Politik Pemerintahan

Kembalikan Marwah Sebagai Gunung Air, Perkawis Gagas Cagar Alam Kawasan Wilis

Kediri (beritajatim.com) – Masyarakat enam daerah Tulungagung, Trenggalek, Ponorogo, Madiun dan Kediri (Tunggal Rogo Mandiri) yang tergabung dalam Perkawis (Pelestari Kawasan Wilis) menggelar deklarasi pelestarian kawasan Gunung Wilis.

Komitmen bersama untuk menjaga kawasan Wilis sebagai benteng ketahanan ekologi, ketahanan bencana dan ketahanan pangan tersebut berlangsung di Dam Kalibago, Desa Kalipang, Kecamatan Grogol, Kabupaten Kediri, Sabtu (29/2/2020) malam.

Ketua Umum Perkawis Tofan Ardi mengatakan, era globalisasi telah menyebabkan banyak hal. Salah satunya terjadinya degradasi lingkungan yang sangat memprihatinkan. Manusia sebagai subyek telah melakukan eksploitasi terhadap alam secara besar-besaran, sehingga mengakibatkan terjadinya berbagai bencana alam, seperti banjir, kekeringan dan tanah longsor.

“Fungsi kita akan mengembalikan marwah dan fitrah Gunung Wilis sebagai Gunung Air. Karena apa, saat ini ketika musim kemarau terjadi kekeringan, dan ketika musim penghujan terjadi longsor. Ini momen paling berharga bagi kita bisa berkumpul di Tunggal Rogo Mandiri. Kita bersatu dan berkomitmen untuk mewujudkan kembali Wilis sebagai beteng ketahanan ekologi, ketahanan bencana dan ekonomi,” ajak Tofan dalam prosesi deklarasi.

Sedikitnya ada 19 kelompok masyarakat dalam wadah Perkawis yang berkomitmen bersama dalam deklarasi tersebut. Terdiri dari, Prodem Kediri, SUAR Indonesia, FKH Kediri, Yayasan Gayatri, Pawinihan,TGO Trenggalek, PWI Nganjuk, Destana Blongko, Yayasan Putra Nusantara dan Yayasan Lintas Selatan.

Kemudian, Geogreenpark Wajak Kidul, Karang Taruna Kalibago, Kalipang, Grogol, Komunitas Peduli Hutan Lindung Sendang (KPHLS) Tulungagung, Yayasan Katulistiwa Surabaya, Pawang Alas Banyakan Kediri, Asosiasi Panji Nusantara Trenggalek, Forum Pojok Rembuk Kediri, Front Peduli Hutan – FPH dan YPFFLF Leganing Jiwo Rogo.

Mereka kemudian mengucapkan ikrar sumpah di pinggir Dam Kalibago. Janji tersebut seakan disaksikan oleh butir air hujan yang turun dari langit dan laju air sungai yang deras melewati penahan sungai dan bebatuan. Isi janji itu antara lain, Bahwa, rasa peduli kepada diri sendiri (sense of self) menggugah kesadaran kami untuk menjadi lebih baik. Bahwa,rasa memiliki wilis (sense of belonging) menjadi semangat keberasamaan kami menjaga kawasan Wilis.

Bahwa, kepekaan menghadapi krisis (sense of crisis) menjadi landasan dasar kepedulian kami untuk menyelamatkan wilis yang kini sedang kritis. Sepakat dan secara sadar untuk bergabung dalam gerakan bersama yang disebut Pelestari Kawasan Wilis.

Pelestari Kawasan Wilis berkomitmen untuk bersama – sama menjaga ekologi demi keberlangsungan kehidupan di Tunggal Rogo Mandiri (Tulungagung, Nganjuk, Trenggalek, Ponorogo, Madiun dan Kediri)

Pelestari Kawasan Wilis berkomitmen untuk melaksanakan aktivitas konservasi di Gunung Wilis untuk mengembalikan fungsi Wilis sebagai Benteng Ketahanan Ekologi, Benteng Ketahanan Bencana, dan Benteng Ketahanan Ekonomi

Pelestari Kawasan Wilis akan terus berjuang mewujudkan status Gunung Wilis sebagai Cagar Alam, agar menghidari wilis dari Kerusakan. Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa memberikan berkah dan karuniaNYA untuk kita Semua.

