Politik Pemerintahan

Wawancara dengan Rio Prayogo, Direktur Eksekutif PRC

Isu Rekom Rakyat Gagal Kalahkan Kelas Menengah dalam Pilkada Jember

Jember (beritajatim.com) – Politika Research and Consulting (PRC) menjadi satu-satunya lembaga sigi yang berani meramalkan calon bupati petahana Faida akan tumbang dalam pemilihan kepala daerah di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Padahal banyak orang memperkirakan Faida terlalu kuat untuk dikalahkan.

“Kalau melihat peta elektoral dalam survei yang kami sajikan, ada peluang besar Jember akan dipimpin orang baru,” kata Direktur Eksekutif PRC Rio Prayogo, usai presentasi hasil sigi pilkada di Kafe MyWay, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Sabtu (5/12/2020).

Dannis Barlie Halim, legislator Partai Nasdem di DPRD Jember, mengatakan, hasil jajak pendapat yang dilakukan PRC memompa semangat tim pemenangan pasangan Hendy Siswanto dan Firjaun Barlaman. “Awalnya kami meraba-raba dengan asumsi bahwa petahana sangat kuat. Alhamdulillah, dengan survei kemarin, kami jadi melek informasi pemetaan di Jember bahwa kami bisa merebut kemenangan dan tahu titik-titik mana yang harus diperbaiki,” katanya.

Hasilnya, hitung cepat Lingkaran Survei Indonesia Denny JA menempatkan Hendy-Firjaun sebagai pemenang dengan keunggulan jumlah suara telak. Mereka memperoleh dukungan 47,95 persen. Sementara calon bupati petahana Faida yang berpasangan dengan Dwi Arya Nugraha Oktavianto mendapat dukungan sebanyak 30,41 persen dan pasangan Abdus Salam – Ifan Ariadna mendapat suara 21,64 persen.

Beritajatim.com mewawancarai Rio untuk menjelaskan lebih lanjut analisis politik atas kekalahan Faida dan kemenangan Hendy, Sabtu (12/12/2020). Berikut petikannya.

Beritajatim (BJ): Bung Rio, prediksi Anda bahwa petahana tumbang dalam pilkada Jember kali ini terbukti. Bagaimana analisisnya?

Rio Prayogo (RP): Sejak awal, sebagai peneliti yang bekerja dalam dunia kontestasi politik, saya menyadari betul betapa rintangan yang dihadapi Bupati Faida sangat lebar. Kekurangan beliau selama memerintah Kabupaten Jember banyak sekali dan ini bisa jadi titik tembak para pesaingnya.

Analisis saya ini berangkat secara longitudinal, dari bacaan survei tingkat kepuasan kinerja pemerintahan Faida yang cenderung tidak memuaskan. Tahun 2018, tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja pemerintahan Faida-Abdul Muqiet Arief hanya 50,5 persen. Sangat rendah untuk petahana.

Dari situ saya sudah yakin betul, kalau Faida tidak bisa mengubah kinerjanya dan gagal membangun kepercayaan di lingkungan pegawai negeri sipil, maka akan mudah dikalahkan pada pemilihan kepala daerah periode berikutnya.

BJ: Tapi bukankah sebagai petahana, Faida punya basis massa?

RP: Ya, Faida dari dulu punya modal 30 persen pemilih, yakni kaum dhuafa, yang dalam bacaan survei dikategorikan masyarakat berpendidikan rendah dan berpendapatan rendah. Itu modal Faida sejak Pilkada Jember 2015. Namun Faida tidak pernah beranjak memperbaiki posisinya dalam kategori demografi pemilih menengah ke atas. Dia memilih terus berhadap-hadapan dengan kelompok masyarakat kelas menengah.

