Politik Pemerintahan

Hanindhito Pramono Kunjungi Home Industri Gorden Blawe

Kediri (beritajatim.com) – Badai pandemi Covid-19 menghantam sendi-sendi perekonomian, termasuk home industri gorden di Desa Blawe, Kecamatan Purwoasri, Kabupaten Kediri. Para perajin merasakan penurunan omset penjualan yang drastis.

Adi, koordinator perajin gorden Desa Blawe mengaku, keseluruhan pelaku usaha gorden merasakan dampak bencana non alam Covid-19. Karena lesunya pasar, permintaan tirai penutup pintu dan jendela merosot hingga 50 persen.

“Sekarang ini kami mengalami pengurangan banyak sekali dan sangat dirasakan. Penurunan omsetnya hingga 50 persen. Kalau tidak benar-benar mengatur, bisa gulung tikar,” ujar Adi dalam pertemuan dengan Calon Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramono di Desa Blawe.

Adi menyampaikan keluhannya kepada putra Seskab Pramono Anung itu. Mayoritas masyarakat Desa Blawe yang menekuni usaha pembuatan gorden mengalami kesulitan dalam memasarkan produknya. Terlebih di masa pandemi Covid-19. Mereka berharap mendapatkan perhatian dari pemerintah daerah.

“Perhatian dari pemerintah untuk UMKM memang selama ini kurang. Dengan kunjungan beliau (Mas Dhito) kesini bisa menyerap aspirasi kami dan kami bisa menyampaikan keluhan. Keluhan kami, disini dalam hal pemasaran kita selama ini masih berjalan sendiri-sendiri, padahal satu usaha harus ada keterkaitan dengan stakeholdernya dengan pemerintah. Apalagi dalam kondisi pandemi ini, kami benar-benar merasakannya,” imbuh Adi.

Mas Dhito menyadari kondisi yang dialami oleh para perajin gorden Desa Blawe. Menurutnya, kondisi mereka tak jauh berbeda dari pelaku UMKM kerupuk dan sambel di Desa Jantok, Kecamatan Purwoasri. Bila mendapatkan amanat untuk memimpin Kabupaten Kediri kelak, Mas Dhito bakal memperhatikan nasib para pelaku UMKM, termasuk perajin gorden Desa Blawe.

“Kondisi mereka sekarang sama dengan UMKM krupuk dan sambel pecel mengalami penurunan cukup drastis. Lalu saya tanya, apa yang mereka butuhkan? Mereka mengaku butuh bantuan modal agar bisa bertahan. Lalu, saya sampaikan kalau bantuan modal, njenengan tidak akan pernah cukupnya, pasti akan butuh lagi dan butuh lagi. Gini aja, akan saya berikan bantuan pelatihan-pelatihan,” ungkap Mas Dhito.

Bila terpilih pada 9 Desember 2020 mendatang, Mas Dhito bakal memprioritaskan program pelatihan bagi para pelaku UMKM. “Kami akan berikan pelatihan bagaimana untuk pemasaran dan menekan ongkos produksi. Artinya saya tidak akan memberikan ikan, tetapi saya akan memberikan pancingnya. Nanti akan kita bangunan sentra UMKM juga,” tegasnya.

Seperti halnya Desa Blawe dengan home industri gordennya, pria 28 Tahun itu bakal menginventarisir setiap desa dengan potensi yang dimiliki. Dari agenda turun ke bawah (turba) selama lebih dari 8 bulan, Mas Dhito telah memiliki gambaran home industri yang ada di desa-desa. Seperti di wilayah Kecamatan Badas, ada satu desa yang menjadi Kampung Madu, di Desa Blawe perajin gorden, dan di Kecamatan Ngadiluwih ada Desa yang memiliki potensi tanaman hias serta Kecamatan Plosoklaten dengan potensi sentra budidaya ikan hias.

“Artinya seperti di Desa Blawe ini, mereka yang sudah per teritori punya UMKM dan usaha masing-masing, maka yang potensial akan kita kembangkan sesuai kemampuan pengusaha tersebut,” tegasnya.

Untuk diketahui, di Desa Blawe hampir 80 persen warganya menekuni usaha pembuatan gorden. Produksi kelambu tersebut telah membanjiri pasar-pasar di tingkat lokal Kediri hingga skala Nasional. Bahkan, beberapa perajin telah memasarkan produknya ke luar pulau melalui sistem pemasaran online. Usaha tersebut telah bertahan selama puluhan tahun. [nm/ted].





Apa Reaksi Anda?

Komentar