronik (e-RDKK) adalah 284.784,18 hektare. Namun hanya pupuk ZA yang dipenuhi 100 persen, dari usulan 16.021 ton direalisasikan 16.020 ton. Sementara untuk urea, hanya direalisasikan 80 persen (59.856 ton), SP36 98 persen (2.395 ton), NPK direalisasikan 34 persen (26.850 ton).

Jumantoro mengingatkan, bahwa pupuk organik pun sudah disubsidi oleh pemerintah, namun petani masih enggan menggunakan. “Seharusnya mulai sekarang (penggunaan pupuk organik) dilakukan. Tapi mereka tidak harus membeli, karena bahan bakunya sangat melimpah di masyarakat. Berikan edukasi, berikan pelatihan. Saya yakin dengan kontinuitas, kesabaran, perlahan-lahan alih teknologi dilakukan, petani mau tidak mau akan menggunakan pupuk organik,” katanya. [wir/ted]


Apa Reaksi Anda?

Komentar