Pertarungan Pilkada Jember 2020 adalah pertarungan kelompok masyarakat kelas menengah dan civil society berhadapan dengan petahana. Kelompok kelas menengah ini bukan elite politik. Mereka antara lain pengusaha, guru, aparatur sipil negara, tokoh-tokoh masyarakat, lembaga-lembaga non pemerintah, jurnalis-jurnalis yang kritis, dan lain-lain. Mereka banyak sekali yang kritis terhadap pemerintahan Faida. Ada yang diam, ada yang berani bicara seperti Gus Saif (KH Saiful Rijal, salah satu tokoh NU). Merekalah yang ikut menentukan Faida bisa tumbang di Jember.

Kelompok kelas menengah ini punya jejaring ke atas dan ke bawah. Bahasa sederhananya, mereka adalah kelompok yang punya simpul massa. Selama penantang Faida bisa memainkan isu di kelompok kelas menengah, maka akan ada banyak instrumen untuk menyampaikan isu itu ke kelas bawah.

Jadi secara umum, kemenangan Haji Hendy ini adalah kemenangan yang didukung pertarungan kelas menengah itu. Memang sebagian kelas menengah ini ada yang jadi bagian tim kampanye Hendy. Tapi mereka akan tetap meneriakkan kritik anti Faida sekalipun tanpa memakai atribut tim Hendy dan Salam. Ini poin terpenting.

BJ: Mengapa kelompok kelas menengah berseberangan dengan petahana?

RP: Kelas menengah memiliki kemampuan kognitif menilai kebijakan-kebijakan Bupati Faida dan gaya kepemimpinan petahana yang kontroversial. Misal kebijakan soal KSOTK (Kedudukan Susunan Organisasi dan Tata Kerja), atau kebijakan bantuan sosial seperti kongres-kongres yang dianggap hanya untuk kepentingan politik petahana dan kelompoknya.

Sisi lain, gaya komunikasi Bupati Faida yang non kompromistis membuat agenda-agenda kerakyatan seperti APBD terhambat. Kelas menengah melihat rakyat jadi korban dan ini membuat kelas menengah jadi kritis.

Belum lagi masalah ketidakpercayaan aparatur sipil negara terhadap Bupati Faida. Dalam survei kami, jelas ASN mengalami distrust kepada pemimpinnya hingga angka hampir 90 persen. Itu menunjukkan  bahwa di lingkungan birokrasi Faida sendiri tidak kondusif. Dia tidak dapat support moral dari bawahannya. Mungkin ini karena gaya kepemimpinan Bupati Faida. Padahal ASN ini dianggap tokoh dalam kultur masyarakat Madura dan Jawa di lingkungan pedesaan.

Hendy – Firjaun

BJ: Begitu krusialkah peran kelas menengah terdidik ini?

RP: Ya, karena pasca pertarungan merebut rekomendasi partai, pertarungan pilkada adalah pertarungan di level tempat pemungutan suara. Yang bisa memobilisasi grass root atau kelompok kelas bawah adalah mereka yang berada di kelas menengah.

Variabel utama pertarungan pilkada tetap pada bagaimana pengelolaan isu dan narasi di level masyarakat kelas menengah. Kelompok elite politik dan kelompok kelas menengah adalah pemilik narasi ini. Perjuangan teman-teman civil society yang selama ini ada di blok kritis terhadap Pemkab Jember punya porsi dominan.

Selain itu, anggota DPRD Jember relatif baru, sehingga lebih berani mengkritik kebijakan bupati. Dewan layak diapresiasi, karena benar-benar ingin membuktikan kepada rakyat bahwa petahana secara hukum administrasi dalam penyelenggaraan kepemimpinan di level lokal tidak layak dipilih lagi.  Dinamika yang dihadirkan Dewan sudah mampu menguras energi Faida yang tengah berupaya memberikan alasan logis kepada publik kenapa dia layak dipilih lagi.

Dinamika politik di Jember ini dipotret dan diinternalisasi kelompok kelas menengah, sehingga bisa disampaikan ke kelompok masyarakat akar rumput. Segala dinamika handicap kebijakan Faida, dinamika dengan Dewan, kritisisme luar biasa dari civil society seperti teman-teman NGO dan teman-teman jurnalis, memiliki peran sangat besar terhadap sampainya pesan kepada akar rumput atau kelas bawah. Isu kritis itu tidak hanya di kawasan perkotaan, tapi juga dibawa ke level grass root. Dengan perkembangan teknologi informasi saat ini, informasi politik mudah tersampaikan melalui media sosial.

