Politik Pemerintahan

Hanindhito Pramono Beli Kursi Bambu Buatan Perajin Tunanetra

Kediri (beritajatim.com) – Calon Bupati Kediri, Hanindhito Himawan Pramono mengunjungi rumah Totok Yulianto, seorang tuna netra yang menekuni seni ukir pada media kayu dan kursi bambu di Desa Papar, Kecamatan Papar, Kabupaten Kediri. Selain memberikan semangat dalam berwirausaha, pasangan Dewi Maria Ulfa dalam Pilkada Kediri 2020 itu juga membeli kursi buatan Totok.

“Seperti mas Totok ini perlu perhatian khusus, apalagi beliau kaum disabilitas. Kita beri apresiasi lebih, karena banyak yang diberi kesempurnaan, tetapi tidak punya kemauan untuk bekerja lebih seperti beliau,” kata Hanindhito Pramono.

Mas Dhito, panggilan akrab Hanindhito Pramono memberi apresiasi lebih kepada para seniman di Kediri, terlebih dari kelompok disabilitas. Seperti yang terjadi pada Totok Yulianto, dengan segala keterbatasannya, tetap ia tetap berjuang keras dalam berkreasi.

“Ini bagian dari beliaunya untuk mencari nafakah yang halal, maka perlu mendapat perhatian khusus dari Pemerintah Kabupaten Kediri. Apalagi ini kaitannya dengan UMKM yang menjadi sendi paling mendasar di Kabupaten Kediri,” imbuh pria 28 tahun ini.

Mas Dhito mengaku, takjub melihat karya seni Totok. Menurutnya, selain bervariatif, juga tidak kalah dari seniman yang memiliki fisik normal. Itu sebabnya, Mas Dhito tertarik untuk membeli salah satu produk kursi dari bahan bambu buatan sang perajin.

“Melihat karyanya bagus-bagus dan ada berbagai macam variatif. Saya tadi pilih bambu yang polanya rata karena saya lebih suka yang simple soalnya,” imbuhnya.

Totok bersyukur dikunjungi Mas Dhito. Dia merasa terharu sekaligus senang karena karyanya mendapatkan apresiasi dari Cabup Kediri itu. “Orangnya baik dan ramah. Satu kursi buatan saya dibeli. Sebenarnya harganya hanya Rp 1,5 juta. Tetapi beliau membelinya Rp 2 juta. Saya mengucapkan terima kasih,” ungkapnya.

Totok Yulianto merupakan seorang tuna netra. Pria yang akrab disapa Totok tersebut mampu keluar dari kesulitan dengan membuat usaha pahatan meja dan kursi dari bambu. Usahanya ini telah dijalani selama 10 tahun terakhir. Totok pernah merasakan frustasi akibat sakit mata yang diderita sehingga mengakibatkan buta. Bahkan ia harus merasakan depresi selama 2 tahun sejak tahun 2008 hingga 2010.

Selain mengalami kebutaan mata, saat itu dia mendapat ujian bertubu-tubi seperti kehilangan anak pertama dan ditinggal pergi oleh sang istri. Dua tahun hidup dalam kekecewaan dan kesedihan, Totok Yulianto kemudian berani mengambil keputusan yang cukup berat untuk bangkit. Meski dalam keterbatasan, ia ingin buah hatinya tetap bisa bahagia, serta mengenyam pendidikan.

Bermodal uang Rp 2 juta dari pemberian temannya, pria bergelar Sarjana Ekonomi tersebut memutuskan untuk membeli sejumlah limbah kayu dan bambu serta peralatan memahat. Dengan berbekal kecintaannya pada dunia seni, ia kemudian mencoba menyulap limbah tersebut menjadi kursi dan pigura.

Meski dalam proses produksi hanya mengandalkan indera peraba, namun keterampilan tangannya justru mampu membuat ukiran yang indah pada meja dan kursi. Akhirnya berkat kerja kerasnya tersebut, kini hasil karya Totok Yulianto telah terjual ke berbagai daerah di Indonesia.

Harganya juga bervariasi mulai dari Rp. 1 juta hingga Rp. 5 juta, tergantung jenis dan tingkat kerumitan. Dan berkat hasil kerja keras dan ketekunannya itu, Totok mampu menyekolahkan anaknya hingga jenjang perguruan tinggi. [nm/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar