Politik Pemerintahan

Hari Pertama Tes CPNS Banyuwangi Diikuti 400 Orang, Paling Jauh dari Papua

Banyuwangi (beritajatim.com) – Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Banyuwangi Nafiul Huda, jumlah total peserta sebanyak 1.240 orang. Tes SKD ini dilaksanakan selama tiga hari. Hari pertama diikuti 400 CPNS yang terbagi dalam empat sesi.

“Dimana masing-masing sesi diikuti 100 peserta. Kecuali Hari Sabtu, di bagi dalam lima sesi, karena di hari itu pesertanya yang paling banyak,” jelas Huda, Kamis (6/2/2020).

Peserta CPNS tahun ini memang tidak hanya diikuti oleh warga lokal Banyuwangi. Tapi juga, warga dari daerah lain meskipun jumlahnya tidak begitu banyak. “Warga Banyuwangi yang terdaftar dan lolos ikut tes ada 1040 orang, sedangkan 200 CPNS lainnya berasal dari luar daerah. Paling jauh dari Jayapura (Papua) ada dari Balikpapan, Nunukan, Bandung, Boyolali, Maros, Bone dan lainnya,” ungkapnya.

Pada tahapan seleksi ini, peserta dihadapkan dengan 100 butir soal yang terbagi dalam tiga kategori. Yakni Tes Karakteristik Pribadi (TKP), Tes Intelegensia Umum (TIU), dan Tes Wawasan Kebangsaan (TWK).

“Untuk bisa lolos tahapan seleksi ini, peserta harus bisa memenuhi nilai ambang batas minimal SKD sebagaimana diatur dalam Permenpan-RB Nomor 24 Tahun 2019. Untuk jalur formasi umum total nilai ambang batas minimal yang harus diperoleh sebesar 271. Rinciannya, nilai minimal TKP sebesar 126, TIU sebesar 80, dan TWK sebesar 65,” urai Huda.

Sementara untuk jalur disabilitas, imbuhnya, akumulasi skor minimalnya sebesar 260. “Dengan catatan, nilai minimal TIU nya sebesar 70,” pungkasnya.

Sementara itu, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menjelaskan, kualitas SDM pemerintah merupakan kunci dari kesuksesan pengelolaan pemerintahan. Maka pihaknya sangat serius dalam menyeleksi cpns daerah. “Salah satunya dengan menetapkan standar Indek Prestasi Kumulatif (IPK) yang tinggi sebagai salah satu syarat bisa melamar,” katanya.

Anas menyebut, untuk formasi umum, peserta harua memiliki IPK minimal 3,5 untuk perguruan tinggi terkadreditasi C, IPK 3,25 untuk akreditasi B, dan IPK 3,00 untuk akreditasi A. Sedangkan formasi disabilitas, IPK minimal 2,75.

“Jadi memang yang mendaftar di Banyuwangi tidak sebanyak di daerah lain, karena itu para peserta tes hari ini adalah yang terbaik. Ini adalah cara kami untuk menjaring pegawai yang berkualitas seperti yang kami butuhkan. Makanya kami tidak mau main-main,” ujarnya.

Apalagi, lanjut Anas, Banyuwangi telah ditetapkan sebagai kabupaten paling inovatif se-Indonesia dua tahun berturut-turut oleh Kemendagri. Untuk itu, Banyuwangi membutuhkan PNS yang hebat. “Kita harapkan PNS nantinya tidak hanya cerdas, namun juga bisa membangun kerja sama dan berkolaborasi,” imbuhnya.

Anas juga berpesan agar para pelamar CPNS tidak sekedar meniatkan usahanya menjadi abdi negara sekedar untuk mencari pekerjaan. “Niatkan juga usaha menjadi PNS ini sebagai sarana untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat agar apa yang dikerjakan bernilai ibadah,” ujar Anas.

Anas menegaskan, kepada peserta ujian, pihak keluarga, dan masyarakat umum untuk tidak mempercayai siapa pun yang menjanjikan dapat meluluskan seseorang menjadi PNS. “Jadi, tidak ada yang bisa mengintervensi hasil ujian. Nilai yang didapat adalah murni hasil setiap peserta,” cetusnya.

Sementara itu dikatakan Kepala Seksi Pengelolaan Data dan Diseminasi Informasi Kepegawaian Kantor Regional II Badan Kepegawaian Negara (BKN), Endang Caturini, selaku tim pengawas ujian, hari pertama pelaksanaan SKD di Banyuwangi berjalan lancar. Endang menilai kabupaten berjuluk The Sunrise of Java tersebut telah menyiapkan seleksi ini dengan baik. “Alhamdulillah, pelaksanaan di Banyuwangi berjalan lancar dan tertib. Pemkab telah menyiapkan semuanya dengan matang,” ujarnya.

Endang juga mengapresiasi infrastruktur pendukung ujian yang telah disiapkan Pemkab. “Fasilitasnya bagus dan lengkap, tersedia unit komputer yang memadai, gedung nya juga representatif,” pungkasnya. (rin/kun)





Apa Reaksi Anda?

Komentar