Politik Pemerintahan

Jika Terpaksa Belanja, Walikota Kediri Himbau Masyarakat Tertib Mengantre dan Pakai Masker

Kediri (beritajatim.com) – Walikota Kediri Abdullah Abu Bakar akhir-akhir ini memantau kondisi Kota Kediri yang semakin padat di jalanan. Pusat perbelanjaan mulai buka dan masyarakat mulai belanja kebutuhan lebaran.

“Saya paham untuk memenuhi kebutuhan pokok masyarakat keluar untuk berbelanja, tapi saya harap pedagang atau pelaku usaha menerapkan protokol covid-19. Sediakan tempat cuci tangan, jaga jarak minimal 1 meter atau mengurangi kapasitas 50 persen, dan wajib pakai masker”, jelas Abdullah Abu Bakar.

Walikota yang biasa disapa Mas Abu ini menyebut akan ada sanksi jika pelaku usaha tidak mengikuti protokol Covid-19.

“Akan kami lakukan penutupan sementara satu hari, jika membandel akan ditutup selama tiga hari”, jelasnya.

“Pemilik usaha wajib bertanggung jawab atas pelaksanaan protokol covid-19. Jika terjadi pelanggaran, pemilik tidak bisa lepas tanggung jawab”, tegas Mas Abu.

“Saya juga menghimbau masyarakat untuk menahan dulu berbelanja kebutuhan yang bukan pokok,” pinta Mas Abu.

Kediri Town Square, salah satu pusat perbelanjaan di Kota Kediri sudah berancang-ancang membuka penuh tenant nya pada 22 Mei 2020.

“Kami tutup mulai tanggal 31 Maret 2020. Nanti akan dibuka penuh pada tanggal 22 Mei 2020,” kata Aan Tri Ayuni, Marketing Communication Manager Kediri Town Square, Kota Kediri, Senin (18/5/2020). Selama tutup, hanya Hypermart yang menjadi salah satu gerai yang tetap buka.

Pada tanggal 2 Mei, Kediri Town Square (Ketos) mulai buka untuk gerai _fashion_ , obat, dan alat kesehatan. Kira-kira seperempat dari jumlah gerai di Ketos. Baru nanti tanggal 22 Mei 2020 akan dibuka total semuanya tenant termasuk gerai makanan dan minuman.

“Hanya, kalau untuk F&B tetap tak boleh makan di tempat. Hanya boleh take away,” tambah Aan. Dibukanya pusat perbelanjaan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat menyambut Lebaran. Juga keluhan para penyewa gerai karena tutup sehingga tidak ada pemasukan sama sekali.

Meski dibuka, protokol kesehatan dilakukan dengan pengawasan ketat dari staf dan keamanan. Mulai dari cuci tangan, penyemprotan hand sanitizer, dan semua pengunjung baik dewasa serta anak-anak harus memakai masker.

Khusus untuk Matahari, salah satu tenant , membatasi pengunjung di dalam gerai maksimal 500 orang. Bila lebih, harus mengantre di luar, menunggu yang di dalam keluar. Angka tersebut terbaca dari smart counter yang dipasang di tiap pintu masuk. Alat ini mendeteksi jumlah pengunjung masuk dan keluar dengan akurat.

“Kalau sudah penuh, mall kami tutup dari depan. Jadi sering terlihat parkiran kosong, tapi pengunjung kami stop untuk menghindari kerumunan,” tambah Aan.

Di dalam Matahari pun, staf mengawasi pengunjung. Antrean di kasir harus melalukan penjarakkan fisik sesuai dengan tanda yang sudah dibuat. Pun bila membeli baju, tidak boleh dicoba jadi kamar pas ditutup.

“Kami juga membuat rute bagi pengunjung di dalam mall ,” kata Wahyu, Assisten Store Manager yang sedang bertugas.

Ia menunjukkan tanda anak panah di lantai berupa tanda hijau arah masuk dan tanda merah arah keluar. Sebisa mungkin, petugas memantau pergerakan pengunjung agar tidak bergerombol. [nm/kun]





Apa Reaksi Anda?

Komentar