Politik Pemerintahan

Hoaks Gerus Elektabilitas Jokowi, Ini Warning Bagi TKN

Surabaya (beritajatim.com) – Pengamat komunikasi politik dari Universitas Pelita Harapan (UPH), Emrus Sihombing menyebut hoaks sebagai salah satu faktor penggerus elektabilitas pasangan nomor urut 01, Jokowi-Ma’ruf Amin di tengah tingginya tingkat kepuasaan masyarakat terhadap Jokowi.

“Secara hipotesis iya. Itu mempengaruhi. Masyarakat termakan oleh hoaks yang tersebar luas. Karena itu harus dilawan dengan fakta dan data yang didesain secara kreatif,” kata Emrus melalui rilisnya kepada beritajatim.com, Selasa (29/1/2019).

Berdasarkan hasil temuan Lembaga Survei Indonesia (LSI) Denny JA, tingkat kepuasan masyarakat Indonesia terhadap kinerja Presiden Jokowi masih tinggi, mencapai angka 70 persen. Meski fluktuatif, menurut survei LSI, tingkat kepuasan terhadap Jokowi tidak sampai berada di bawah 60 persen. Sementara tertinggi berada di Agustus 2018, yang mencapai 75 persen lalu turun ke angka 70,7 persen di September.

Kendati demikian, tingkat kepuasan publik terhadap Jokowi tidak berbanding lurus dengan tingkat keterpilihan (elektabilitas) Jokowi-Ma’ruf di Pilpres 2019. Merujuk sejumlah hasil survei, pasangan nomor urut 01 ini hanya berada di angkat 52-54 persen.

Emrus menjelaskan, hal ini sebagai pekerjaan rumah (PR) besar tim kampanye Jokowi-Ma’ruf. Tim sukses dan partai pendukung harus mampu membendung hoaks secara kreatif dan terukur. “Tidak sebatas mengkonter informasi-informasi hoaks yang beredar untuk menjatuhkan Jokowi, melainkan dengan membangun isu sendiri secara massif,” jelasnya.

“Jadi harus menjadi leading sector di bidang isu dan tidak terus bermain di genderang orang,” imbuhnya.

Hal lain yang harus dilakukan adalah bekerja lebih keras lagi meyakinkan publik, sehingga kampanye mengarah kepada perilaku memilih, tidak hanya menyukai kinerja pemerintahan Jokowi di lima tahun belakangan.

Tim kampanye termasuk partai-partai pengusung, Emrus menyarankan agar lebih keras bekerja. Jika perlu, masyarakat sendiri yang menyampaikan testimoni keberhasilan Jokowi. Tidak hanya tim kampanye yang menyampaikan dan hanya akan dianggap sebagai klaim semata.

“Pesan kampanye yang disampaikan harus berefek pada voting behavior. Mereka harus lebih agresif lagi menjelaskan keberhasilan pembangunan itu secara terukur. Desain komunikasi harus dibuat lebih rasional,” jelasnya.

Dia mencontohkan di bidang infrastruktur, tim kampanye bisa menggunakan testimoni masyarakat yang secara langsung menerima manfaat ekonomi maupun non ekonomi dari adanya jalan tol atau bandara atau pembangunan lain.

Testimoni masyarakat ini juga dianggap Emrus bisa menjadi sarana untuk melawan hoaks tentang ketidakberhasilan pembangunan. “Andaikata dibuat testimoni itu, bisa jadi orang tidak percaya dengan hoaks. Misalnya bisa aja lu ngomong begitu, buktinya itu berhasil. Artinya, hoaks dilawan dengan testimoni atau ada desain komunikasi lain,” pungkasnya. (tok/kun)





Apa Reaksi Anda?

Komentar