Politik Pemerintahan

Pilkada Kabupaten Jember

Ini Faktor Kemenangan Hendy – Firjaun Menurut LSI Denny JA

Hendy - Firjaun

Jember (beritajatim.com) – Hitung cepat terhadap pemilihan kepala daerah di Jember yang dilakukan Lingkaran Survei Indonesia Denny JA memastikan kekalahan calon bupati petahana Faida di tempat pemungutan suara, Rabu (9/12/2020) kemarin.

Faida yang berpasangan dengan Dwi Arya Nugraha Oktavianto hanya mendapat dukungan sebanyak 30,41 persen. Dia dikalahkan pasangan Hendy Siswanto dan Muhammad Balya Firjaun Barlaman yang memperoleh suara 47,95. Mengapa Faida bisa kalah dan Hendy menang?

Rully Akbar, peneliti senior Lingkaran Survei Indonesia Denny JA, mengatakan, hanya ada dua peluang elektabilitas petahana. “Dia bertahan atau turun, karena petahana di semua wilayah tidak ada tracking yang (menunjukkan) bisa menaikkan suara,” katanya.

Jauh-jauh hari, hasil survei LSI Denny JA menunjukkan bahwa tingkat dukungan dan popularitas Faida berada di titik optimal. Sementara calon bupati Hendy Siswanto dan Abdus Salam sama-sama dari nol.

Rully melihat faktor yang mendukung kemenangan adalah kemampuan Hendy untuk menggambarkan perubahan dan menunjukkan bahwa ada tata kelola pemerintahan yang salah selama masa kepemimpinan Bupati Faida. “Musuh besarnya adalah petahana, bukan pasangan calon nomor urut 03 (Abdus Salam dan Ifan Ariadna),” katanya.

Jadi, Hendy berusaha menurunkan suara Faida. “Karena pada awalnya, setahun yang lalu elektabilitas Bu Faida ada pada angka 50 persen lebih. Dan dua calon yang baru ini (Hendy dan Salam) pada angka 0-2 persen,” kata Rully.

Sepanjang perjalanan waktu pilkada, menurut Rully, para penantang berhasil menguras pertahanan Faida. “Mungkin dengan adanya kesalahan-kesalahan besar yang dilakukan Ibu Faida, seperti pemakzulan dan sebagainya. Itu isu yang akhirnya beredar dan muncul. Lalu ada isu jalan rusak, kemiskinan, pengangguran, dan lain-lain,” katanya.

Isu-isu itu membebani Faida sebagai petahana dan mendegradasikan jumlah pemilihnya. “Dia tidak bisa mengembalikan suara itu dengan baik, dan diakumulasi oleh pasangan 02 (Hendy dan Firjaun),” kata Rully.

Isu itu memang menerpa masyarakat perkotaan melalui media sosial dan media arus utama. Masyarakat wilayah pedesaan tak tersentuh isu itu dan mereka adalah basis pendukung petahana. Namun, menurut Rully, gerakan tim pemenangan Hendy dan Firjaun ternyata efektif bergerak di semua wilayah.

“Saya tidak tahu apa saja pergerakan yang dilakukan pasangan 02 (Hendy dan Firjaun), baik misalnya permainan isu atau tim relawan yang mereka buat, kata Rully. Namun hasil hitung cepat LSI Denny JA membuktikan bahwa Hendy dan Firjaun bisa masuk ke semua lini, termasuk perdesaan. Enam daerah pemilihan di Jember, baik pedesaan maupun perkotaan, dikuasai oleh Hendy dan Firjaun.

“Dia bisa mendistribusikan informasi tersebut lewat relawan yang dia susun hingga tingkat TPS. Bisa jadi isu-isu seperti (audit) disclaimer, pemakzulan, KSOTK (Kedudukan Susunan Organisasi dan Tata Kerja), orang seperti nelayan tidak mengerti itu. Mungkin yang bisa menyentuh, baik relawan 02 dan 03 ketika menggerus suara Bu Faida, menggunakan isu-isu yang mengena masyarakat di daerah pemukiman pinggir, misalnya isu pupuk langka, jalan rusak yang membawa korban, bantuan sosial,” kata Rully.

Rully mengatakan, faktor figur penting dalam pilkada. “Identitas partai tidak begitu jadi penguat suara. Yang paling jadi penggerak utama adalah faktor kefiguran. Kalau bicara soal Gus Firjaun, konteks kefigurannya, tidak ada yang mengalahkan jika dibandingkan calon-calon wakil bupati seperti Vian (Dwi Arya Nugraha Oktavianto) maupun Ifan,” katanya.

Sementara kefiguran Hendy dibangun melalui investasi politik dan non politik sebelum maju dalam pilkada Jember. “Saya mendengar ada bantuan masjid, bagi-bagi makanan setiap tahun, dan itu dilakukan tahunan sebelumnya tanpa ada motif pilkada. Orang tahunya yang melakukan itu adalah Rien Collection (nama usaha butik Hendy), bukan Pak Hendy,” kata Rully.

“Ketika timnya bisa memberitahukan bahwa yang memiliki Rien Collection adalah Pak Hendy, maka pemilih yang tadinya tidak kenal Pak Hendy secara langsung tapi sudah merasakan apa yang diberikan Pak Hendy lewat kegiatan sosial, akhirnya merasa ikut punya tanggung jawab personal untuk memberikan dukungan langsung kepada Pak Hendy,” kata Rully.

Muhammad Balya Firjaun Barlaman sebagai calon wakil bupati yang mendampingi Hendy berperan mendongkrak suara. “Gus Firjaun adalah salah satu tokoh ulama yang sangat disegani di Jember,” kata Rully.

Partai Kebangkitan Bangsa dan pengurus struktural NU Jember memang lebih banyak mendukung pasangan Abdus Salam dan Ifan Ariadna. Namun, menurut Rully, basis kultural NU juga banyak yang mendukung Hendy – Firjaun. “Inilah yang menjadi salah satu faktor pendongkrak,” kata Rully.

Bagaimana dengan isu ‘Rekom Rakyat versus Rekom Partai’? Isu ‘rekom rakyat’ selalu menjadi andalan Faida yang berangkat dari jalur perseorangan. “Kalau bicara mengenai ‘rekom rakyat’ dan ‘rekom partai’, memang bisa jadi efektif dilakukan Ibu Faida. Masalahnya, ketika dia banyak menghajar soal rekom partai, dia punya beban masa lalu bahwa pada pilkada sebelumnya juga maju lewat partai. Kecuali dia dari awal (pilkada 2015) maju dari jalur independen dan periode kedua maju lagi dari independen, itu lain hal,” kata Rully. [wir/but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar