Politik Pemerintahan

Ingin Dagangannya Laris, Penjual Peyek Sambil Gendong Bayi Ini Cegat Mobdin Bupati Gresik

Seorang penjual peyek mencegat mobdin Bupati Gresik agar membeli dagangannya.

Gresik (beritajatim.com) – Ada pemandangan yang berbeda saat mobil dinas (Mobdin) Bupati Gresik, Fandi Akhmad Yani atau akrab disapa Gus Yani saat hendak memasuki Mapolres Gresik. Mobil Toyota Innova Putih W 1 AP tiba-tiba dicegat oleh seorang penjual peyek sambil menggendong bayinya.

Penjual peyek keliling yang bernama Hima (36) itu menawarkan dagangannya ke orang nomor satu di Gresil itu. Ada lima bungkus peyek ditawarkan ke Gus Yani. Hal ini dilakukan karena dagangannya belum ada yang laku.

Tanpa berpikir panjang, Gus Yani memerintahkan sopir pribadinya berhenti lalu membuka kaca mobil sambil mengeluarkan uang pecahan Rp 50 ribu sebanyak dua lembar. Selanjutnya, dirinya menerima lima bungkus peyek sambil menolak kembaliannya.

Hima yang melihat ini agak canggung sambil memasukkan uang ke dalam tas warna miliknya.

“Senang tapi rodok ndredek (gemetar) mas dibeli sama Gus Yani. Alhamdulillah hasil pembelian ini ditabung buat biaya anak pertama masuk pondok pesantren,” ujarnya, Senin (15/03/2021).

Ibu empat anak ini, selama pandemi Covid-19 ini berkeliling berjualan keripik rempeyek. Salah satu kantor yang menjadi tujuan tetapnya adalah Mapolres Gresik kemudian kantor pemkab.

Dia berjualan rempeyek milik orang lain. Setiap rempeyek yang terjual, ibu empat anak ini hanya diupahi seribu rupiah per bungkus. Sebanyak 30 bungkus peyek dibawanya keliling setiap hari, itupun tidak semuanya laku sampai habis setiap hari.

“Saya biasa bawa 30 bungkus, harga per bungkusnya Rp 6 ribu, saya diberi upah Rp 1000 per bungkus. Alhamdulillah, ketemu Gus Yani langsung dibeli dengan harga Rp 100 ribu,” katanya.

Ia menambahkan, kendati berjualan rempeyek tidak menyurutkan semangatnya untuk membiaya pendidikan anaknya. Hal ini dilakukan untuk membantu suaminya yang berprofesi sebagai sopir yang terkena dampak pandemi Covid-19. Sehingga, penghasilannya menjadi tidak menentu.

“Demi anak sulung saya tahun ini lulus SMP, saya dan suami bertekad bisa melanjutkan sekolah anak sulung saya di pesantren agar mendapat pelajaran agama yang lebih baik,” pungkasnya. [dny/but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar