Politik Pemerintahan

Ini Kata TKN Jokowi-Ma’ruf Tanggapi Survei Litbang Kompas

Surabaya (beritajatim.com) – Jubir TKN Jokowi-Ma’ruf, Garda Maharsi mengomentari survei Litbang Kompas yang menempatkan paslon 01 masih unggul dibandingkan paslon 02.

Survei Litbang Kompas menempatkan paslon 01 masih unggul dengan angka 49,2 persen, ada selisih 11,8 persen dibandingkan dengan paslon 02 sebesar 37,4 persen. “Survei adalah salah satu pendekatan di dalam dunia ilmiah. Survei produk ilmiah yang harus kita hargai dan perdebatkan sebagai karya ilmiah. Di sisi lain, survei sebagai hasil dinamika politik,” katanya.

Bagi pihaknya, hasil survei adalah masukan. Tim 01 selalu menetapkan arah setiap tindakan antara lain dilandasi argumentasi ilmiah. “Hasil survei sebagai korektif action kami. Kalau kami unggul, apa yang harus kami lakukan agar unggul lebih besar lagi. Kalau di satu daerah, hasil survei menyebutkan suara kami tertinggal, kami akan melakukan aksi untuk koreksi bagaimana aksi realitas politik untuk menghasilkan suara lebih baik,” ujarnya.

Tapi, menurut dia, ada satu hal yang berbahaya, yakni jangan sampai hasil survei yang bergulir di masyarakat dan di media sosial menghasilkan argumentasi ekstreme, kemudian berujung pada delegitimasi proses electoral ini.

“Yang kita jaga bersama adalah demokrasinya. Capres hanya partner dalam proses elektoral. Di luar itu, kita berusaha membangun demokrasi berkeadaban. Jangan sampai hasil survei diolah sedemikian rupa, justru menghasilkan argumen yang mendelegitimasi proses elektoral,” tegasnya.

Pengamat Politik dan Direktur Eksekutif Emrus Corner, Emrus Sihombing berpendapat bahwa survei Litbang Kompas perlu didiskusikan. Pada survei September 2018, kenaikan Prabowo 3 persen, Jokowi turun 3 persen.

“Sesungguhnya tidak ada perubahan, karena masih di batas margin of error. Saya kira ini masih data yang menunjukkan tidak ada perubahan di survei Kompas akhir tahun lalu dengan sekarang karena masih di batas margin of error,” jelasnya.

Mengapa suara stuck atau tidak berubah? Dia menduga mesin politik partai belum bekerja maksimal. “Mengapa? Boleh jadi ini timses itu caleg juga di dapil masing-masing. Seharusnya timses jangan caleg, karena logikanya mereka mengutamakan kursi calegnya. Timses yang tidak mencalonkan diri akan lebih maksimal,” tuturnya.

“Saya juga menduga selain swing voters, ada juga swing partai, sudah mendukung salah satu calon, tapi bisa bergeser. Swing partai tidak kerja serius, karena siapapun yang menang bisa bergeser,” imbuhnya.

Kalau dilihat survei Kompas, ternyata masyarakat tidak memberikan respons positif terhadap kampanye paslon. Program belum menarik simpati orang yang belum mengambil keputusan. “Yang mengelola menajemen kampanye secara efektif dan dikelola dengan sangat baik, itulah pemenangnya,” tukasnya.

Pengamat politik Ujang Komarudin menjelaskan, kubu 01 dan 02 adalah bejana berbeda. Ketika satu naik, satunya turun. “Ini analisa sangat simple. Kenapa survei menjadi suatu yang menarik dalam politik? Survei sangat menentukan persepsi dan psikologi masyarakat. Petanaha biasanya secara politik, kemungkinan menang besar. Hal ini bisa membuat timses terlena, ini bahaya. Bagi 01, survei ini untuk menguatkan tim agar tetap mengawal agar angka tidak turun, bagi kubu 02 sebagai penyemangat,” pungkasnya. [tok/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar