Politik Pemerintahan

Jukir Nakal, Penyebab Retribusi Parkir Tak Maksimal

Foto: ilustrasi/endra

Ponorogo (beritajatim.com) – Pasca pembongkaran pasar legi, retribusi parkir daerah situ otomatis hilang. Karena ribuan pedagang yang menempati sudah berpindah di pasar relokasi yang disediakan oleh Pemkab. Padahal awalnya, retribusi parkir dari kawasan tersebut cukup besar.

“Dulu kawasan pasar legi sampai ada 18 jukir yang dipekerjakan. Namun karena pindah ke pasar relokasi, otomatis pemasukan retribusi parkir juga menurun,” kata Kepala Dinas Perhubungan Ponorogo Djunaedi, Senin (26/8/2019).

Keadaan tersebut, membuat pendapatan asli daerah (PAD) melalui retribusi parkir sulit diwujudkan. Tahun ini, Djunaedi mengungkapkan pihaknya ditarget retribusi parkir sebanyak Rp 1 miliar. Untuk merealisasikannya, pada semester pertama pihaknya menargetkan 50 persen atau Rp 500 juta.

Namun kenyataannya baru 43 persen yang sanggup disetor ke kas daerah. “Jadi pada semester awal tahun ini, kami masih kurang tujuh persen,” katanya.

Selain pendapatan menurun karena dibongkarnya pasar legi. Kekurangan target tujuh persen pada semester pertama juga disebabkan dengan kerjasama dengan juru parkir (jukir).

Seharusnya, jukir menyetor retribusi yang mereka pungut mulai tanggal 25 hingga 30 di setiap bulan. Baru tanggal 1-10 bulan berikutnya bagi hasil diberikan. Namun kenyataannya, sejumlah jukir kedapatan bersikap nakal.

Mereka menggunakan uang retribusi itu untuk keperluan pribadi. Djunaedi menyebut jukir yang bermasalah dalam penyetoran itu sudah diinventarisir dan ditagih secara bertahap. Karena, menurut Djunaedi, ada juga yang memang nakal tidak menyetor.

“Sistemnya pembagian hasil 50 persen banding 50 persen. Namun ada yang beralasan uangnya digunakan untuk mencukupi kebutuhan keluarga dulu,” pungkasnya. [end/suf]



Apa Reaksi Anda?

Komentar