Politik Pemerintahan

Ini Tantangan Wali Kota Surabaya Pengganti Risma

Surabaya (beritajatim.com) – Penghargaan Guanzhou International Award tahun 2018 lalu semakin memantapkan Surabaya sebagai salah satu kota terbaik di dunia. Kementerian PAN-PR bahkan memberikan kepada kota ini penghargaan Top 99 Inovasi Pelayanan Publik (Sinovik) atas prestasinya membuat inovasi-inovasi yang luar biasa dalam pelayanan publik.

Semua pengakuan dari dalam negeri maupun internasional kepada Surabaya ini tak bisa dilepaskan dari figur Wali Kotanya, Tri Rismaharini. Sebagai pemimpin sebuah Kotamadya ia dianggap sebagai Wali Kota terbaik sepanjang sejarah Surabaya, bahkan sebagai Wali Kota terbaik di Indonesia pada saat ini.

Hal tersebut membuat kontestasi Pemilihan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Surabaya pada  2020 menjadi sangat menarik. Partai-partai akan berhitung matang untuk mengusung dan mendukung kontestan yang mereka pilih dalam Pilwali Surabaya kali ini. Dari arus bawah, menurut Wakil Ketua Komunitas Peduli Indonesia (KOMPI) Surabaya, Dedy Mahendra, prestis Kota Surabaya dipertaruhkan dalam Pilwali mendatang.

“Surabaya sudah punya prestasi dalam melakukan 6 in 1, yaitu kemudahan pengurusan online untuk semua dokumen penting seperti akte kelahiran, kematian, pernikahan, perceraian, surat pindah datang dan pindah ke luar. Ini prestasi pelayanan publik yang luar biasa. Sekarang, ada atau tidak calon pemimpin Surabaya yang punya kapasitas membuat inovasi seperti itu? Nah ini tantangan serius yang perlu dipikirkan partai-partai atau pihak independen yang hendak mengajukan calonnya,” kata Dedy.

Dedy melihat, sudah waktunya bagi partai-partai mengedepankan meritokrasi dalam mengajukan calonnya, dan bukan sekadar pengurus partai.

“Meritokrasi ini penting sebagai prasyarat utama dalam mengajukan calon Walikota. Sebab hanya orang yang cakap dan cerdas bekerjalah yang layak maju mencalonkan diri, jangan sekadar punya dana atau mesin politik. Wali Kota mendatang harus bisa lebih baik dari Bu Risma, atau setidaknya mempertahankan prestasi-prestasi beliau. Itu tantangannya,” tegasnya.

Seperti yang dijaring oleh KOMPI, sampai awal Mei ini nama-nama yang muncul di masyarakat sebagai kandidat penerima estafet pembangunan kota dari Bu Risma diisi oleh kombinasi figur birokrat, profesional muda dan politisi.

Nama-nama tersebut antara lain; KH. Zahrul Azhar Asad, yang akrab disapa Gus Hans (Sekjen Jaringan Kiai Santri Nasional), Azrul Ananda (Profesional Muda), Wisnu Sakti Buana (Wakil Wali Kota Surabaya), Dhimas Anugrah (Politisi Partai Solidaritas Indonesia), Eri Cahyadi (Kepala Bappeko Kota Surabaya), Arif Afandi (Profesional), Fandi Utomo (Politisi PKB). [ifw/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar