Politik Pemerintahan

Jelang Muktamar PPP, Ini Nama-nama Caketum yang Beredar di Jatim

Ketua DPW PPP Jatim, Musyafak Noer

Surabaya (beritajatim.com) – DPW PPP Jatim masih menggodok nama-nama calon ketua umum PPP, dari kader internal maupun eksternal.

Hal ini menjelang perhelatan Muktamar IX PPP di Makassar, 18-20 Desember 2020. Tapi, pengurus DPW PPP se-Indonesia telah mengusulkan ke DPP terkait perubahan lokasi dan tanggal acara, yakni di Bogor pada Januari 2021 bertepatan dengan Harlah PPP.

“Dari struktur DPW, masih mengingat, menimbang dan mengkaji ulang di antara sekian calon ketua umum dari kader internal, dan dari eksternal,” kata Ketua DPW PPP Jatim, Musyafak Noer kepada wartawan di Surabaya, Minggu (8/11/2020).

Beberapa nama yang muncul sebagai calon Ketua Umum PPP, ada yang dari internal dan ekternal partai. Dari internal partai, beredar nama Suharso Manoarfa, Muhammad Mardiono, Achmad Muqowam, Muhammad Aras (Ketua DPW PPP Sulsel) dan Gus Yasin (Wagub Jawa Tengah).

Sedangkan dari eksternal partai ada nama Khofifah Indar Parawansa (Gubernur Jatim), Saifullah Yusuf (mantan Wakil Gubernur Jatim) dan Sandiaga Uno (mantan Wagub DKI Jakarta).

“Kalau dari DPW PPP Jatim, sesuai pesan kiai dan ulama baik struktural maupun kultural, meminta ketua umum PPP ke depan harus dijabat oleh unsur Nahdlatul Ulama (NU). Pak Suharso bukan dari NU,” ujarnya.

Menurutnya, jika mengacu pada pesan kiai dan ulama NU Jatim, maka dari nama internal dan eksternal yang muncul itu, ada nama Mardiono, Gus Yasin, Khofifah dan Gus Ipul dari NU.

Muhammad Mardiono adalah Wakil Ketua Umum PPP yang bergeser menjabat salah seorang Majelis Pertimbangan DPP PPP. Selain itu, Mardiono juga menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) RI. “Tapi, Jatim masih belum mengusulkan Mardiono,” tuturnya.

Bagaimana dengan calon dari kader eksternal PPP? Musyafak mengaku Jatim tidak mengusulkan. Namun, bisa saja dari kader eksternal tapi pernah menjadi kader internal, seperti Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dan Khofifah Indar Parawansa.

Hanya saja keduanya menolak dicalonkan. Gus Ipul beralasan terkendala dengan waktu. Sebab, tanggal 9 Desember adalah coblosan pilkada serentak 2020. Di mana Gus Ipul ikut mencalonkan diri sebagai Calon Walikota Pasuruan.

Jadwal pilkada serentak 2020 itu mepet dengan pelaksanaan muktamar yang dihelat tanggal 18 Desember. Sekalipun muktamar digelar Januari juga mepet waktunya. “Kalau Bu Khofifah tak bersedia, karena beliau ingin fokus mengurusi Provinsi Jatim,” jelasnya.

Sedangkan untuk Sandiaga Uno, Musyafak mengaku Jatim tidak mengusulkan. Sandiaga Uno diusulkan oleh beberapa DPW PPP provinsi lain. “Yang saya tahu Mas Sandiaga Uno masih pikir-pikir,” pungkasnya. (tok/ted)





Apa Reaksi Anda?

Komentar