Politik Pemerintahan

Herlina Balik Tuding Imam Tidak Becus Urus Internal Nasdem

Herlina Harsono Njoto. Foto: Ibnu

Surabaya (beritajatim.com) – Ketua Fraksi Demokrat-NasDem DPRD Kota Surabaya Herlina Harsono Njoto menjawab tudingan mbalelo yang disampaikan Sekretaris Fraksi Demokrat-NasDem Imam Syafi’i kepadanya terkait perbedaan sikap pembentukan Panitia Khusus (Pansus) Covid-19.

Herlina balik mengkritik dan menantang Imam Syafi’i jika tidak nyaman satu fraksi dengannya, agar memilih fraksi lain. Ia bahkan menyebut Imam tidak bisa mengurus kader sesama NasDem yang tidak hadir saat voting untuk Pansus Covid-19 berlangsung.

“Imam itu tidak becus ngurusi Nasdem sendiri. Kedua kadernya itu kemana ketika dua kali voting itu tidak hadir. Kalau kemudian dia tidak nyaman bersama saya, maka silahkan mencari fraksi lain,” tegasnya.

Namun, lanjut Herlina, dari beberapa rangkaian rapat dengan komisi dan pimpinan DPRD, pada akhirnya pemkot lebih transparan dan kooperatif. “Artinya data-data yang diinginkan dewan itu diberikan. Ini kan PSBB sudah diterapkan, artinya pansus sudah lewat. Apalagi sekarang PSBB sudah diperpanjang lagi,” tegas Herlina.

Dari sanalah Herlina melihat sebenarnya Pemkot Surabaya, meski belum optimal tapi sudah punya itikad baik untuk berubah lebih transparan terhadap DPRD. “Bukan, bukan menolak ya. Tapi maksud saya sebagai anggota dewan tuh harus mendampingi warga. Harus terus kemudian memberikan jawaban terkait pertanyaan-pertanyaan maupun ketika ada warga yang jatuh terkena Covid-19 ini,” sambung Herlina.

Sebelumnya, sebagai informasi, gagalnya usulan pembentukan pansus Covid-19 DPRD Surabaya berbuntut pada koalisi fraksi Partai Demokrat-Nasdem. “Kami masih mengevaluasi apakah koalisi partai Nasdem dengan Demokrat dalam fraksi masih bisa dilanjutkan” tegas Imam Syafi’i anggota fraksi Demokrat-Nasdem dari partai Nasdem.

Imam yang menjadi salah satu inisiator pembentukan pansus Covid-19 DPRD Surabaya mengungkapkan, kalau usulan pembentukan pansus Covid-19 oleh fraksi Demokrat-Nasdem sudah disetujui oleh fraksi, begitu pula oleh masing-masing anggota fraksi.

Mantan jurnalis ini kembali menegaskan, kalau sikap Herlina Harsono Nyoto yang menolak pembentukan pansus Covid-19 dalam voting di rapat Banmus sebagai sikap pribadi, tidak bisa diterima. “Dalam partai Nasdem kami diajarkan bahwa keputusan fraksi sebagai harga mati. Tidak ada main-main dengan sikap pribadi,” tegas Imam.

Lebih lanjut Imam mengatakan, kalau sikap ketua fraksi Demokrat-Nasdem melanggar tata tertib pasal 6 ayat 3. Karena apapun yang dibawa dirapat banmus sudah melalui konsultasi dengan fraksi. “Tidak bisa kemudian atas nama pribadi, karena beliau perwakilan dari fraksi,” jelasnya.(ifw/ted)





Apa Reaksi Anda?

Komentar