Politik Pemerintahan

Islam Tradisional di Timur, Nasionalisme di Tengah, Islam Modernis di Barat (1)

Ainur Rohim Penanggung Jawab beritajatim.com dan Ketua PWI Jatim

Surabaya (beritajatim.com) – Hasil pemilihan umum (Pemilu) sepanjang Orde Reformasi (1999, 2004, 2009, 2014, dan 2019) memperlihatkan karakter politik khas vis a vis Pemilu 1955, pemilu pertama setelah Republik Indonesia (RI) merdeka. Khususnya, hasil kontestasi politik nasional di empat provinsi di Pulau Jawa: Jatim, Jateng, Jabar, dan DKI Jakarta.

Apa karakter politik yang khas tersebut? Dominasi kekuatan politik berlatar Islam Tradisional di kawasan Jatim, Nasionalisme Soekarnoisme di Jateng, dan Islam Modernis di Jabar dan DKI Jakarta. Kalau pun terjadi pergeseran politik, titik perubahan politiknya tak bersifat ekstrim.

Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), wadah politik komunitas Islam Tradisional, seringkali memenangkan pemilihan umum legislatif (Pileg) di Jatim: Pemilu 1999, 2004, dan 2014. Di Pileg 2009 Jatim dimenangkan Partai Demokrat dan hasil Pileg 2019 PDIP kali pertama menang tipis via a vis PKB di provinsi berpenduduk 38 juta jiwa ini.

Di Jateng, provinsi yang berpenduduk sekitar 33 juta, kekuatan Nasionalisme Soekarnoisme (PDIP) secara istiqomah selalu memenangkan Pileg sejak Orde Reformasi. Jateng menjadi kandang politik paling kuat bagi PDIP sepanjang Orde Reformasi dibanding 33 provinsi lainnya di Indonesia. Tapak politik Golkar yang dominan di Jateng di era Orde Baru, satu di antaranya ditandai program dan kampanye Kuningisasi di era Gubernur Suwardi, tak tampak bekasnya secara signifikan di era Orde Reformasi.

Begitu pun dengan Jabar dan DKI Jakarta. Di dua wilayah ini, kekuatan Islam Modernis, di Pemilu 1955 direpresentasikan Partai Masyumi pimpinan Dr Moh Natsir, dan era Orde Reformasi tergambarkan pada PKS, menjadi kekuatan penting di Jabar dan DKI Jakarta. Gubernur Jabar Ahmad Heryawan (Aher) adalah politikus senior PKS dan 10 tahun memimpin provinsi berpenduduk 49 juta jiwa tersebut.

Begitu pun dengan M Anis Baswedan naik ke tampak kekuasaan sebagai orang pertama di DKI atas dukungan PKS dan Partai Gerindra. Sekali pun Anis Baswedan tak terlibat dalam politik praktis kepartaian, keluarga besar orang pertama di DKI Jakarta ini memiliki relasi historis, kultural, sosiologis, dan politik yang panjang dengan kekuatan Islam Modernis di Indonesia.

Hasil Pemilu 1955 menempatkan Partai Nasional Indonesia (PNI), kekuatan kaum Nasionalisme-Soekarnoisme, Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) sebagai kekuatan komunitas Islam Modernis, Partai Nahdlatul Ulama (NU) sebagai wadah berpolitik kaum sarungan Islam Tradisional, dan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang mewadahi kaum ateis dan Sosialisme Ekstrim, kekuatan politik Kiri di Indonesia, menjadi empat kekuatan politik besar di Indonesia modern.

Pemilu 1955 mencatatkan banyak kejutan, di antaranya lonjakan suara Partai NU yang sangat signifikan, sehingga kekuatan politik ini menaikkan jumlah wakilnya di parlemen dari 8 kursi menjadi 45 kursi. Kejutan politik lain adalah kecilnya suara Partai Masyumi khususnya di Jateng dan Jatim: dua wilayah yang menjadi lumbung suara PNI, Partai NU, dan PKI. Dan Partai Sosialis Indonesia (PSI) yang tak bisa berbicara banyak. Partai yang didirikan Sutan Syahrir ini memperoleh 753.191 suara atau setara dengan 5 kursi di parlemen. Padahal, sebelumnya PSI memiliki 14 kursi di parlemen. PSI menempati posisi kedelapan hasil pemilu pertama sejak Indonesia merdeka tersebut.

