Politik Pemerintahan

Setahun Duet Khofifah-Emil

Kebijakan Strategis dan Fundamental Bawa Jatim Cerdas dan Sehat

Surabaya (beritajatim.com) – Bulan ini, tepat setahun pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa dan Emil Elestianto Dardak memimpin Jawa Timur. Tidak butuh waktu lama, beragam prestasi dan kemajuan diraih Jatim.

Sesuai janji awal saat menyampaikan visi misinya, percepatan yang telah dikerjakan Gubernur Khofifah bersama Wagub Emil Dardak menajamkannya lewat program Nawa Bhakti Satya atau sembilan bhakti pada Jatim Cerdas dan Sehat untuk memuliakan masyarakat Jatim.

Sembilan bhakti ini diarahkan untuk mewujudkan Jatim yang mulia di mata dunia melalui pembangunan daya saing multi-sektoral dan multi-dimensi secara konteks global. Salah satunya di bidang pendidikan dan kesehatan untuk mewujudkan kesejahteraan bagi masyarakat Jatim secara adil dan merata.

Untuk itu, pengembangan di bidang pendidikan, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan bahwa Pemprov Jawa Timur memberikan porsi besar dalam APBD tahun 2020.

Dari total APBD Provinsi Jawa Timur Rp 35,1 trilliun, sebesar 30 persennya dialokasikan khusus untuk sektor pendidikan. Menurut Gubernur Khofifah, bidang pendidikan merupakan ujung tombak pencetak sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas di wilayahnya.

“Di APBD Tahun 2020 kita banyak memberikan porsi untuk sektor pendidikan. Kita memprioritaskan pendidikan karena pendidikan merupakan ujung tombak pencetak SDM berkualitas di Jatim,” lanjutnya.

Untuk itu, mantan Menteri Sosial di era Presiden Joko Widodo ini meminta agar di awal tahun, seluruh jajaran Dinas Pendidikan bisa segera tancap gas. Ia meminta agar lelang barang dan jasa di bidang pendidikan segera dilaksanakan. Tujuannya tidak lain agar proses belajar mengajar bisa berlangsung dengan lancar dan baik.

“Kelengkapan kebutuhan untuk pendidikan yang menjadi tanggung jawab Pemprov saya harapkan bisa segera dilakukan lelang. Hal ini sangat penting, untuk memenuhi dan menjamin kelancaran proses belajar mengajar,” ungkap Khofifah.

Gubernur perempuan pertama di Jatim ini menjelaskan, saat ini kebutuhan pendidikan khususnya untuk SMA dan SMK telah teranggarkan pada APBD, khususnya lewat program pendidikan gratis berkualitas (TisTas). Bahkan, alokasi anggaran untuk pendidikan mencapai sekitar 30 persen dari total anggaran yang ada.

“Dengan dukungan anggaran cukup besar, kami berharap kualitas pendidikan di Jatim bisa semakin meningkat selaras dengan program Jatim Cerdas. Dengan demikian, maka diharapkan juga akan bisa meningkatkan indeks pembangunan manusia (IPM) di Jatim,” urai Khofifah.

Lebih lanjut dijelaskan Khofifah, Pemprov juga tengah menyiapkan action plan untuk pendidikan yang ada di Jatim. Salah satunya dengan penguatan revitalisasi SMK dan SMK pengampu. Beberapa kegiatan yang dilakukan yaitu peningkatan mutu dan relevansi pendidikan SMK, penyelenggaraan Bantuan Operasional Siswa (BOS) pendidikan SMK, serta peningkatan sarana dan prasarana sekolah menengah kejuruan. Selain itu, peningkatan prestasi dan peserta didik SMK, serta penyelenggaraan DAK pendidikan SMK.

Sejak tahun 2019, pengembangan SMK Pengampu telah difasilitasi. Setiap SMK Pengampu mengampu 5 SMK sekitar sesuai jurusan yang relevan. Dan, khusus untuk SMK Pengampu pada tahun 2020 terdapat 157 SMK Pengampu yang mengampu sekitar 785 SMK sesuai jurusan yang relevan.

