Politik Pemerintahan

Irfan Anshori, Wartawan LKBN Antara Pimpin PWI Blitar Raya

Blitar (beritajatim.com)—Irfan Anshori, wartawan LKBN Antara, terpilih sebagai Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Blitar Raya periode 2020-2023, Sabtu (21/11/2020) siang, dalam konferensi yang digelar PWI setempat.

Kegiatan konferensi berlangsung di Rumah Joglo Djatimalang di Kota Blitar, yang dihadiri 24 anggota PWI Blitar Raya. Hadir pula sejumlah pengurus PWI Jatim, di antaranya: Ainur Rohim (Ketua), Machmud Suhermono (Wakil Ketua Bidang Organisasi), dan Teguh LR (Bendahaara).

Irfan terpilih sebagai ketua PWI Blitar Raya setelah dalam pemilihan secara voting mengumpulkan 12 suara. Kompetitornya Arif Juli (Koran Memo) dengan 6 suara, Hartono (Bhirawa) dengan 4 suara, dan 2 suara lainnya dinyatakan tak sah.

“Ada sejumlah program yang akan saya kerjakan dalam masa kepengurusan 3 tahun ke depan. Satu di antaranya menyelesaikan keanggotaan PWI semua anggota sesuai ketentuan PD dan PRT PWI. Selain tentu program penguatan kapasitas dan kompetensi anggota,” tegas wartawan LKBN Antara yang lama sebagai wartawan di Provinsi Papua ini.

Ketua PWI Jatim, Ainur Rohim, mengingatkan pengurus dan anggota PWI Blitar Raya untuk menjaga nama baik organisasi PWI dan marwah profesi ini. “Yang penting lagi, semua pengurus dan anggota PWI Blitar Raya harus kompak dan jangan sampai timbul perpecahan setelah konferensi ini,” ingatnya.

Ainur mengutarakan, iklim kompetisi media massa dalam beberapa tahun dan ke depan makin berat. Pola kompetisi media massa berubah. Model kompetisinya tak lagi media massa versus media massa. Tapi, media massa versus media sosial.

“Sekadar Anda tahu saja bahwa pengguna media sosial aktif dengan perangkat mobile di Indonesia per Januari 2020 mencapai 166 juta pengguna. Itu angka sangat besar,” ungkapnya.

Lebih lanjut dikatakan Ainur, yang dibutuhkan wartawan di era kekinian selain luas dan dalam pengetahuan yang diperlukan untuk memproduksi berita yang presisi dan berkualitas, tak kalah penting adalah terus melakukan inovasi dan improvisasi dalam perspektif marketing bisnis.

“Semua platform media massa proses produksi jurnalistiknya nyaris sama, tak ada perbedaan tajam. Khusus di media daring jurnalistik, marketing bisnisnya jauh lebih rumit dan kompleks dibandingkan platform media massa lainnya,” katanya.

Hal lain yang ditekankan Ainur adalah semua media mengemban fungsi dan peran sebagai instrumen pendidikan dalam perspektif nonformal dan informal kepada publik. Karena itu, informasi yang diproduksi dan disuguhkan kepada publik harus sehat dan mencerdaskan. Dalam konteks ini, di media massa dibutuhkan mekanisme klarifikasi, verifikasi, dan konfirmasi secara istiqomah dan terus-menerus.

“Tiga proses itu yang tak ada di media sosial, sehingga informasi di media sosial sulit dicek validitas dan presisinya. Tak jarang akibat penyebaran informasi lewat media sosial mengakibatkan kegaduhan sosial yang berujung di lembaga hukum. Pola pertanggungjawaban di media sosial adalah individual, sedangkan di media massa bersifat kelembagaan,” tegasnya. [nng/air]





Apa Reaksi Anda?

Komentar