Politik Pemerintahan

Kandidat Wali Kota Surabaya Harus Miliki Konsep Realistis

Surabaya (beritajatim.com)–Wacana, apa, siapa, dan bagaimana sosok wali kota Surabaya pengganti Tri Rismaharini terus mengemuka.

Pemilih dan warga Kota Pahlawan sekarang ini membutuhkan bakal calon wali kota (Cawali) yang memiliki konsep realistis untuk diimplementasikan saat terpilih di Pilwali 2020 mendatang.

“Konsep pembangunan dan perubahan yang realistis itu harus bisa dikomunikasikan secara terbuka oleh siapa pun yang berminat tampil sebagai cawali di Pilwali 2020 mendatang,” ingat Dr Sukowidodo, M.Si, pakar komunikasi politik dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga Surabaya, Sabtu (27/7/2019) malam.

Sukowidodo mengemukakan,  pewacanaan kandidat wali kota Surabaya yang mengemuka dalam beberapa tempo terakhir masih jauh dari wacana publik.  Sejauh ini, kandidat lebih menonjolkan personalitasnya, bukan visinya.

“Ini yang ingin saya ingatkan. Jangan sekadar menonjolkan aspek personalitasnya semata,” ujarnya.

Nilai substansial yang mesti didorong dan ditampilkan seorang bakal cawali kepada publik adalah konsep realistis yang bisa diimplementasikan secara praktis dan bermanfaat kepada target group ketika yang bersangkutan dipercaya sebagai wali kota terpilih.

“Itu jauh lebih penting. Idealnya, agar gaung bersambut dan mendapat dukungan publik, kandidat memiliki konsep yang realistis,” ingatnya.

Lalu konsep yang realistis itu seperti apa? Daftar kebutuhan warga Kota Surabaya sangat banyak dalam perspektif kuantitas dan sifatnya bervariatif.

Dalam konteks ini, Dr Sukowidodo mencontohkan bakal cawali harus bisa menawarkan konsep transportasi publik, perbaikan kampung, dan problem pembangunan dan kemasyarakatan lainnya yang dibutuhkan warga Surabaya. “Ini yang belum kelihatan untuk ditampilkan. Saya yakin mereka memiliki konsep dan konsep itu harus dipublikasikan kepada publik untuk dinilai dan dikritisi,” katanya.

Dalam konteks demikian, Dr Sukowidodo menyadari kenapa survey Departemen Statistik yang dipublikasikan media massa beberapa waktu lalu menemukan bahwa 95% responden belum memiliki pilihan atas figur cawali Surabaya pengganti Tri Rismaharini. “Ya karena konsep realistis yang hendak dikerjakan jika terpilih belum muncul, sehingga publik tak tahu,” tegasnya.

“Kalau saja kandidat punya visi yang terkonsep sesuai ekspektasi  dan kebutuhan publik, maka kandidat itu akan terdongkrak popularitasnya. Yang terjadi saat ini, kandidat baru muncul dengan identitasnya. Belum dengan visinya,” ungkap Dr Sukowidodo.

“Saya berharap kandidat mulai membuka gagasan yang bakal dikerjakan jika terpilih,” katanya mengingatkan.

Pilwali Surabaya bakal dihelat pada tahun 2020 mendatang. Kendati belum mengerucut ke sejumlah nama yang berpeluang tampil sebagai kandidat, ada sejumlah tokoh dan pejabat yang disebut-sebut layak disorongkan sebagai bakal kandidat wali kota Surabaya.

Siapa mereka? Di antaranya Kepala Bappeko Surabaya Erry Cahyadi, Bupati Trenggalek Muhammad Nur Arifin, istri mantan Wali Kota Surabaya Bambang DH, Wawali petahana Whisnu Sakti Buana, Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni, dan lainnya.

Kontestasi Pilwali Surabaya diperkirakan berlangsung sengit dan keras, mengingat belum ada bakal kandidat yang diperkirakan memiliki kans politik paling besar vis a vis bakal  kandidat lainnya. [air/ted]





Apa Reaksi Anda?

Komentar