“Pada tahun 2020 ini, kami akan fokus pada penguatan revitalisasi SMK termasuk di dalamnya peningkatan mutu dan relevansi pendidikan SMK dengan pasar kerja. Sedangkan, untuk SMK Pengampu kami fokus pada pelaksanaan fungsi SMK Pengampu yang telah difasilitasi sejak tahun 2019,” tambah mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan ini.

Selain itu, Pemprov Jatim juga terus memperkuat konsep SMA dan MA Double Track. Di antaranya dengan pengembangan dan monitoring karir alumni SMA Double Track, pembinaan kewirausahaan melalui usaha sekolah online, serta menyiapkan wadah bertemunya jaringan mitra Dunia Usaha Dunia Industri (DUDI) dengan calon tenaga kerja potensial alumni SMA dan MA Double Track melalui platform ruangkarir.net.

“Khusus untuk tahun ini, kami juga akan terus meningkatkan kualitas muatan vokasi untuk pendidikan Madrasah Aliyah (MA) di Jatim. Dengan bidang keterampilan antara lain multimedia, teknik listrik, kecantikan, tata boga dan teknik kendaraan ringan. Dengan demikian, maka lulusan MA diharapkan setelah lulus juga bisa langsung siap kerja,” tegas Khofifah.

Pada tahun 2019, jumlah SMA double track di Jatim mencapai 86 SMA/MA Negeri dengan 9.009 siswa. Sedangkan di tahun 2020, jumlah SMA/MA Negeri double track ditargetkan mencapai 157 SMA/MA Negeri dengan 14 ribu siswa.

Selain itu, action plan pendidikan yang juga disiapkan yaitu dengan inkubasi siswa-siswi SMK sebagai talent pada Millenial Job Center (MJC). Dengan demikian, para siswa-siswi SMK tersebut akan bisa memiliki keterampilan dan keahlian yang dibutuhkan para mitra usaha yang sudah bersinergi dengan MJC. Jenis keterampilan yang diberikan di antaranya web developer, content creator, event organizer, game developer, animation developer, 3D specialist dan digital marketing.

“Terkait hal ini, saya minta semuanya bisa dibreakdown lebih detail lagi. Sehingga, membuka ruang sinergi lebih luas dari berbagai pihak yang berminat untuk meningkatkan pemerataan kualitas pendidikan di Jatim,” pungkas Khofifah.

Program Bidang Kesehatan

Sementara di bidang kesehatan, dalam satu tahun masa kepemimpinan Khofifah-Emil terdapat beragam program inovatif yang hadir untuk meningkatkan pelayanan publik. Hal ini direalisasikan dalam program Konseling Pintu ke Pintu (KOPIPU), Bunda Anak Impian (BUAIAN), Layanan Kesehatan Gratis dan Berkualitas (TANTISTAS), Rumah Sakit Terapung, dan program Santri Jatim Bersih dan Berkah (SAJADAH).

Program KOPIPU sendiri merupakan salah satu program yang dirancang untuk memberikan konseling kesehatan menjangkau langsung ke masyarakat dengan mengirimkan perawat dan bidan Pondok Kesehatan Desa (PONKESDES) bersama mitra kerja (Fatayat, Muslimat, PKK, Aisyah, dan lainnya).

Tujuan program ini tak lain untuk meningkatkan Indeks Kesehatan Masyarakat (IKM) serta untuk mengetahui secara dini penyakit seperti darah tinggi dan jantung. Berdasarkan hasil pengukuran kerja, capaian program ini mencapai 154.224 KK.

Tak hanya itu, Pemprov Jatim juga memberikan layanan kesehatan dan pengobatan gratis dan berkualitas yang dituangkan dalam Program TANTISTAS. Layanan tersebut juga memberikan akses lebih luas bagi masyarakat di pedesaan maupun kunjungan dokter ke daerah kepulauan. Program pelayanan pembiayaan kesehatan bagi masyarakat miskin sendiri telah mencapai 6.388 orang.

Selain KOPIPU dan TANTISTAS, program Jatim Cerdas dan Sehat juga mengusung program Bunda Anak Impian (BUAIAN). Program tersebut merupakan program kepedulian terhadap kesehatan dan keselamatan ibu dan bayi. Program ini bertujuan untuk menekan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB).

