Politik Pemerintahan

Kerajaan Fiktif, Dari Modus Penipuan, Gangguan Jiwa Hingga Masyarakat yang Sakit

Ahli Psikologi Sosial Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya (Untag), Andi Matulessy

Surabaya (beritajatim.com) – Maraknya kerajaan fiktif di Indonesia akhir akhir ini, seperti Kerajaan Agung Sejagad (KAS) dan Sunda Empire (SE) mendapat sorotan tersendiri.

Ahli Psikologi Sosial Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya (Untag), Andi Matulessy berpendapat bahwa setidaknya secara keilmuan berdirinya kerajaan fiktif di latar belakangi 2 hal, yakni bentuk modus penipuan atau faktor gangguan psikologis.

“Jadi dapat dikategorikan menjadi dua hal, yakni modus penipuan dan gangguan psikologis. Lah yang saya lihat dari KAS Purworejo itu modus penipuan sedangkan yang SE di Bandung itu cenderung gangguan psikologis,” ungkap Andi, Selasa (28/1/2020).

Menyoroti SE di Bandung, Andi melihat adanya gelagat delutif dari tokoh ketuanya. Gelagat delutif yang dimaksud merupakan keyakinan berlebih dari sesuatu yang irrasional. “SE itu delusi, dengan memunculkan irrasional menjadi rasional. Itu jelas bentuk gangguan mental,” terangnya.

Terlebih Andi juga menyoroti psikologis para pengikut kerajaan-kerajaan fiktif tersebut, menurutnya para pengikut merupakan contoh dari masyarakat yang sakit dan frustasi.

Dengan memunculkan gambaran atau kisah irrasional menjadi rasional, para tokoh kerajaan tersebut secara tidak langsung telah mempersuasi pengikutnya dengan harapan dan citra manfaat yang utopis. Selain dengan memberikan citra manfaat pada sesuatu yang irrasional tadi, para tokoh kerajaan fiktif tersebut juga melakukan brain washing dengan cara persisten atau pengulangan kisah.

“Brain washing ada sebuah proses membangun image akan dirinya bahwa itu adalah sebuah kebenaran. Dari sisi orang yang terkena dampak itu, mereka merasa mendapatkan sesuatu dari situ. Mereka adalah bentuk dari masyarakat yang sakit, dan kelompok orang yang frustrasi,” tukas Andi.

Masyarakat sakit menurut Andi adalah masyarakat yang tidak lagi mau melihat sesuatu secara rasional biasanya terjadi pada kelompok masyarakat yang frustasi dengan keadaan dan memilih menciptakan suatu citra sempurna yang mereka sebut sebagai ratu adil yang diharapkan mampu menjadi juru selamat mereka.

Andi kemudian menyimpulkan bahwa dalam kasus kerjaan fiktif ini tokoh pendirinya sudah dapat diduga sebagai ganguan mental dan pengikutnya juga merupakan masyarakat yang frustasi.

“Orang delusional jika menjadi leader sangat berbahaya. Ia mampu membawa pengikutnya ke dalam bahaya. Ia melihat delusinya sebagai bentuk kebenaran sehingga bagi pengikutnya yang awam akan mudah mempercayai karena tidak ada keraguan sedikitpun dari pemimpin mereka,” pungkasnya. [adg/ted]





Apa Reaksi Anda?

Komentar