Politik Pemerintahan

Kadispendik Jember Keluarkan Surat Waspada Penculikan Siswa

Jember (beritajatim.com) – Kepala Dinas Pendidikan Jember Edi Budi Susilo menerbitkan surat edaran agar sekolah-sekolah negeri dan swasta mewaspadai penculikan siswa. Ada informasi di salah satu sekolah dasar negeri ada dugaan upaya penculikan.

Ada lima poin imbauan dalam surat tertanggal 17 Februari 2020 itu. Pertama, kepala sekolah dan guru diminta menyambut dan mengantarkan siswa sampai gerbang sekolah dan menyalami mereka satu demi satu. Kedua, meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan penculikan terhadap siswa dengan cara memastikan pengantar dan penjemput siswa tersebut orang tua, wali, keluarga yang sudah dikenali kepala sekolah dan guru.

Ketiga, apabila penjemput bukan orang tua, wali, dan keluarga yang dikenali pihak sekolah, maka siswa harus tetap berada di sekolah. Sementara itu kepala sekolah dan guru menghubungi orang tua, wali, dan keluarga siswa bersangkutan agar segera menjemput.

Keempat, membatasi peserta didik agar keluar dari lingkungan sekolah saat jam istirahat. Kelima, bila terjadi permasalahan dan melihat kejanggalan, pihak sekolah diminta segera menghubungi Dinas Pendidikan dan instansi terkait. “Saya menangkap fenomena di beberapa daerah. Kejadian di Probolinggo dan Situbondo, serta suara-suara kecemasan di grup (WhatsApp),” kata Edi menjelaskan alasan penerbitan surat tersebut, Rabu (19/2/2020).

Kebetulan sehari setelah surat itu terbit, Selasa (18/2/2020), terjadi kehebohan di SD Negeri Jember Lor 1. “Kemarin sore, saya mendapat informasi dari Kepala Bidang SD bahwa ada kejadian di Jember Lor 1. Tapi kemudian kami coba konfirmasi, ternyata masih dugaan, dan belum ada bukti-bukti yang menguatkan bahwa itu dugaan penculikan,” kata Edi.

Berdasarkan hasil konfirmasi Edi, diketahui bahwa pada jam setengah satu siang, ada siswa yang mengaku didekap dari belakang oleh orang tak dikenal. “Tapi sempat meronta, lalu dilepas. Itu yang jadi dasar laporan kepada guru dan kepala sekolah. Tapi belum sampai ada tindakan membawa atau melarikan peserta didik,” katanya.

Edi meminta kepada semua sekolah agar jika ada bukti kuat dugaan penculikan, satpam berkoordinasi dengan aparat kepolisian terdekat. “Tapi lebih pada langkah antisipatif, saya minta agar saat pulang sekolah, ada petugas satpam (yang mengawasi) dan guru-guru digilir piket untuk mengantarkan sampai pintu gerbang,” katanya.

Edi mengatakan, ada 1.300 SD negeri dan swasta, 94 SMP negeri, 237 SMP swasta dengan kondisi berbeda-beda. “Ada yang sekolah posisinya tertutup pagar rapi. Begitu jam tujuh digembok dan baru boleh keluar saat jam pulang. Ada yang terbuka. Oleh karena itu saya minta imbauan agar siswa tidak jajan di luar lingkungan sekolah ditingkatkan. Kemudian ketika istirahat cukup bermain di halaman, perpustakaan, dan kantin,” katanya.

Edi juga meminta kepada orang tua dan wali murid agar identitas penjemput siswa di sekolah benar-benar jelas. “Kalau tidak, kadang-kadang merepotkan,” katanya. [wir/kun]





Apa Reaksi Anda?

Komentar