Politik Pemerintahan

Kaum Milenial Market Politik Masa Depan

Dua legislator Pamekasan, Ismail A Rahim (Tengah) dan Ismail (kanan) saat diplot sebagai narasumber sosialisasi peningkatan kesadaran politik yang digagas Bakesbangpol Pamekasan, di Auditorium IAI Al-Khairat Pamekasan, Sabtu (30/11/2019).

Pamekasan (beritajatim.com) – Dua legislator Pamekasan, Ismail dan Ismail A Rahim menilai kaum milenial sebagai market politik masa depan seiring dengan sikap tegas dan tidak sungkan menyuarakan aspirasi politik yang menjadi salah satu ciri mereka.

Hal itu disampaikan dalam kegiatan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Pamekasan, yang digelar di Auditorium Institut Agama Islam (IAI) Al-Khairat Pamekasan, Sabtu (30/11/2019). Sekaligus mengupas kegiatan sosialisasi yang mengusung tema ‘peningkatan kesadaran politik masyarakat dalam rangka membangun budaya demokrasi bagi generasi milenial’.

“Kaum milenial mempunyai daya tarik luar biasa dalam perhelatan politik praktis di Indonesia, sekalipun kisaran usia bagi para kaum milenial masih diperdebatkan. Tetapi yang tidak kalah penting, mereka bukan generasi yang malu-malu, bukan pula penurut dan tidak punya sikap. Bahkan kaum milenial ini punya sikap yang tegas dan tidak sungkan menyuarakan aspirasi politik mereka,” kata Ismail.

Apalagi era para kaum milenial juga didukung dengan keberadaan sember daya alam mempuni khususnya dalam aspek teknologi. Seperti laptop, internet hingga smartphone. “Kaum milenial ini memiliki beberapa kecenderungan sikap, antara lain berinternet selama 7 jam dalam sehari, humbel dan multitasking, yakni melakukan dua hingga tiga pekerjaan sekaligus,” ungkapnya.

“Termasuk juga dalam persoalan kecenderungan berpolitik, para kaum milenial ini juga memiliki sikap berbeda antara yang satu dengan lainnya. Di antaranya ada yang alergi politik, melek politik, nyinyir hingga turun tangan dan berkecimpung dalam politik praktis,” sambung politisi muda Partai Demokrat.

Namun dalam aspek demokrasi dan politik, kaum milenial justru menjadi masa depan peradaban politik dan demokrasi di Indonesia. “Kaum milenial menjadi tumpuan harapan untuk mewujudkan demokrasi yang responsif terhadap perkembangan dunia kedepan,” tegasnya.

“Untuk itu, pemerintah harus serius memikirkan konsep dan platform yang baik dalam memberi edukasi politik dan demokrasi bagi kaum milenial. Sehingga mereka benar-benar mampu mewujudkan cita-cita luhur demokrasi di NKRI,” jelas politisi yang juga tercatat sebagai Ketua Komisi III DPRD Pamekasan.

Sementara Ismail A Rahim menyampaikan sejumlah permasalahan yang dihadapi para kaum milenial, hingga akhirnya berujung pada sebuah kesimpulan tentang alur politik. “Kecenderungan milenial saat ini melihat citra buruk pemimpin, justru membangun persepsi buruk mereka terhadap persoalan politik,” kata Ismail A Rahim.

“Kondisi tersebut sekaligus akan berimbas pada kenyataan bahwa generasi milenial kurang peduli terhadap terhadap persoalan politik. Hal tersebut tidak lepas dari beberapa faktor, di antaranya perbedaan pemahaman, perbedaan karakter, perbedaan wilayah serta perbedaan sosial ekonomi,” ungkapnya.

Dari persoalan tersebut, sangat dibutuhkan edukasi politik bagi kalangan milenial demi membangun budaya demokrasi di Indonesia. “Kesadaran politik ini merupakan kondisi psikologis yang menaruh perhatian untuk memahami sebuah realitas, sehingga mereka mampu bertindak dan menyikapi persoalan kenegaraan maupun pembangunan,” jelas politisi Partai Gerindra.

Terdapat beberapa faktor dalam kesadaran politik. Di antaranya tingkat kesadaran, meliputi pemahaman, partisipasi pelestarian dan menjaga keutuhan demokrasi. “Dari faktor penghambat dalam politik, yakni kebijakan induk organisasi yang selalu berubah, pemilih pemula yang otonom, serta kurangnya dukungan dari induk organisasi,” imbuhnya.

“Sementara faktor pendorong dari kesadaran politik khususnya bagi kaum milenial, yakni perangsang politik, karakteristik pribadi dan sosial, situasi atau lingkungan politik dan yang tidak kalah penting yaitu berupa pendidikan politik,” pungkasnya. [pin/kun]

Apa Reaksi Anda?

Komentar