BJ:Sebelum pilkada, sempat ada wacana sebelas partai parlemen bersatu untuk memunculkan satu pasangan calon penantang, karena ada anggapan bahwa petahana hanya bisa dikalahkan dengan cara head-to-head. Bagaimana melihatnya?

RP: Sejak dulu saya katakan, ini tidak ada urusan dengan head-to-head atau ada lebih dari tiga pasang calon. Saya tetap berkeyakinan bahwa sekalipun ada tiga atau empat calon bupati, petahana akan tetap jadi titik tembak. Apapun kondisinya, cerita pertarungan petahana di mana pun hanya ada satu: penantang mengkritik kebijakan petahanan. Kemudian petahana mempertahankan posisinya dengan meyakinkan publik bahwa dia masih layak dipilih kembali. Pertarungan narasi itu yang terjadi.

BJ:Oke, itu dari satu aspek. Bagaimana dengan aspek dua calon bupati penantang petahana?

RP: Sebenarnya mesin politik penantang Faida terlambat panas. Mereka lebih bermain isu-isu di luar antitesis kebijakan Faida. Mereka lebih memainkan isu-isu yang jauh dari isu yang sedang diperbincangkan kelas menengah.

Contohnya, sejak awal Hendy Siswanto memainkan isu kemiskinan. Bahkan Salam memainkan isu generasi milenial. Itu membuat mesin akhirnya kurang panas, karena isu yang dikonstruksi jauh dari yang diperbincangkan di kelas menengah.

Bahwa ekonomi sedang tidak baik, itu memang benar. Tapi kelas menengah tidak sedang membicarakan itu. Kelas menengah sedang membicarakan gaya kepemimpinan Bupati Faida. Gaya komunikasi bupati petahana. Gaya bagaimana manajerial pemerintahan seolah-olah keluar dari kebiasaan, sehingga menimbulkan distrust, konflik, dinamika politik, dan lain-lain. Itu tidak dimainkan oleh penantang. Mungkin ada perhitungan lain. Tapi saya membacanya di situ mesin agak telat panasnya, sehingga handicap itu tidak dijadikan titik tembak para penantang.

Kalau saya katakan, calon bupati penantang bermain save. Tak hanya Pak Hendy. Tapi juga semua calon, sehingga seolah-olah dalam pilkada Jember, petahana dianggap paling kuat hingga detik akhir, sebelum ada perubahan peta sedemikian massif.

Saya baca cerita panggung teman-teman Lingkaran Survei Indonesia Denny JA bahwa H-2 minggu saja, survei mereka menunjukkan Hendy masih tetinggal 12 persen dari petahana. Bahkan informasi yang saya dengar dari satu lembaga lagi yang disewa Hendy Siswanto, menyebutkan selisih 17 persen untuk petahana. Itu mengonfirmasi pendapat saya bahwa mesin ini kurang panas.

Teoritis, H-2 minggu sebelum pemungutan suara, ada yang disebut magic number 10 persen. Jika selisih di atas 10 persen, rasanya sulit untuk berubah.

BJ: Kalau begitu kok bisa Hendy Siswanto akhirnya menang telak?

RP: Salah satu momentumnya ada pada perubahan kepemimpinan dari Bupati Faida ke Wakil Bupati Abdul Muqiet sebagai pelaksana tugas selama masa kampanye. Perubahan itu menjadi salah satu keuntungan elektoral yang didapatkan Haji Hendy.

Keberanian Kiai Muqiet untuk melaksanakan keputusan gubernur dan Mendagri terkait KSOTK dengan mengembalikan posisi sejumlah pejabat sebelum mutasi 3 Januari 2018, memberikan satu konfirmasi kepada ASN untuk kembali percaya diri. Temuan dalam survei kami waktu itu menyebutkan, kelompok yang lebih besar belum menyatakan sikap atau merahasiakan pilihannya adalah ASN.

Kita akui bahwa tidak semua ASN ini mendukung keputusan ini. Tapi keberanian politik ini kemudian diapresiasi covil society. Kita bisa melihat selebrasi politik DPRD terhadap keputusan itu, dan bagaimana apresiasi civil society mengkapitalisasi itu untuk men-down grade terus elektabilitas petahana. Kita lihat bagaimana apresiasi jurnalis kritis untuk terus mengabarkan ke masyarakat Jember bahwa selama ini apa yang mereka teriakkan direspons gubernur dan menteri. Kapitalisasi ini memberi kepercayaan diri kepada ASN yang selama ini tidak percaya kepada Bupati Faida dan kemudian menjadi kekuatan baru, isu baru.

BJ: Tapi kenapa Hendy lebih bisa mengkapitalisasi narasi itu daripada Salam?

RP: Ini karena Hendy sudah membangun gerakan politik pilkada sedari awal. Selain itu harus diakui Gus Firjaun yang mewakili kultur NU bisa memberikan kontribusi elektoral atau meyakinkan kepada masyarakat, bahwa mereka adalah bagian kultural dari masyarakat Jember yang berbasis NU.

Ketika Faida turun terus, sementara elektabilitas Haji Hendy lambat naiknya tapi masih lebih baik dari pasangan Salam dan Ifan, kelompok amsyarakat menjadi rasional untuk menjatuhkan pilihan ke Hendy.

BJ: Tapi bukankah petahana yang berangkat dari jalur independen selalu mengkapitalisasi jargon ‘rekom rakyat versus rekom partai’?

RP: Itu pilihan narasi yang dibangun tim Faida untuk menghadapkan rakyat dengan wakilnya di parlemen. Rakyat yang memberi rekom kepada petahana adalah rakyat yang juga memberikan suara untuk wakilnya di parlemen, dan hari ini petahana sedang ingin menggugat keberadaan wakil rakyat di DPRD atau partai dengan cara membuat narasi besar ‘rekom rakyat versus rekom partai’.

Dia ingin mendegradasikan partai, ingin menunjukkan ke masyarakat, bahwa partai itu buruk, berorientasi uang, dan tidak berdaya ketika dihadapkan dengan rakyat. Tapi sekali lagi, saya sudah katakan sejak September, peluang keterpilihan independen sangat kecil dan trennya terus menurun.

Mengapa? Ini karena independen hanya berbekal semangat anti partai. Sementara partai memiliki struktur ke level paling bawah. Katakanlah partai tidak bekerja dengan baik, tapi setidaknya partai punya struktur yang kapan saja mesinnya bisa dihidupkan. Apalagi mesin itu dikasih oli bernama rekom rakyat. Ini oli penyemangat, oli pembakar mesin partai untuk bekerja.

Anda bisa lihat, di barisan pendukung Hendy-Firjaun ada anggota DPR RI dari Nasdem Charles Meikyansah, ada Gus Muhammad Fawait, legislator DPRD Jatim dari Gerindra yang menjadi pemilik suara terbesar saat pemilu kemarin. Tentu mereka tidak akan membiarkan marwah partainya dilahap habis oleh isu itu.

Menurut saya, itu narasi jebakan buat petahana yang seolah-olah dengan rekomendasi dukungan 140 ribu sekian orang warga Jember, dia sudah bisa melanggengkan kekuasaanya. Dia tidak sadar bahwa narasi itu pertarungan antara mesin yang sudah siap dengan mesin yang baru dirakit.

Jadi variabel kemenangan Hendy Siswanto dan Gus Firjaun adalah gerakan civil society yang massif dan terus menghabiskan pertahanan petahana dan isu ‘rekom rakyat versus rekom partai’ yang tidak bisa diterima teman-teman partai politik. [wir/ted]


Apa Reaksi Anda?

Komentar