Tofan menambahkan, untuk mewujudkan cita-cita bersama itu, Perkawis akan memperjuangkan Kawasan Cagar Alam Gunug Wilis yang akan dinaungi oleh sebuah regulasi aturan. “Jka cagar alam Gunung Wilis ini terwujud, maka tidak akan ada lagi kerusakan diatas dan masyarakat dibawah bisa menikmati air dan oksigen yang bersih. Kita bernafas dengan oksigen yang sama, dan kita minum dengan air yang sama. Sudah sepatutnya tanggung jawab kita bersama menyelamatkan Wilis,” tandasnya mengajak.

Diakhir pernyataanya, Tofan mengambil sebuah falsafah Hindu yang diajarkan oleh Sidharta Gautama tentang tiga hal penting dalam hidup ini. Pertama, ajaran baik terhadap manusia, baik terhadap alam dan kebaikan terhadap Tuhan. “Alam memberikan semuanya, tetapi kita sering lupa,” sindirnya.

Selain ikrar janji, dalam deklarasi tersebut juga ada sebuah penampilan seni tari Lenggang Poyang. Kearifan lokal dari ini dibawakan oleh anak-anak Dusun Kalibago, yang hidup dikawasan hutan Gunung Wilis sisi sebelah timur.

Poyang memiliki arti podhang (jenis buah manga yang berkembang di kawasan ini) dan Air Terjun Ngeleyangan. Tari tersebut menggambarkan kegembiraan anak-anak yang ikut menyambut panen raya podhang dan keasyikan anak-anak menikmati keindahan alam air terjun ngeleyangan. Podhang si pantat merah serta air terjun ngeleyangan yang menjadi icon Kecamatan Grogol, Kabupaten Kediri.

Selain belasan kelompok masyarakat dan warga dari enam daerah di kawasan selingkar Gunung Wilis, acara deklarasi ini juga dihadiri oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kediri. Bahkan, Pelaksana Tugas Kepala BPBD, Slamet Turmudi telah hadir lebih awal. Waktu pelaksanaan sendiri sempat mundur, karena cuaca hujan lebat sejak siang hingga memasuki gelap malam.

“Malam ini saya merasa sebagai orang yang sangat berbahagia karena menjadi bagian dari sejarah sebuah deklarasi. Apabila biasanya deklarasi itu dari partai politik, tetapi ini deklarasi tentang pelestarian alam. Kami berbangga berada di tengah orang orang yang luar biasa dan hebat,” ucap Slamet Turmudi mengawali sambutannya.

Dirinya berterima kasih telah diundang oleh Perkawis dan diberikan kesempatan untuk memperkenalkan BPBD. “BPBD merupakan instansi pemerintah yang diberi kewenangan untuk penanggulangan bencana,” tambahnya.

Slamet berbicara tentang bencana dan perilaku manusia. Dia juga membeberkan tugas dan wewenang BPBD dalam rangka menanggulangi bencana dan meminimalisir risiko saat terjadi bencana.

“Terkait dengan bencana, berbicara tentang perilaku. Sebenarnya kalau terjadi bencana, bukan bencananya yang membunuh, tetapi perlaku kita. Kalau kita bersahabat dengan alam, bagaimana membuat bangunan yang bersahabat dengn alam. Tentu risiko bencana bisa kita minimalisir,” ungkapnya.

“Bicara bencana ada tiga hal, pertama pra bencana, bagaimana kita memitigasi bagaimana mengurangi risiko bencana, tugas kami seperti itu. Saya selaku BPBD tidak menjadi apa apa, tanpa bapak ibu sekalian. Kami memberikan apresiasi untuk perjuangan yang luar biasa, berkomitmen untuk mengembalikan Wilis 30-50 tahun lalu. Bagaimana Wilis menjadi ketahanan ekologi dan bencana otomatis akan terkurangi,” bebernya.

Agenda deklarasi untuk malam tersebut ditutup dengan agenda sarasehan dan doa lintas agama. Rangkaian deklrasi akan dilanjutkan esok hari dengan acara penghijauan di kawasan tersebut dan melepaskan ribuan bibit ikan ke sungai serta burung ke alam Wilis. [nm/ted]





Apa Reaksi Anda?

Komentar