Politik Pemerintahan

Inilah Pilihan Wakil Ketua PWNU Jawa Timur di Pilpres 2019

Malang (beritajatim.com) – Wakil Ketua PWNU Jawa Timur, KH.Anwar Iskandar menegaskan, memberikan hak pilih dalam Pilpres 17 April 2019 bagi santri dan alumni Pondok Pesantren adalah suatu kewajiban.

Demikian kata Kyai Anwar saat memberikan Tausiyah dalam Istigosah dan Doa Bersama Santri dan Alumni di Pondok Pesantren Ann Nurr 1 Bululawang, Kabupaten Malang, Senin (8/4/2019) sore.

“Alhamdulillah kita bisa hadir dalam silaturahmi hari ini. Sejak tahun 1967, saya ini sudah mondok di Lirboyo. Sementara tingkat kealumnian saya banyak, termasuk di Pesantren Lasem, Sarang juga. Dalam menguatkan silaturahmi hari ini, ada masalah dasar antara kita para santri dengan guru kita masing-masing, ada alaqoh ilmiah, nuraniyah. Antara kita dengan pesantren juga ada alaqoh keterkaitan batin. Dan itu mesti kita pelihara, termasuk hubungan kita dengan guru harus terjaga selamanya,” kata Kyai Anwar Iskandar.

Menurutnya, dalam kontestasi Pilpres tahun ini, NU dan dunia pesantren justru jadi sasaran fitnah dan caci maki. “Hari-hari seperti ini, justru kita alumni pesantren dan santri jadi sasaran fitnah. PBNU juga kena fitnah. Padahal kita ini bukan partai politik. Inilah yang harus disadari seluruh alumni dan santri di pesantren,” bebernya.

Kyai Anwar menjelaskan, dimanapun berada sebagai santri dan alumni, punya tanggung jawab menyelamatkan islam ahlusunnah wal jamaah. Karena di pesantren, ada transformasi ilmu dan nilai soal ahlusunnah. “Siapapun kita baik santri dan alumni Lirboyo, Ploso, Langitan, Sidogiri, meski beda guru dan almamater, tapi kita bertemu dalam satu guru di ahlusunnah wal jamaah. Di dalam pemilu 2019 ini, tanggung jawab besar kita sebagai orang-orang yang dicetak guru-guru kita ahlusunnah. Sehingga, kita harus ikut andil untuk menyelamatkan ajaran yang kita yakini dunia sampai akhirat. Disinilah kita ketemu. Dan di tahun ini, ajaran tersebut mendapat tantangan yang tidak kecil. Salah memilih satu menit saja, resikonya besar. Karena ini menentukan nasib bangsa Indonesia,” tutur Kyai Anwar.

Kata Kyai Anwar, sebagai alumni pesantren, dirinya tidak ridho kalau ajaran ahlusunnah habis dalam satu menit. “Konsen kita di pemilu ini, mikirno keselamatan ahlusunnah wal jamaah. Kalau seluruh santri dan alumni yang hadir saat ini niat ingsun mbelo dan memperjuangkan ahlusunnah wal jamaah, itu seperti ibadah dan jihad fisabilillah. Pemilu tahun ini seperti jihad fisabilillah. Tidak boleh golput, karena kalau golput, ada efek yang ditimbulkan, jadi mesti berangkat memilih dan tidak boleh golput,” pesan Kyai Anwar.

Makna Pilpres pada 17 April 2019, terang Kyai Anwar Iskandar, ada dua hal. Pertama, santri dan alumni pesantren ikut menjaga persatuan dan kesatuan NKRI. Serta, melestarikan paham Aswaja. “Menjaga agama dan menjaga negara bagian dari kewajiban kita yang sudah diberikan Allah SWT pada kita. Salah satu literaturnya, Allah mewajibkan kita menjaga lima prinsip, yakni agama, negara Indonesia, menjaga akal, menjaga keturunan dan menjaga harga diri sebagai orang pesantren, ulama dan NU harus kita jaga. Karena pemilu itu kewajiban. Banyak yang bilang pemilu itu hak politik warga negara. Tapi sesungguhnya, itu kewajiban kita sebagai warga negara. Apabila ini kita pegang, menjadi nilai ibadah mesti bukan ibadah mahdoh. Dan cara pemikiran orang pesantren, ya harus seperti itu. Karena ada rentetannya, mengkonstruksi pemahaman soal pemilu, jangan golput,” tegasnya.

Masih kata Kyai Anwar, karena sosok Cawapres 01 adalah Rais Am dan guru ahlusunah, alumni dan santri pesantren harus mendukung, mengamankan dan memenangkan KH.Makruf Amin selaku guru ahlusunnah. “Disinilah pentingnya sosialisasi. Kita seakan-akan dimanja oleh keadaan. Dimana banyak survey mengatakan paslon 01 diatas angin dan membuat lengah kita, sehingga kita tak berbuat apa-apa. Mulai hari ini, santri dan alumni pesantren harus berangkat, dor to dor sosialisasi. Survey rendah atau tinggi tetap berangkat sosialisasi gak boleh lengah. Optimalisasi ponpes untuk KH.Makruf Amin, dan itu tugas kita mengamankan dawuh kyai-kyai kita. Karena masayikh kita memutuskan yang sudah valid dengan pertimbangan matang, maka keputusan memenangkan paslon 01 sebuah kewajiban. Dengan membuat hujah dan dalil yang masuk akal, kita mengamankan 01 seperti apa yang diputuskan masayikh melalui hujah yang bisa dipertanggung jawabkan,” urai Kyai Anwar.

Ia menambahkan, kalau ada orang NU, ada Rais Am jadi Cawapres, harusnya di dukung penuh. “Kita sebagai santri, jika ada guru kita mencalonkan, apa ya mungkin memilih orang lain. Kan harusnya memilih guru kita. Disinilah alumni dan santri pesantren, wajib mengamankan guru kita yakni KH.Makruf Amin dalam pemilu mendatang,” pungkas Kyai Anwar. [yog/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar