Iklan Banner Sukun
Politik Pemerintahan

Jejak Naditira Pradesa Prasasti Canggu di Kabupaten Lamongan

Prasasti Canggu atau Trowulan 1.[ist]

Lamongan (beritajatim.com) – Setiap prasasti menceritakan tentang peradaban di mana prasasti itu ditemukan, tak terkecuali sejumlah prasasti yang ditemukan dan tersebar di wilayah Lamongan. Prasasti itu bisa jadi jejak dan bukti otentik yang menunjukkan adanya peradaban masa kuno di Lamongan.

Supriyo, sejarawan Lamongan dalam bedah bukunya “Garudamukha” mengungkapkan, Lamongan memiliki banyak prasasti dari beragam jaman, mulai dari era Mpu Sindok, Airlangga hingga Majapahit.

Selain prasasti, imbuh Supriyo, banyak juga benda, bangunan, struktur serta situs arkeologi, yang ditemukan dan tersebar di Lamongan. Sehingga hal ini menunjukkan fakta bahwa kehidupan di Lamongan sangat berjaya dan besar di masa silam.

“Saya yakin masih ada sisa-sisa peradaban masa kuno Lamongan lainnya jika terus dilakukan penggalian. Apalagi Lamongan dilewati sungai Bengawan Solo beserta anak bengawan yang disebut Bengawan Jero,” ujar Supriyo saat dikonfirmasi, Jumat (27/5/2022).

Dalam prasasti Canggu, di masa raja Hayam Wuruk (1358), menyebut nama-nama Naditira Pradesa (desa di tepian sungai yang mengelola penyeberangan). Menurut Supriyo dalam Risetnya (2017), dari 56 titik lokasi panambangan (pelabuhan penyeberangan) yang disebut dalam Prasasti Canggu, 17 titik lokasi desa di antaranya ada di Lamongan.

Titik titik desa itu dapat dilokasikan dengan tepat atau setidaknya dihipotesiskan berada di tempat-tempat tertentu pada sub-DAS (Ů‹Daerah Aliran Sungai) Hilir Bengawan Solo dan Bengawan Jero dalam wilayah Kabupaten Lamongan.

Adapun desa panambangan sungai yang disebut dalam prasasti Canggu dan masuk wilayah Lamongan meliputi Sambo (Desa Sambopinggir), Balawi (Desa Blawi), Katapang (Desa Ketapangtelu), yang semuanya masuk wilayah Kecamatan Karangbinangun.

Lalu Kamudi (Desa Kemudi, Kecamatan Duduksampeyan, Gresik, atau Desa Kepudibener, Kecamatan Turi, Lamongan). Kemudian Parijik (Desa Prijek, Kecamatan Karanggeneng), Pagaran (Desa Jagran, Kecamatan Karanggeneng).

Serta Parung (Desa Parengan, Kecamatan Maduran), Pasiwuran (Siwuran, Maduran), Kedal (Desa Kendal/Kedalon, Kecamatan Sekaran), dan Bhangkal (Kebalan Besur, Kecamatan Sekaran).

Lebih jauh Supriyo menyebutkan, kalau sebagian Naditira ini disinyalir tak hanya masuk Lamongan, tapi juga sebagian wilayah Gresik yang masih terhubung dengan Lamongan, seperti Lowayu, Pabulangan, Waringin wok, dan Majapura.

“Nama nama desa di Lamongan masa sekarang tersebut diduga kuat masih ada kaitannya dengan nama-nama desa ‘Naditira Pradesa’ yang disebut dalam prasasti Canggu yang dikeluarkan oleh Raja Hayam Wuruk pada tahun 1358 M,” paparnya.

Tak cukup itu, tambah Supriyo, prasasti Canggu ini juga sebagai bentuk penghargaan kepada desa-desa tersebut karena kala itu masyarakatnya sangat ramah terhadap alam dan bumi yang mereka pijak, yang dilalui bengawan besar bernama Bengawan Solo.

Lebih rinci, kata Supriyo, desa-desa penambangan atau penyeberangan yang mendapat penghargaan tersebut telah melayani penyediaan transportasi antar kedua sisi sungai secara gratis.

Sehingga, sebagai gantinya Majapahit memberikan hak Sima Swatantra kepada desa-desa tersebut berupa mendapat pengurangan pajak dan diperbolehkan mengelola pajaknya sendiri, semisal terhadap terhadap orang-orang asing seperti Keling, Arya, Campa, Sinhala, China, Karnataka, dan lainnya yang berdagang di wilayah desa Sima tersebut.

“Desa-desa panambangan ini mendapat penghargaan raja (Hayam Wuruk) kala itu, dan nama-namanya diabadikan dalam piagam penyeberangan (ferry charter) berupa prasasti yang berbentuk lempengan tembaga bernama Prasasti Canggu atau Trowulan 1,” terangnya.

Masih kata Supriyo, Bengawan Solo ini dulunya pernah dinamakan Bengawan Wulayu. Nama Wulayu diambil dari sebuah desa tepian bengawan yang terhitung paling dekat dengan hulu sungai. Wulayu berada di wilayah yang sekarang masuk administrasi kabupaten Surakarta, Jawa Tengah.

“Desa-desa sebagaimana tercatat dalam prasasti ini masuk kategori desa-desa kuno. Diukur dari segi usia, keberadaan mereka sudah lebih dari 664 tahun. Di tempat-tempat inilah, kala itu, sudah menjadi tempat berlangsungnya aktivitas budaya dan peradaban manusia,” pungkasnya.[riq/kun]


Apa Reaksi Anda?

Komentar