Politik Pemerintahan

Keponakan Khofifah Gaungkan Gerakan Anti Ambyar, Apa Itu?

Lia Istifhama

Surabaya (beritajatim.com) – Jelang penentuan rekom partai bagi para Bakal Calon di Pilwali Surabaya, pasti masing-masing kandidat telah memiliki strategi jitu. Tak terkecuali keponakan Gubernur Jawa Timur, Lia Istifhama.

“Saya dari awal berpikir proses ini berjalan secara alamiah sekali. Tidak ada benak saya untuk harus ambisi meraih sebuah jabatan di pemerintahan. Tapi mungkin ini sudah anugerah Allah SWT, saya dipertemukan dengan begitu banyak relawan yang sangat ikhlas. Yah tentu harus disyukuri, kan. Cara bersyukur yah harus tetap mlaku aja. Harus ada cara jitu memang. Karena saya kan berprosesnya memang ala bonek,” ujar Lia.

“Alhamdulillah, relawan luar biasa sumbangsihnya. Sampai banyak yang pesan sendiri, pasang sendiri. Kalau dari saya, memang menyarankan agar kalau pesen media sosialisasi, tidak melupakan slogan energi anyar kanggo Surabaya tambah gebyar,” ujar dosen dan juga aktibis asli kelahiran Surabaya itu.

Bagi sosok yang akrab disapa Ning Lia ini, menjadi figur yang bisa diterima banyak pihak adalah yang utama. “Saya cuma berprinsip, bahwa Allah SWT sayang banget dengan hambanya. Yah kita kan cuma ikhtiar, yang penting enjoy gak beban dan menilai semua yang dijalani adalah hal positif. Harus bisa jadi figur yang bisa diterima banyak orang alias grapyak,” katanya.

“Jangan kitanya yang ingin dikenal saja, tapi kita sendiri bagaimana sebagai figur yang membuat orang ingin kenal. Insya Allah, tidak ada yang sia-sia. Kalau sudah kun fayakun, pasti ada ajalah jalannya. Ditunggu saja, yang penting kan Gebyar. Gebyar itu artinya simpel, Gerakan anti ambyar. Jadi saya ini kalau sedang proses, mikirnya pokoe ojok ambyar. Kudu kuat akarnya dan pasti arahnya,” pungkas kader millenial NU yang digadang-gadang sebagai pendamping Machfud Arifin ataupun Wisnu Sakti Buana itu. [ifw/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar