Politik Pemerintahan

Hadapi Perubahan Cuaca, Pjs Bupati, Dandim 0815 dan Kapolres Mojokerto Cek Kesiapan Alat dan Personel

Pjs Bupati Mojokerto Himawan Estu Bagijo, Dandim 0815 Letkol Inf Dwi Mawan Sutanto serta Kapolres Mojokerto AKBP Dony Alexander dalam apel bersama kesiapan tanggap bencana alam.

Mojokerto (beritajatim.com) – Menghadapi perubahan cuaca dari kemarau ke penghujan, jajaran Forkopimda dalam hal ini Pjs Bupati Mojokerto Himawan Estu Bagijo, Dandim 0815 Letkol Inf Dwi Mawan Sutanto serta Kapolres Mojokerto AKBP Dony Alexander, melaksanakan kegiatan apel bersama kesiapan tanggap bencana alam pada wilayah hukum Polres Mojokerto (Operasi Aman Nusa III).

Apel digelar dengan tujuan untuk mengecek kesiagaan pesonil dan memastikan kesiapan, koordinasi, kerjasama antara pemerintah daerah, organisasi masyarakat (ormas) serta seluruh lapisan masyarakat maupun sarana prasaranan penunjang dalam menghadapi maupun mengantisipasi penanganan bencana di wilayah Kabupaten Mojokerto.

Kesiapan tanggap bencana meliputi pengecekan peralatan dapur umum tagana, team satuan tanggap bencana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), peralatan bencana seperti perahu, mobil tanki, mobil damkar, peralatan kesehatan dari Tim Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Mojokerto, dengan dibantu personil Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan relawan.

Kapolres Mojokerto AKBP Dony Alexander dalam amanat menyampaikan apresiasi, kepada seluruh personil dan stakeholder yang sudah bekerja mempersiapkan kesiapan tanggap bencana. Apalagi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofika (BMKG) pusat kembali memberikan peringatan soal potensi adanya bencana alam yang bisa menerjang Indonesia dalam waktu dekat yaitu bencana hidrometeorologi.

“Hydrometeorologi ini adalah suatu kelompok (jenis) bencana yang terkait dengan meteorologi dan klimatologi atau cuaca dan iklim yang sering dianggap sebagai bencana rutin di tanah air yaitu bencana banjir, longsor, kekeringan, kebakaran hutan, gelombang pasang dan angin puting beliung,” ungkapnya, Jumat (6/11/2020).

Peranggapan yang salah tentang bencana tersebut, lanjut Kapolres, dianggap bencana rutin sehingga seringkali lengah dan menyebabkan kerugian yang luar biasa besar. Secara kumulatif lebih besar dibandingkan dengan kelompok jenis bencana lainnya seperti bencana geologi (gempabumi, tsunami dan letusan gunung api), global warming atau pemanasan global yang saat ini mempengaruhi dunia.

“Ini yang telah menyebabkan bencana hidrometeorologi yang tadinya relatif mudah diprediksi menjadi semakin sulit diprediksi. Disamping dampak langsung dari bencana hidrometeorologi berupa banjir, tanah longsor, gelombang pasang dan angin puting beliung, dampak ikutannya (collateral hazards) juga sangat merugikan seperti terganggunya distribusi logistik, gangguan produksi pertanian pangan (gagal panen), kebakaran dan kelaparan,” katanya.

Masih kata Kapolres, ancaman yang semakin meninggi harus dihadapi dengan pengelolaan penanganan bencana secara lebih baik. Pengelolaan yang baik artinya harus memahami ancaman, memahami kekuatan/kapasitas, kemampuan untuk memahami risiko dan mampu menetapkan prioritas penanganan untuk mengurangi risiko.

“Hal ini dapat dilakukan dengan penetapan skala prioritas dalam penanggulangan bencana dengan membuat rencana kontinjensi. Rencana kontijensi ini merupakan rencana yang dinamis/hidup, artinya data yang digunakan untuk mendukung perencanaan sangat cepat berubah,” katanya.

Rencana ini juga akan berubah jika asumsi yang dipakai untuk skenario bencana yang meliputi besaran ancaman, waktu kejadian, dan pelaku berubah, maka rencana juga akan berubah dan perlu dilakukan review. Berdasarkan rencana kontinjensi ini dilakukan latihan-latihan berupa simulasi dan gladi untuk memastikan semua yang direncanakan dapat berjalan dengan baik.

“Bencana alam ini suatu waktu pasti akan berubah, maka rencana juga pasti berubah. Kita perlu melaksanakan review berdasarkan rencana kontijensi, melakukan latihan-latihan simulasi agar rencana dapat berjalan baik. Semoga Allah SWT Tuhan Yang Maha kuasa senantiasa memberikan kekuatan dan perlindungan kepada kita sekalian. Dan wilayah hukum Polres Mojokerto dalam keadaaan aman kondusif dan terbebas dari bencana alam,” tegasnya.

Pjs Bupati Mojokerto, Himawan Estu Bagijo juga menyampaikan bahwa, saat ini pemerintah sudah menyiapkan berbagai keperluan. Mulai logistik, tim kesehatan hingga personil siaga. “Climate change itu lingkupnya sudah luas. Kita juga menghadapi ancaman pemanasan global,” urainya.

Pergerakan lempeng, prakiraan cuaca, curah hujan, sekarang semuanya bisa dipantau. Namun, tetap tidak semudah itu. Artinya, lanjut Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Jawa Timur ini, semua harus tetap siaga. Dengan pengalaman dan tim yang siap ditunjanh dengan semua instrumen kelengkapan.

Sementara itu, Dandim 0815 Letkol Inf Dwi Mawan Sutanto menambahkan juga bahwa personilnya telah siap, untuk melaksanakan kerja bakti. Seperti membersihkan sumbatan-sumbatan aliran sungai. “Selama pembersihan, kita sudah angkut 53 truk eceng gondok, dan 13 truk sampah bambu penyumbat sungai. Nanti yang belum, kita perintahkan Danramil melakukan pengecekan daerah mana yang rawan bencana,” pungkasnya. [tin/kun]





Apa Reaksi Anda?

Komentar