Iklan Banner Sukun
Politik Pemerintahan

Tradisi Nikah Malem Sanga

Jumlah Pengantin Usia Dini di Bojonegoro Turun

Ilustrasi lelaki yang serius menjalin hubungan (Foto: Jonathan Borba, Pexels)

Bojonegoro (beritajatim.com) – Salah satu tradisi momen bahagia malam terakhir bulan Ramadan adalah nikah malam sanga.

Nikah malam sanga merupakan tradisi sakral yang dilakukan pada hari terakhir bulan puasa sebelum Hari Raya Idulfitri atau tanggal 29 ramadan.

Sesuai rekapitulasi Kantor Kemenag Bojonegoro, ada sebanyak 523 pasangan pengantin yang melakukan ijab kabul, termasuk calon pengantin yang masih usia anak. Tahun ini, jumlah anak yang melakukan ijab kabul mulai ada penurunan jika dibanding dengan tahun sebelumnya.

Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Kabupaten Bojonegoro mencatat pada April tahun 2021 lalu dispensasi kawin yang diajukan calon pengantin usia anak mencapai angka 262 dispensasi dan pada bulan April tahun 2022 ini menjadi 174 dispensasi atau turun 88 angka.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Kabupaten Bojonegoro Heru Sugiharto mengatakan, dalam periode Maret sampai April 2022 terdapat data sebanyak 96 perkawinan anak.

Sehingga kedepan perlu pendewasaan sesuai dengan Undang-Undang No 16 Tahun 2019 tentang Syarat Perkawinan yaitu hanya diizinkan apabila usia laki-laki dan perempuan sudah mencapai umur 19 tahun.

“Usia ideal menikah menurut DP3AKB untuk perempuan yaitu 21 tahun dan laki-laki berumur 25 tahun,” ujar Heru.

Kepala DP3AKB Bojonegoro, Heru Sugiharto, menyatakan bahwa upaya pencegahan sudah dilakukan semaksimal mungkin dan terus menerus. Diantaranya dengan menyiapkan satgas di setiap kecamatan, kader-kader IMP (Institusi Masyarakat Pedesaan), Genre, Pramuka, dan Forum Anak Bojonegoro (FABO) agar semua mampu menjadi pendidik sebaya dalam pencegahan pernikahan dini.

“Satgas kader IMP dan kader-kader dalam binaan DP3AKB serta lapisan masyatakat semuanya ini bertugas untuk menyosialisasikan dan mengedukasi warga agar mencegah perkawinan anak. Satgas perlindungan perempuan dan anak yang tersebar di 28 kecamatan wilayah Bojonegoro,” ungkapnya.

Nantinya, lanjut Heru, satgas akan melaporkan setiap bulan ke DP3AKB untuk perkembangan datanya. Ia berharap kepada anak-anak di Bojonegoro untuk fokus terlebih dahulu dalam menggapai mimpi dan cita-cita. Sementara yang terlanjur melaksanakan perkawinan diharapkan melakukan program keluarga berencana (KB) dengan menghubungi petugas di desa masing masing. [lus/ted]


Apa Reaksi Anda?

Komentar