Politik Pemerintahan

IDI Bojonegoro Urai Lambatnya Penanganan Covid-19 di Bojonegoro

Rapat percepatan penanganan Covid-19 Kabupaten Bojonegoro di DPRD setempat.

Bojonegoro (beritajatim.com) – Besarnya nilai Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Bojonegoro yang mencapai Rp6,2 triliun seharusnya bisa menekan penyebaran Covid-19 lebih maksimal, Selasa (3/8/2021).

Salah satunya dengan melakukan tracing dan pengadaan alat maupun infrastuktur penunjang. Hal itu diungkapkan Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kabupaten Bojonegoro dr Askan saat melakukan rapat bersama percepatan penganangan Covid-19 di DPRD Bojonegoro.

Menurutnya, untuk mempercepat penanganan Covid-19 yang paling penting adalah kecepatan dan ketepatan deteksi awal. Salah satunya pengecekan rapid tes maupun swab tes – PCR. “Untuk mempercepat tes ini perlu adanya peralatan yang mendukung, sehingga tidak perlu menunggu lama untuk tahu hasil tesnya,” ujarnya.

Selain itu, peran tenaga medis di sejumlah puskesmas bisa digerakkan dalam melakukan pengawasan bagi masyarakat yang melakukan isolasi mandiri (isoman). Sehingga, penanganan untuk treatment tepat sasaran dan sesuai kebutuhan pasien.

“Penanganan pasien sendiri agar tidak ada penumpukan pasien di satu rumah sakit ini bisa dengan cara perawatan sesuai dengan tingkatan kondisi pasien,” pungkasnya.

Anggota Badan Anggaran (Banggar) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bojonegoro Sigit Kusharianto, mengatakan banyaknya refokusing anggaran yang dilakukan ini juga belum banyak terserap. Dari Rp166 miliar anggaran refokusing penyerapannya baru Rp66 miliar.

“Seharusnya bisa dimaksimalkan untuk penanganan dengan membuat kebijakan politik bersama-sama bergerak dalam bidang kesehatan dan ekonomi yang paling terlihat dampaknya. Terlepas nanti juga keterlibatan pelaku usaha,” ujarnya.

Pemkab Bojonegoro, kata Ketua Fraksi Golkar itu, seharusnya sudah punya kemandirian fiskal yang luar biasa, karena secara anggaran sudah ada. “Jika hanya menggantungkan bantuan dari pemerintah pusat, mustahil masyarakat yang membutuhkan ini bisa tersentuh,” tegasnya.

Sementara untuk pengendalian rumah sakit agar tidak terjadi penumpukan pasien, tenaga medis harus bisa menentukan derajat kualitas pasien Covid-19. “Sehingga tenaga kesehatan bisa memberi saran rujukan kepada keluarga pasien sesuai dengan kualitas pasien harus dirujuk kemana,” tegasnya.

Sementara Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bojonegoro Ani Pudjiningrum mengatakan, dalam penanganan percepatan Covid-19, pihaknya akan mengusulkan penambahan anggaran untuk pengadaan obat dan vitamin sesuai dengan hasil rapat.

“Stok obat ini memang dari Dinkes Provinsi dan bisa melakukan pengadaan sendiri,” jelasnya.

Sedangkan, sejauh ini menurutnya pasien yang melakukan isolasi mandiri dan sudah terkoneksi dengan puskesmas akan mendapat droping vitamin C, dan D sesuai dengan rekomendasi yang sudah diterapkan oleh Kementerian Kesehatan.

“Antivirus di apotek memang sudah habis, tapi jika sudah dinyatakan positif bisa menghubungi puskesmas untuk bisa diberikan sesuai dosis,” pungkasnya. [lus/but]


Apa Reaksi Anda?

Komentar