Iklan Banner Sukun
Politik Pemerintahan

Ini Alasan Dubes Swiss Temui Gus Muhdlor di Sidoarjo

Sidoarjo (beritajatim.com) – Strategi penanganan sampah di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jabon Sidoarjo yang menerapkan prinsip ramah lingkungan membuat Swiss Ambassador (Duta Besar) Mr. Kurt Kunz berkunjung ke Sidoarjo.

Kurt Kunz datang bersama Head Infrastructure Financing Of SECO Ms. Dagmar, Deputy Head of SECO Ms. Andrea Zbinden, Program Manager of SECO Mr. Roman Windish dan Manager of Urban Development of KFW Frangkurt Mr. Marc Gall.

Mereka mengapresiasi penanganan sampah di Sidoarjo yang sudah menerapkan system sanitary landfill berstandart Jerman tersebut. Dubes Swiss itu menilai menajemen yang diterapkan Pemkab Sidoarjo merupakan inovasi karena berhasil menerapkan Waste Manajement Revolution (Revolusi Pengelolaan Sampah).

Tidak hanya itu saja, Kurt dan timnya juga tertarik dengan sampah di TPA Jabon yang diubah menjadi bahan bakar RDF atau Briket. Sidoarjo dinilai Kurt ikut berkontribusi dalam program penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (GRK) karena pengelolaan sampah di TPA Jabon tanpa melakukan pembakaran.

Bupati Sidoarjo H. Ahmad Muhdlor Ali (Gus Muhdlor) kepada Kurt Kunz dan rombongannya menyampaikan, pengelolaan sampah di TPA Jabon sudah menerapkan standart pengelolaan sanitary landfill. Selain itu, sampah yang ada TPA Jabon diolah menjadi bahan bakar Briket. “Ini adalah kontribusi Pemkab Sidoarjo untuk ikut bersama-sama menurunkan emisi GRK,” katanya di Pendopo Delta Wibawa Sabtu (20/5/2022).

Gus Muhdlor yang didampingi Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Sidoarjo (DLHK) M. Bahrul Amig itu menjelaskan, bahwa keberadaan sampah tidak bisa dihindari karena itu merupakan konsekuensi dari berkembangkan sebuah kota dengan jumlah populasi penduduknya di atas dua juta orang.

Bupati alumni FISIP Unair Surabaya itu juga mengatakan kalau keberadaan sampah tidak hanya dipandang sebagai disaster atau bencana tapi dibalik itu ada peluang ekonomi apabila keberadaanya bisa dikelola dengan manajemen persampahan yang baik, sehingga pengelolaan sampah di TPA Jabon bisa ramah lingkungan tidak menimbulkan bau.

“Walaupun Sidoarjo ini daerah industri, tapi juga menjadi daerah yang ramah lingkungan. Arahnya ke Green Economy dan Zero Waste,” jelas Gus Muhdlor.

Rencana jangka panjangnya, Gus Muhdlor mendorong di tiap TPST bisa mengolah sampahnya menjadi briket agar sampah yang dikirim di TPA Jabon tidak overload.

Manajemen pengolahan sampah menjadi bahan bakar briket alternatif itu dilakukan agar penanganan sampah mulai hulu sampai hilir bisa tertangani dengan system ramah lingkungan.

“Nanti kedepannya pengolahan sampah menjadi briket akan direplikasikan ke TPST lainnya dan prinsipnya pengelolaan sampah di Sidoarjo harus ramah lingkungan dan pengelolaannya dilakukan mulai dari hulu sampai hilirnya,” imbuhnya.

Kurt Kunz mengatakan, sebelumnya Ia sudah mendapatkan informasi kalau pengelolaan sampah di TPA Jabon sudah menerapkan sanitary landfill.

Kurt melihat manajemen pengolahan sampah di Sidoarjo sangat baik karena adanya unit teknis yang dibentuk khusus menangani sampah yang ada di TPA. Selain itu, pengolahan sampah di Sidoarjo sudah menerapkan prinsip ramah lingkungan dengan system Sanitary Landfill. Dimana pada prosesnya bisa menurangi emisi GRK.

“Manajemen pengelolaan TPA Jabon Sidoarjo bisa menjadi role model bagi TPA di kota lain di Indonesia karena sudah menerapkan system Sanitary Landfill yang bisa mengurangi emisi GRK. Selain itu penanganan sampah di Sidoarjo juga diolah menjadi briket yang bisa bernilai ekonomi,” ujar Kurt.

Sementara itu, Head Infrastructure Financing Of SECO Ms. Dagmar mengemukakan, yang berbeda dari pengelolaan sampah di Sidoarjo dengan kebanyakan TPA di kota lain adalah selain sudah menerapkan system sanitary landfill, “sampah yang ada di TPA Jabon tidak menimbulkan polusi bau,” ujar Dagmar.

Untuk menangani masalah bau sampah, DLHK Sidoarjo mengatasinya dengan menyemprotkan cairan Eco Lindi, cairan yang diolah sendiri oleh DLHK. (isa/kun)


Apa Reaksi Anda?

Komentar