Politik Pemerintahan

Hadapi Pilkada, PDIP Surabaya Dampingi Rakyat, Advokasi Pembangunan

Surabaya (beritajatim.com) – PDI Perjuangan (PDIP) Kota Surabaya terus bergerak, memperkuat ‘koalisi dengan rakyat’ menjelang Pilkada 23 September 2020.

Selain melakukan konsolidasi organisasi hingga level Anak Ranting atau setingkat RW, partai politik pimpinan Megawati Soekarnoputri itu juga getol mengadvokasi kebutuhan atau persoalan rakyat terkait urusan pembangunan di Kota Pahlawan ini.

“Kami gerakkan jaringan PDI Perjuangan, mulai anggota DPRD hingga level pengurus, kader dan anggota di bawah. Kader-kader PDI Perjuangan harus mendampingi rakyat, dalam banyak urusan,” kata Adi Sutarwijono, Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya, Jumat (7/2/2020).

Dijelaskan Adi, PDI Perjuangan telah menerapkan pola advokasi pembangunan di masyarakat cukup lama. Bertahun-tahun. Tidak hanya menjelang Pilkada.

“Salah satu alasan, mengapa rakyat memilih PDI Perjuangan dalam Pemilu lalu, karena kami sering membantu persoalan warga di lapangan,” kata Adi.

“Kehadiran kader PDI Perjuangan harus dirasakan rakyat, dan berefek nyata bagi pemecahan persoalan di masyarakat. Kehadiran kader PDI Perjuangan, membuat rakyat merasa tidak sendirian,” tambah Adi.

Dijelaskan, kader dan pengurus PDIP bisa hadir, semisal, dalam rapat-rapat warga di kampung dan perumahan. Membantu merumuskan kepentingan warga. Membantu penyusunan dokumen-dokumen pembangunan kampung.

PDIP Surabaya juga menyalurkan rumusan-rumusan pembangunan dari warga ke pihak-pihak pemangku kewenangan, yang bisa mengeksekusi problem pembangunan warga di perkampungan dan pemukiman.

“Dengan demikian, rakyat merasa dibela, diperjuangkan dan diartikulasikan kepentingannya. Ketika PDI Perjuangan punya gawe besar seperti Pilkada atau Pemilu, otomatis rakyat akan bekerja sukarela membantu PDI Perjuangan,” kata Adi Sutarwijono.

Ketua DPRD Kota Surabaya itu mengutip kembali pernyataan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, yang mengajarkan kader-kadernya untuk “tertawa dan menangis bersama rakyat.”

“Kami terus bersinergi dengan pemerintahan di Kota Surabaya, yang dipimpin Wali Kota Bu Risma, kader PDI Perjuangan. Kehadiran PDI Perjuangan membuat akses rakyat dalam urusan pembangunan kota semakin kuat dan nyata,” kata Adi.

Sudah 18 tahun Kota Surabaya dipimpin kader PDI Perjuangan. Dimulai Wali Kota Bambang DH yang memimpin Kota Pahlawan sejak 2002. Kemudian menang Pilkada langsung 2005 sampai 2010.

Pilkada 2010, kepemimpinan PDI Perjuangan dilanjutkan Wali Kota Tri Rismaharini. Kemudian Risma menang kedua kali dalam Pilkada tahun 2015. Masa jabatan Wali Kota Risma berakhir Februari 2021.

Tahun 2020, PDI Perjuangan akan kembali berlaga untuk memenangkan Pilkada Kota Surabaya, dan memperpanjang kepemimpinan banteng moncong putih.

Kenapa PDIP Surabaya tidak sibuk membangun koalisi elit-elit politik di ruang tertutup, menjelang Pilkada 23 September 2020?

“Biarlah kami, PDI Perjuangan, memilih jalan kerakyatan. Jalan bersekutu dengan rakyat dalam berbagai bentuk aksi kongkrit,” kata Adi Sutarwijono.

Faktanya, kata Adi, kehadiran PDI Perjuangan membuat rakyat merasa senang, antusias dan terayomi. Kegiatan-kegiatan penjaringan aspirasi anggota DPRD dari Fraksi PDI Perjuangan, di berbagai tempat, selalu dipenuhi warga masyarakat.

“Rakyat dengan semangat, menitipkan berbagai aspirasi pembangunan: perbaikan jalan, saluran air, penerangan jalan umum, pemberdayaan ekonomi, layanan BPJS, pendidikan, perbaikan rumah yang tidak layak, dan masalah-masalah sosial lain,” kata Adi.(ted)

Apa Reaksi Anda?

Komentar