Politik Pemerintahan

Jalan Brawijaya Kota Mojokerto Akan Disulap Jadi Kawasan Tabebuya

Jalan Brawijaya di Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto.

Mojokerto (beritajatim.com) – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mojokerto akan mengganti pohon di Jalan Brawijaya di Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto dengan pohon Tabebuya. Ini dilakukan lantaran buah dari pohon Bintaro yang ada di Jalan Brawijaya rawan mengenai pengendara jalan jika menimpa pengendara jalan.

Plt Kepala DLH Kota Mojokerto, Amin Wachid mengatakan, penggantian pohon Bintaro dengan pohon Tabebuya Setelah ada aspirasi dari masyarakat dan Dewan Pimpinan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Mojokerto. “Aspirasi dari masyarakat dan teman-teman dewan agar pohon yang ada di Jalan Brawijaya kalau bisa diganti dengan yang tidak ada buahnya,” ungkapnya, Selasa (16/2/2021).

Meski diakui pohon Bintaro merupakan pohon yang rindang sepanjang tahun. Memiliki tinggi hingga 12 meter, buah pohon Bintaro berbentuk lonjong mirip telur dengan panjang 5 sampai 10 cm. Buah pohon Bintaro berwarna hijau dan jika sudah matang akan berwarna merah tua. Buah pohon Bintaro dipercaya bisa mengusir tikus dan masuk jenis tanaman beracun yang bisa dimanfaatkan.

“Buahnya bagus untuk mengusir tikus tapi tidak ideal untuk ditanam di pinggir jalan, kalau buahnya jatuh akan menimpa pengendara yang lewat. Meski daunnya memang cukup rindang. Kita coba upayakan nanti di bulan April, kita ganti pohon Bintaro yang ada di Jalan Brawijaya dengan pohon yang tidak ada buahnya. Yakni dengan pohon Tabebuya, Tabebuya itu jenis pohon tapi berbunga seperti yang ada di Surabaya keren,” katanya.

Jalan Brawijaya di Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto.

 

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Mojokerto ini menjelaskan, tidak ada penentuan jenis pohon yang ditanam di pinggir jalan. Namun diharapkan pohon yang ditanam di pinggir jalan rindang dan tidak membahayakan pengendara jalan. Menurutnya, ada tiga syarat pohon yang bisa ditanam di pinggir jalan sesuai Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

“Ada 3 syarat dari Kementerian LH dan Kehutanan, sebagai resapan, berfungsi rindang dan tidak membahayakan pengendara. Pohon Bintaro ini menurut kami dan masukkan teman-teman dewan dan masyarakat buahnya juga membahayakan. Kami upayakan dengan pohon mengganti dengan pohon Tabebuya secara bertahap, insya Allah bulan April,” ujarnya.

Amin menambahkan, DLH Kota Mojokerto saat ini memiliki 50 pohon Tabebuya dengan tinggi 1 meter bantuan dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas. Meski diakui pohon Tabebuya yang memiliki beberapa warna bunga ini cukup lama berbunga yakni dua tahun. Namun jika sudah berbunga, selain rindang karena termasuk kategori pohon besar dan tingginya bisa mencapai lebih dari empat meter juga cantik.

“Kita ada bantuan 50 pohon Tabebuya dari BBWS. Sepanjang Pertigaan Penarip sampai Jalan RA Kartini mudah-mudah bisa ditanam Tabebuya. Kalau sudah berbunga bagus. Satu sisi sebelah kanan, kiri akan ditanam pohon Sono. Jalan Brawijaya akan kita jadikan kawasan Tabebuya. Secara bertahap bulan April kita tanam pohon Tabebuya tapi memang butuh waktu untuk melihat hasilnya,” jelasnya. [tin/ted]


Apa Reaksi Anda?

Komentar