Kajian Herbert Feith (1999) tentang Pemilu 1955 menunjukkan, PNI sebagai pengumpul suara terbanyak dengan 8.434.653 suara atau 22,3 persen, setara dengan 57 kursi di parlemen. Partai Masyumi di posisi kedua dengan 7.903.886 suara atau 20,9 persen, setara dengan 57 kursi di parlemen. Partai NU mendapatkan 6.955.141 suara atau 18,4 persen, setara dengan 45 kursi di parlemen dan menempati ranking ketiga. PKI di posisi keempat dengan raihan 6.179.194 suara atau 16,4 persen, setara 39 kursi di parlemen.

“Kekuatan tiga dari empat partai besar terpusat di sejumlah wilayah kecil saja. PNI memperoleh 85,7 persen suara untuk parlemen dari Pulau Jawa. Partai NU mendapat 85,6 persen dan PKI dengan 88,6 persen suara dari pemilih di Pulau Jawa. Sementara itu, penduduk Jawa tak lebih dari 66,2 persen dari penduduk Indonesia. Lebih khusus lagi, kekuatan ketiga partai itu terpusat di dua daerah pemilihan, yakni Jatim dan Jateng. Di wilayah ini, yang dihuni 45,1 persen penduduk Indonesia, PNI memperoleh 65,5 persen dari seluruh suaranya, NU dengan 73,9 persen, dan PKI dengan 74,9 persen dari seluruh suaranya,” kata Herbert Feith dalam kajiannya yang kemudian dibukukan: Pemilu 1955 di Indonesia (1999).

Karena itu, tak berlebihan sekiranya disimpulkan bahwa ketiga partai di atas ditempatkan sebagai Partai Jawa: Partai yang sebagian besar pemilih dan pendukung politiknya berada dan bermukim di Pulau Jawa. Sedang Partai Masyumi sebagian besar pendukung politiknya berada di luar Pulau Jawa, terutama di Pulau Sumatera dan Sulawesi.

Sekiranya kita elaborasi lebih dalam dan mendetail, kita akan menemukan data politik bersifat presisi yang menunjukkan bahwa kekuatan Islam Tradisional adalah realitas politik dominan di Jatim, kaum Nasionalisme Soekarnoisme mengakar kuat di Jateng dan Islam Modernis kental pengaruhnya di Jabar dan DKI Jakarta.

Data hasil Pemilu 1955 menunjukkan, Partai NU tampil sebagai pemenang di daerah pemilihan Jatim dengan raihan 3.370.554 suara, posisi kedua ditempati PKI dengan 2.299.602 suara, PNI di tempat ketiga dengan 2.251.069 suara, dan Partai Masyumi dengan 1.109.742 suara. Di Jatim, Masyumi, kekuatan Islam Modernis, pengaruh dan dukungan politik yang diraihnya sekitar 33 pesren dibanding kekuatan Partai NU, kekuatan utama Islam Tradisional di Indonesia.

Bagaimana dengan potret peta politik Jateng di Pemilu 1955? PNI tampil sebagai kekuatan politik utama dan pertama dengan raihan 3.019.568 suara, PKI di tempat kedua dengan 2.326.108 suara, Partai NU di posisi ketiga dengan 1.772.306 suara, dan Partai Masyumi di tempat keempat dengan raihan 902.387 suara.

Di daerah pemilihan Jabar pada Pemilu 1955, kekuatan Islam Modernis yang direpresentasikan Partai Masyumi meraih suara terbanyak dengan 1.844.442 suara, PNI di posisi kedua dengan 1.541.927 suara, PKI ranking di ketiga dengan 755.643 suara, dan Partai NU di tempat keempat dengan 673.466 suara.

Idem di Jabar, DKI Jakarta menjadi daerah pemilihan yang dimenangkan Partai Masyumi dengan raihan 200.460 suara, PNI di tempat kedua dengan 152.031 suara, Partai NU di posisi ketiga dengan 120.667 suara, dan PKI di tempat keempat dengan 96.363 suara.

Yang penting dicatat dalam konteks ini adalah kekuatan PKI adalah yang kedua terbesar di Jateng dan Jatim. Di Jatim, PKI di bawah kekuatan Islam Tradisional (NU) dan di Jateng di bawah partai berpaham Nasionalisme Soekarnoisme (PNI). Kedua provinsi tersebut pada Pemilu 1955, jumlah pemilihnya sangat besar dibanding daerah pemilihan lainnya (Dapil) di Indonesia, termasuk dapil Jabar dan DKI Jakarta. [air/bersambung]



Apa Reaksi Anda?

Komentar