Iklan Banner Sukun
Politik Pemerintahan

Kepala Dinas Tanaman Pangan Jember: Usulan Komisi B Tak Mendidik Petani

Kepala Dinas Tanaman Pangan Imam Sudarmaji

Jember (beritajatim.com) – Kepala Dinas Tanaman Pangan Perkebunan dan Hortikultura Jember Imam Sudarmaji tak berani langsung menyepakati usulan Komisi B DPRD Jember, Jawa Timur, soal pengadaan pupuk kimia tambahan untuk memenuhi kekurangan kebutuhan di kalangan petani.

“Itu tidak mendidik, karena kandungan hara tanah kita sudah minus. Sama dengan orang lapar, butuh makan. Ternyata sudah dipenuhi. Apabila ditambahi lagi akan keluar. Pupuk seperti itu juga. Apabila petani menggunakan over, berlebihan, akan terbuang juga sebenarnya,” kata Imam, usai rapat dengar pendapat dengan Komisi B di gedung DPRD Jember, Rabu (19/1/2022).

Luas tanam di Kabupaten Jember yang masuk dalam Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok elektronik (e-RDKK) tahun ini adalah 284.784,18 hektare. Namun hanya pupuk ZA yang dipenuhi 100 persen, dari usulan 16.021 ton direalisasikan 16.020 ton.

Sementara untuk urea, hanya 59.856 ton yang direalisasikan dari usulan 73.635 ton (80 persen), 2.395 ton SP36 direalisasikan dari usulan 2.443 ton (98 persen), 26.850 ton NPK direalisasikan dari usulan 77.827 ton (34 persen), 8.523 ton diwujudukan dari usulan 28.858 ton pupuk organik (30 persen), dan 69.049 liter pupuk cair direalisasikan dari usulan 1.530.006 liter (pupuk cair).

Ketua Komisi B Siswono berharap pemerintah hadir. “Contoh: subsidi pupuk hanya turun dari pusat 80 persen, yang 20 persen berapa ton, tolong dianggarkan oleh pemkab. Yang 20 persen pemerintah wajib hadir untuk memenuhi kuota itu. Jangan hanya mengandalkan pusat terus. Apa gunanya pemerintah di sini kalau tidak mau hadir dalam kesulitan masyarakat,” katanya.

Imam mengatakan, petani tidak bisa hanya mengandalkan pupuk kimia dalam budidaya tanaman. Pupuk organik harus digunakan juga untuk mengembalikan unsur hara tanah. “Di Wonosari, Kecamatan Puger, sudah menggunakan agensi hayati semua. Tidak menggunakan pupuk kimia. Hasilnya sama: 7-8 ton (padi). Asalkan budidaya kita tepat. Kalau kekurangan unsur N, apa yang bisa kita lakukan pada tanaman. Agensi hayati sudah banyak bermanfaat juga,” katanya.

Namun, menurut Imam, secara umum petani sangat jarang membeli pupuk organik. “Kios kesulitan menyalurkan pupuk organik. Maka itu muncul istilah paket yang sesungguhnya pemupukan berimbang. Kalau yang dinamakan paket adalah pupuk bersubsidi semua, maka itu pemupukan berimbang,” katanya. [wir/ted]


Apa Reaksi Anda?

Komentar