Ada pula program Rumah Sakit Terapung. Program tersebut dimunculkan mengingat Provinsi Jawa Timur terdiri dari daratan, laut, dan kepulauan yang cukup luas. Pelayanan tersebut dimunculkan sebagai bentuk kehadiran pemerintah kepada masyarakat dalam hal pelayanan kesehatan.

Kunjungan pelayanan kesehatan di wilayah kepulauan Jatim, capaian yang sudah dilakukan pada tahun 2019 sebanyak 12 kali dan 4 dokter per bulan. Dengan adanya program ini diharapkan bisa menjangkau pulau-pulau terpencil untuk peningkatan derajat kesehatan masyarakat.

Termasuk juga program Santri Jatim Bersih dan Berkah (SAJADAH) yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas Pendampingan Pos Kesehatan Pesantren (Poskestren) dan penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Program tersebut telah menghasilkan capaian sebanyak 345 Ponkestren Binaan. Program pendampingan ini dilaksanakan selama 10 bulan pada 10 Poskestren di 38 Kabupaten/Kota di Jatim.

Testimoni Para Tokoh

Rektor Universitas Airlangga (Unair), Prof. Dr. Moh. Nasih, SE, MT, Ak, CMA mengatakan, sebuah gebrakan fundamental telah berhasil dilakukan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa dan Wagub Emil Elestianto Dardak dalam mewujudkan komitmen Jatim Cerdas.

“Gubernur Khofifah telah mengambil kebijakan yang strategis dan fundamental untuk bisa membawa Jatim yang cerdas. Salah satunya bantuan SPP bagi siswa SMA/SMK dan PKLK negeri swasta. Selain itu, bantuan honorarium bagi Guru Tidak Tetap (GTT). Dengan kapasitas anggaran pemerintah yang terbatas, sementara sasaran yang harus dijangkau baik untuk siswa SMA/SMK maupun GTT sangat banyak. Ini merupakan kebijakan yang berani karena menyedot cukup besar anggaran pemerintah,” katanya.

Di sisi lain, menurut dia, Gubernur Khofifah juga telah mengambil bagian penting terhadap penguatan pendidikan vokasi sebagai jawaban dari tuntutan era industri 4.0.

“Pendidikan vokasi harus terus ditata karena sudah terlalu lama terlena. Produktivitas akan terbangun jika kualitas SDM-nya cerdas dan sehat. Ini investasi jangka panjang yang tidak bisa buru-buru untuk dinilai hasilnya,” tuturnya.

Ketua PB PGRI, Dr. Djoko Adi Walujo, ST, MM, DBA menambahkan, dirinya sangat menghargai dan menaruh hormat kepada pasangan Gubernur Khofifah dan Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak.

“Mereka berdua berkeyakinan bahwa kemajuan suatu bangsa dan negara itu hanya bisa dicapai dengan pendidikan. Dan, itu diimplementasikan dengan komitmennya pada APBD Jatim, yang 30 persennya untuk pendidikan ber-tagline Tis Tas yakni pendidikan berkualitas dengan gratis,” imbuhnya.

Sementara itu, Direktur RS dr Slamet Martodirdjo Kab. Pamekasan, dr Farid Anwar menjelaskan, Program Jatim Sehat yang dicanangkan Gubernur Khofifah sangat mempedulikan kesehatan masyarakat bawah terutama di Kabupaten Pamekasan.
Program tersebut telah mensinergikan antara Pemerintah Daerah dengan Pemerintah Provinsi.

“Karena Ibu Khofifah berpikir bahwa masyarakat Jawa Timur harus sehat. Apabila sakit bisa dibawa ke Poskesdes dan Puskesmas, kalau tidak mampu baru dirujuk ke rumah sakit bahkan ke rumah sakit rujukan di Surabaya. Selanjutnya, ada program kunjungan pelayanan kesehatan dari tim dokter spesialis di kepulauan dan koridor Madura yang menangani rumah sakit, khususnya di Pamekasan yang masih kekurangan dokter spesialis, seperti Rumah Sakit Waru dan Rumah Sakit Mohammad Noer,” pungkasnya. [tok/*]





Apa Reaksi Anda?

Komentar