Politik Pemerintahan

Ipong Pertanyakan Komitmen Desa dalam Pelestarian Reyog Ponorogo

Ponorogo (beritajatim.com) – Pagelaran reyog obyok yang digelar setiap sebulan sekali, mulai efektif dilakukan pada bulan Juli ini, tepatnya tanggal 11 Juli lalu. Dalam penyelenggaraan perdana tersebut, ternyata hanya sekitar 80 persen yang mengadakan. Sebagian desa tidak menggelar dengan alasan tidak memiliki sarana maupun personil untuk mementaskan kesenian reyog.

”Saya akan mengklarifikasi desa-desa yang tidak menggelar reyog obyok. Pemkab akan melakukan evaluasi terhadap mereka,” kata Bupati Ipong Muchlissoni, Minggu (21/7/2019).

Ipong menegaskan jika Pemkab tidak mengeluarkan uang kepada desa untuk gelaran tersebut. Instruksi untuk menggelar reyog obyok semata-mata untuk meramaikan dan melestarikan reyog di daerah sendiri. Bagi desa-desa yang tidak menggelar, Ipong lantas mempertanyakan keseriusan mereka, dalam pelestarian kesenian yang sudah menjadi ikon Ponorogo di mata dunia itu.

”Kalau mempunyai niatan melestarikan, harusnya desa yang tidak mempunyai reyog dan peralatannya bisa mengajukan kepada Pemkab,” katanya.

Dia menyebut gelaran reyog obyok setiap sebulan sekali pada tanggal 11 Juli itu rencananya akan digelar sampai akhir tahun. Tahun depan, bupati yang berlatarbelakang pengusaha itu akan mencoba merubah jadwalnya.

Dimana reyog obyok akan dipentaskan setiap pekan, namun secara bergantian. Ambil contoh disatu kecamatan ada 15 desa. Nah, jumlah itu dibagi dalam empat minggu.

”Jadi wisatawan luar daerah atau luarnegeri yang datang setiap minggunya dapat menyaksikan pertunjukan reyog,” pungkasnya.(end/ted)

Apa Reaksi Anda?

Komentar