Politik Pemerintahan

Kekuatan Islam Ada Pada Tradisi Literasi dan Sains

Moch. Eksan, pendiri Eksan Institute

Jember (beritajatim.com) – Kekuatan Islam ada pada tradisi literasi dan ilmu pengetahuan. Tradisi ini membuat umat Islam pada masa lalu lebih dewasa dalam menghadapu relasi agama dan sains.

Moch. Eksan, pendiri Eksan Institute, menyebut bagaimana perlakuan terhadap Alquran sebagai bukti sahih penghargaan Islam terhadap ilmu pengetahuan. “Pada zaman Rasulullah, proses turunnya Al-Qur’an berlangsung berangsur-angsur, selama 22 tahun 2 bulan dan 22 hari. Saat itu, tradisi tadarrus (membaca( Al-Qur’an berjamaah di masjid atau musala belum ada,” katanya.

“Firman Allah belum ditulis dan dibukukan seperti sekarang. Rasulullah justru pada 10 hari terakhir Ramadhan biasanya ‘deres’ (membaca) Alquran bersama Malaikat Jibril. Para sahabat sendiri lebih banyak mengandalkan hafalan,” kata Eksan.

Tradisi membaca Alquran secara berjamaah baru berlangsung setelah Khalifah Ustman bin Affan membukukannya. Usman menyatukan semua tulisan Alquran yang tercecer di pelepah kurma dan kulit binatang dari hapalan para sahabat menjadi satu mushaf. “Mushaf Utsmani ini satu-satunya versi yang dikenal sampai sekarang,” kata Eksan.

Seni baca tulis Alqur’an berkembang pesat setelah Nabi Muhammad dan empat sahabat utama meninggal dunia. Eksan menyebut Abul Aswad Adualy dan Abul Muzahim Al-Khaqani sebagai dua sosok ulama yang berjasa besar dalam mengembangkan ilmu nahwu dan ilmu tajwid.

“Setelah itu, seni kaligrafi dan bacaan berkembang pesat. Ada enam khat Alquran mulai dari khat naskhi, riq’ah, diwani, kufi murabba, tsuluts, sampai khat farisi yang masih dikenal sampai sekarang menjadi bagian dari perkembangan seni baca tulis Alqur’an,” kata alumnus Himpunan Mahasiswa Islam Institut Agama Islam Negeri Jember ini.

Selain itu, lanjut Eksan, qiraatus sab’ah yang berasal dari Imam Nafi’ Al-Madani, Imam Ibnu Amir As-Syami, Imam Ashim Al-Kufi, Imam Hamzah Al-Kufi, Imam Abu Amr bin ‘Ala dan Imam Ibnu Katsir, menunjukkan perkembangan seni baca tulis Alquran tersebut.

Selama Ramadan kemarin, tradisi membaca Alquran bersama-sama menjadi sarana untuk memberantas buta aksara Arab dan pengembangan seni tilawatil quran. “Hal ini dimaksudkan supaya anak muda muslim punya hobi literasi yang merupakan perintah pertama dan utama dalam agama,” kata Eksan.

Seiring berkembangnya tradisi literasi Alquran, berkembang pula tradisi sains di kalangan Umat Islam pada masa lalu. Salah satunya adalah soal penentuan jadwal mulai dan berakhirnya puasa dengan metode ru’yatul hilal (melihat bulan) secara telanjang dan ilmu hisab.

“Sekolah ilmu falak berkembang pesat di Bagdad pada zaman Khalifah Al-Mansur pada 714-775 yang juga ahli astronomi Islam. Sejak abad kedelapan, ulmu falak dijadikan sebagai pembanding dari penentuan awal dan akhir bulan. Namun, umat Islam tetap mengawali Ramadhan melalui ru’yatul hilal. Kesatuan otoritas politik di bawah satu rezim khilafah islamiah tunggal yang bisa menekan perbedaan,” kata Eksan.

Namun, Eksan menambahkan, bersamaan dengan perkembangan ilmu astronomi dan geografi serta wilayah kekuasaan umat Islam, terdapat ‘mathlaq’ masing-masing yang berakibat pada perbedaan waktu. “Ru’yatul hilal mengharuskan intervensi ilmu hisab tatkala kondisi alam berawan dan mata telanjang tak bisa melihat bulan. Sedari itu ilmu hisab berperan penting dalam menentukan awal dan akhir Ramadan,” katanya. [wir/kun]



Apa Reaksi Anda?

Komentar