Politik Pemerintahan

Hendak Maju Pilwali Surabaya, Keponakan Khofifah Minta Restu UNAIR

Surabaya (beritajatim.com) – Bakal calon Wali Kota Surabaya, Lia Istifhama, bertemu dengan pihak Universitas Airlangga yang diwakili oleh Kepala Humas Unair, Suko Widodo. Dalam pertemuan tersebut, Lia sebagai alumnus Unair meminta restu untuk maju dalam Pilwali Surabaya 2020. Selain itu, ia juga meminta saran dan masukan terkait langkah-langkah politik yang harus ia ambil.

“Saya minta restu sebagai alumni. Selain itu, saya minta saran dari unair, bagaimana harus bergerak sesuai dengan khas Unair. Agar, antara almamater dan alumnus, bisa bersinergi secara maksimal,” kata Lia, Rabu 11 September 2019 di Kampus C Unair.

Dengan pertemuan ini, Lia berharap, Universitas Airlangga bisa mendukung langkah alumninya yang ingin mengabdi kepada kota Surabaya.

“Pertemuan ini bisa berlanjut menjadi sinergi yang baik. Sehingga, saya bisa mengabdi secara utuh kepada masyarakat. Kan itu salah satu pesan Unair kepada mahasiswanya, yakni Pengabdian Masyarakat. Itu juga masuk dalam Tri Dharma perguruan tinggi ya,” ujarnya.

Sementara itu, Humas Unair, Suko Widodo, menyambut baik pertemuan ini. Ia selaku perwakilan Unair sangat mendukung keputusan para alumninya yang ingin maju dalam perpolitikan di Surabaya, khususnya Pilwali Surabaya 2020 mendatang.

“Pertemuan ini bagus ya. Jadi ini bisa menjadi langkah awal dalam membangun karir dan trust. Ya seperti anak minta restu ke orang tuanya ya, saya rasa itu sangat bagus. Kami juga mendukung siapa saja alumni Unair yang akan maju, termasuk juga Mbak Lia. Karena menurut saya, mungkin saatnya alumni Unair mengambil peran sebagai pemimpin Surabaya,” kata Suko.

Suko menambahkan, dikemudian hari, apabila Lia atau kandidat lainnya yang merupakan alumni Unair, ingin dipertemukan dalam satu forum untuk berdiskusi, ia siap untuk memfasilitasi. Karena menurut Suko, forum diskusi akademik, akan menjadi salah satu langkah awal yang apik guna membedah program para kandidat.

“Mbak Lia kalau mau di pertemukan dengan para akademisi, untuk mengemukakan programnya ya monggo. Saya akan fasilitasi, Unair itu terbuka untuk alumninya lah,” lanjutnya.

Suko berharap, siapapun alumni Unair nantinya yang akan menjadi pemimpin Surabaya, bisa mengemban amanah rakyat dengan baik, dan bisa menjadi pelayan rakyat yang baik pula. Meski begitu, Suko mengatakan, salah satu kandidat terbaik yang bisa menjadi pemimpin Surabaya, adaah yang pernah mencicipi asam manis kehidupan rakyat. Dengan hal itu, ia akan menelurkan kebijakan yang pro rakyat.

“Harus amanah, dan juga terbuka untuk rakyat ya. Karena sejatinya, mereka juga berasal dari rakyat pula. Kalau calon ini pernah hidup seperti rakyat kebanyakan, pastinya mereka akan bikin program yang pro dengan rakyat, yang akan mengangkat derajat rakyat,” pungkasnya.

Dalam acara tersebut, Lia juga ditemani oleh anak-anak muda dari Forum SinauSurabaya.id. Mereka merupakan generasi milenial alumni Unair, yang siap membawa perubahan bagi Surabaya.

“Kami akan mendukung calon yang pernah merasakan asam pahit manis kehidupan rakyat, terlebih ia alumni Unair. Menurut kami, Mbak Lia adalah kandidat yang memenuhi unsur itu. Ia pernah bekerja jadi sales, bekerja di pabrik, hingga jadi dosen. Jadi insya allah Mbak Lia tahu apa yang harus dilakukan, sebagai pemimpin yang ditempa oleh kehidupan rakyat,” kata koordinator SinauSurabaya, Mirza.

Mirza berharap, para generasi muda, khususnya alumni Unair, bisa memilih pemimpin yang mempunyai track record dan pengalaman yang mumpuni. Sehingga bisa membawa Surabaya semakin dipandang dunia. Bukan hanya itu, menurut Mirza dan kawan-kawan, pemimpin masa depan Surabaya adalah yang berasal dari generasi milenial itu sendiri. Sehingga bisa membawa nilai-nilai milenial dalam bekerja dan progam-programnya.

“Pemimpin Surabaya selanjutnya yang ideal ya dibawah 45 tahun. Dengan pengalaman hidup yang dirasakan rakyat kebanyakan, bukan yang tak pernah merasakan pahitnya kehidupan rakyat biasa. Nah, jawaban itu ada di Ning Lia,” pungkas Mirza.

Sesaat setelah diskusi dengan Suko Widodo di kampus Unair terkait pilwali, Lia Istifhama tak sengaja dipertemukan dengan bacawali PDIP, Wishnu Sakti Buana.

“Awalnya saya ingin bertemu mas Deny, yang dulu senior saya di Unair. Saya kesana sama mas Erwan senior Unair juga, jadi ceritanya kita ingin silaturahmi sesama alumni. Kebetulan, kok di Kantor PDIP ada pak Wisnu, ya alhamdulillah. Sekalian saya mengambil formulir dan tadi suasana gayeng banget. Santai. Pak Wisnu pernah satu komisi dengan ayah saya di DPRD Jatim, bahkan pak Sutjipto karibnya ayah saya. Jadi bagus lah tadi, bisa silaturahmi. Ada juga bu Untari, Mbak Erma, Bu Rini. Mbak Erma saya kenal sejak 2008 lalu. Obrolan lebih bersifat menjalin silaturahmi,” kata Lia. [ifw/kun]





Apa Reaksi Anda?

Komentar