Politik Pemerintahan

Pilkada Sidoarjo 2020

Ini Gagasan Gus Muhdlor-Subandi Tangani Banjir Sidoarjo

Sidoarjo (beritajatim.com) – Memasuki musim penghujan di wilayah Sidoarjo, Paslon Nomor 2 dari PKB H. Ahmad Muhdlor Ali (Gus Muhdlor) – H. Subandi memiliki gagasan tersendiri soal penanganan banjir dan penataan lingkungan di Sidoarjo.

Penanganan yang akan dilakukan seperti dalam program yang dicanangkan, meliputi revitalisasi sungai, penyediaan ruang publik bagi masyarakat (taman), ruang terbuka hijau (RTH) sebagai sarana destinasi publik, RTH sebagai ikon Kota Sidoarjo, mempercantik hutan kota dan managemen daur ulang sampah terintegrasi

Soal penanganan banjir, kata Gus Muhdlor, tentunnya yang harus dilakukan adalah merevitalisasi sungai-sungai yang ada di Sidoarjo. Untuk revitalisasi sungai akan diarahkan pada upaya pengerukan secara berkala. Salah satu tujuannya adalah untuk menjadi penampung air kala hujan datang sehingga meminimalisir terjadinya banjir.

Ini dilakukan sebagai upaya untuk mengatasi banjir yang masih sering terjadi ketika musim penghujan datang seperti saat ini. Pengerukan akan dilakukan secara teratur. Tujuannya, agar tingkat kedalaman terjaga sehingga mampu menampung air secara maksimal, khususnya ketika musim penghujan datang.

Pengerukan yang diambilkan dari anggaran APBD, harus sesuai dengan perencanaan yang ada, dan pelaksananya tidak boleh menyalahi aturan. Artinya biaya yang dianggarkan sesuai dengan kebutuhan, dan pelaksana proyek juga menjalankan kewajibannya secara. Jika pengerukan, harus ada bukti tanah lumpur yang dikeruk, diangkut dan ditempatkan sesuai perencanaan.

“Tidak boleh normalisasi sungai dengan sistem jus. Hanya terlihat airnya keruh kalau bekas di keruk, tapi bekas kerukan tidak ada. Sejenis diaduk saja. Maka nanti pelaksana proyek juga kita ajak untuk bekerja lebih baik demi kemajuan dan membangun Kota Sidoarjo,” ucap Gus Muhdlor Sabtu (31/10/2020).

Lanjut dia, sebenarnya sudah waktunya Sidoarjo mempunyai waduk tempat kontrol debit air di kala memasuki musim penghujan. Selain untuk menampung debit air saat musim penghujan, waduk tersebut ketika musim kemarau bisa untuk menjaga pengairan sawah warga agar tetap terjaga tidak sampai kekurangan air. “Jadi waduk itu akan mempunyai fungsi kala musim penghujan maupun musim kemarau,” gagas dia.

Alumnus Unair Surabaya itu menjelaskan, permasalahan banjir di Sidoarjo sebenarnya sudah terjadi lama. Menurutnya, debit air yang meningkat saat musim penghujan tersebut juga disebabkan beberapa hal.

Selain karena faktor curah hujan, juga sebagian besar dampak dari buangan air dari Mojokerto. Sehingga ketidakstabilan debit air yang diterima, serta kurangnya penampungan air dengan debit yang cukup besar, menyebabkan terjadinya banjir di beberapa titik kawasan di Sidoarjo. “Makanya saya dan H. Subandi sudah menyiapkan beberapa rencana. Mulai pembuatan waduk dan lain sebagainya,” tukasnya.

Ia menambahkan, banyak keuntungan yang bisa didapat dengan memiliki embung. Selain penampungan air, embung tersebut secara jangka panjang juga bisa dijadikan sebagai salah satu destinasi wisata di Sidoarjo.

“Jadi intinya, selain normalisasi rutin, perlu dipikirkan juga untuk mulai menyiapkan waduk ini. Banyak sekali manfaat yang bisa didapat termasuk sebagai wisata yang bisa berdampak pada PAD kita,” paparnya.

Direktur Pendidikan Yayasan Pesantren Progresif Bumi Shalawat itu memiliki ide untuk memperbaiki masalah lingkungan. Upaya menyelesaikan masalah lingkungan ini salah satunya adalah membangun sinergitas dengan semua masyarakat untuk mengurangi penggunaan plastik.

Selain itu, juga akan mendorong komunitas-komunitas masyarakat untuk bisa mendaur ulang sampah plastik sehingga bernilai ekonomis. “Pertama, saya akan menggalakan kampanye pengurangan penggunaan plastik. Kedua, akan mendorong komunitas – komunitas di pedesaan untuk bisa mendaur ulang sampah plastik sehingga bernilai ekonomis,” harapnya.

Masih kata putra KH Agoes Ali Masyhuri itu, revitalisasi juga akan didesain untuk menjadikan sungai sebagai ruang rekreasi dan edukasi bagi masyarakat. Ruang rekreasi di sekitar sungai akan diwujudkan dengan membangun ruang terbuka di sekitar sungai yang memiliki lahan kosong.

“Target RTH Masterplan Sidoarjo sebesar 2510,8 hektar dan luasan RTH tahun 2019, seluas 26,5 hektar, dan tidak adanya destinasi serta ikon di Sidoarjo. Pembangunan RTH tersebut nantinya harus bisa diakses oleh semua lapisan masyarakat, termasuk kalangan disabilitas,” pungkasnya. (isa/kun)





Apa Reaksi Anda?

Komentar