Politik Pemerintahan

Mengenal Anarkisme (2)

Ini Dia Beda Anarko-Sindikalis dan Anarkisme Individual

foto/ilustrasi

Jember (beritajatim.com) – Anarkisme dan anarko muncul dalam keterangan pers dari aparat keamanan, terkait penangkapan sejumlah anak muda yang melakukan aksi vandalisme.

Sebelumnya, ‘tindakan anarkisme’ dan ‘aksi anarkis’ banyak digunakan oleh pejabat dan aparat negara untuk menjelaskan kerusuhan dan kekerasan massa.

Teoritis, ada dua jenis anarkisme sebagai ideologi, yakni anarkisme kolektif dan anarkisme individual. Jenis pertama meyakini bahwa tanpa negara, masyarakat bisa membentuk semacam komune-komune atau komunitas-komunitas kecil, informal, yang saling bekerjasama dalam sebuah federasi untuk mengatasi persoalan sosial. Tak ada pemimpin formal dalam komune-komune ini.

Penganut anarkisme kolektif ini mendukung serikat-serikat buruh, organisasi komunitas, dan advokat lingkungan. Mereka sangat kritis terhadap perusahaan dan birokrasi pemerintah.

Kita mengenal sebutan anarko-sindikalisme dalam kelompok ini. Kaum sindikalis percaya, bahwa buruh atau pekerja akan bisa berproduksi lebih banyak, jika menguasai kebijakan di perusahaan atau pabrik. Salah satu tokoh anarkisme, Mikhail Bakunin, mengusulkan perlunya kepemilikan bersama atas alat-alat produksi dan tindakan revolusioner.

Joseph Schumpeter terang-terangan menyebut sindikalisme adalah apolitis dan anti-politik. Menurutnya dalam buku Capitalism, Socialism and Democracy, kaum anarko-sindikalis membenci tindakan organ-organ politik tradisional dan parlemen. Mereka anti-intelektual: membenci kepemimpinan intelektual dan program-program konstruktif dengan teori-teori yang melatarbelakanginya.

Sementara, anarkisme individual bisa ditemui pada kaum libertarian atau liberal. Mereka mendukung kepemilikan pribadi, inisiatif individu, dan pasar bebas. Dalam pandangan ini, tidak boleh ada pelanggaran terhadap hak-hak individu untuk menentukan sendiri kebutuhan dan keinginan masing-masing.

Dalam anarkisme individual, kelompok-kelompok informal dalam masyarakat hanya bisa dibentuk berdasarkan kerelaan individu-individu untuk bekerjasama. Kelompok ini bersifat temporer karena kebutuhan, harus melayani kepentingan individu, dan bukannya menjadi otoritas baru yang mengatur atau membatasi kemerdekaan pribadi. (wir/kun)

Apa Reaksi Anda?

Komentar