Iklan Banner Sukun
Politik Pemerintahan

Kasus Kekerasan Anak Marak di Surabaya, Ini Kata Wawali Armuji

Ilustrasi Kekerasan Seksual pada Anak (Pexels)

Surabaya (beritajatim.com) – Wakil Wali Kota Surabaya, Armuji, menegaskan kasus kekerasan anak yang belakangan marak menjadi perhatian serius Pemerintah. Kondisi ini, kata dia, perlu segera mendapat penanganan karena sudah mendesak.

“Melalui OPD terkait dilakukan tindakan pencegahan diantaranya memperkuat peran tim pusat pelayanan terpadu perlindungan perempuan dan anak di Surabaya,” kata Armuji saat dihubungi, Selasa, (28/6/2022).

Pria yang akrab disapa Cak Ji ini mengaku mendapat banyak masukan untuk merevisi Perda Nomor 6 Tahun 2011 tentang Penyelenggara Perlindungan Anak pasca disahkannya Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS).

“Yang menjadi perhatian kami adalah untuk mewujudkan rumah aman bagi korban kekerasan, jadi perhatian kita mulai dari hulu ke hilir,” tegas Cak Ji.

Ia juga mengimbau agar masyarakat turut melakukan pencegahan bersama. Salah satunya dengan memperkuat fungsi RT, RW dan PKK untuk melakukan pembinaan hingga pencegahan kekerasan di lingkungan keluarga.

Sebelumnya, Ketua Komisi D DPRD Surabaya dari Fraksi PDI Perjuangan, Khusnul Khotimah meminta Pemkot membuat langkah strategis dan taktis untuk mengantisipasi kasus kekerasan seksual pada anak. Seperti membuat grand design tentang pola perlindungan anak yang jelas dan mudah diterapkan.

Tujuan grand design ini, katanya, agar anak-anak bisa tumbuh dan berkembang dengan aman dan nyaman di Kota Surabaya. Sehingga Surabaya tidak menyandang predikat Kota Layak Anak namun secara esensi justru sebaliknya.

Wakil Ketua DPC PDI Perjuangan Surabaya ini merasa sangat prihatin, karena di Surabaya masih sering terjadi kasus anak-anak yang mengalami kekerasan seksual. Kondisi ini ironis, mengingat Surabaya sudah meraih predikat Kota Layak Anak.

“Kasus anak disabilitas yang mendapat kekerasan seksual itu bukan yang pertama. Pada 2021 lalu ada 104 kasus kekerasan anak di Surabaya. Terjadi karena beberapa penyebab namun yang paling banyak karena faktor ekonomi. Selain itu juga karena pola asuh dan faktor lainnya,” katanya. [asg/beq]


Apa Reaksi Anda?

Komentar