Iklan Banner Sukun
Politik Pemerintahan

Indeks Pembangunan Manusia Jember Naik, Tapi 73 Ribu Warga Menganggur

Bupati Jember Hendy Siswanto

Jember (beritajatim.com) – Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Jember, Jawa Timur, selama lima tahun terakhir menunjukkan peningkatan. Pada 2021, IPM Jember 67,32 atau meningkat sebesar 0,32 dibandingkan 2020 yang mencapai 67,11.

“IPM dibentuk oleh tiga dimensi dasar, yakni umur panjang dan hidup sehat (a long and healty life), pengetahuan (Knowledge), dan standar hidup layak (decent standard of living). “Ketiganya diukur dengan angka harapan hidup, pencapaian pendidikan, dan pengeluaran per kapita riil,” kata Bupati Hendy Siswanto, dalam sidang paripurna Nota Pengantar Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Bupati 2021, di gedung DPRD Jember, Rabu (30/3/2022) malam.

Kendati IPM meningkat, data di lapangan menunjukkan adanya peningkatan angka pengangguran dan kemiskinan di Jember. Dari 1,34 juta orang penduduk usia kerja, terdapat 73.020 orang penganggur. Jumlah ini semakin bertambah jika mengacu pada dampak pandemi. “Tidak dapat dipungkiri bahwa penduduk yang termasuk usia kerja yang mengalami dampak pandemi sebanyak 7,79 persen. Sekitar 151.750 orang tidak bisa bekerja atau mengalami pengurangan jam kerja,” kata Hendy.

“Jumlah pengangguran atau yang biasa didefinisikan sebagai Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada Agustus 2021 sebesar 5,44 persen, mengalami kenaikan 0,31 persen dibandingkan Agustus 2020. Namun demikian secara makro, besaran TPT di Kabupaten Jember masih lebih rendah dibandingkan dengan TPT Provinsi Jawa Timur yang tercatat sebesar 5,74 persen dan TPT Nasional sebesar 6,49 persen,” kata Hendy.

Sementara itu, angka kemiskinan juga meningkat karena pandemi. “Kemiskinan diasumsikan sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur menurut garis kemiskinan,” kata Hendy.

Badan Pusat Statistik (BPS) menggunakan konsep kebutuhan dasar dalam mengukur tingkat kemiskinan. Dengan begitu, definisi dari penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan.

Berdasarkan data BPS Kabupaten Jember, pada Maret 2021 tingkat kemiskinan mencapai 10,41 persen atau sebesar 257.090 jiwa. “Bertambah 9.100 jiwa dibandingkan dengan bulan yang sama pada 2020,” kata Hendy.

Namun demikian, lanjut Hendy, angka kemiskinan di Kabupaten Jember masih lebih rendah dibandingkan dengan nilai rata-rata angka kemiskinan di Jawa Timur yang teracatat sebesar 11,40 persen. Jika dibandingkan rata-rata nasional yang mencatatkan persentase kemiskinan 10,14 persen, terpaut 0,27 persen lebih tinggi.

Ada delapan faktor yang diduga mempengaruhi kondisi tingkat kemiskinan di Kabupaten Jember periode Maret 2020 sampai Maret 2021. “Pertama, pandemi Covid-19 yang berkelanjutan berdampak pada perubahan perilaku serta aktivitas ekonomi penduduk,” kata Hendy.

Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Jember sempat terkontraksi dan minus 2,98 persen pada tahun 2020. Dibutuhkan cukup waktu untuk melakukan pemulihan. “Laju pertumbuhan konsumsi rumah tangga di Jember juga terkontraksi menjadi minus 0,67 persen pada 2020,” kata Hendy.

Inflasi juga berpengaruh. “Laju inflasi selama periode Maret 2020 – Maret 2021 tercatat 1,66 persen. Tingkat pengangguran terbuka (TPT) yang naik pada periode Agustus 2020 – Maret 2021 sebesar 0,31 persen poin,” kata Hendy.

Peningkatan angka kemiskinan juga dipicu oleh adanya 151.750 orang penduduk usia kerja yang terdampak Covid -19. Faktor lainnya, belum pulihnya aktivitas perekonomian akibat dampak pandemi Covid-19 dan pembatasan pergerakan kegiatan masyarakat selama pandemi. [wir/beq]


Apa Reaksi Anda?

Komentar