Politik Pemerintahan

Gus Ubed Sebut Pandemi Adalah Tanda Kasih Sayang Allah

Jakarta (beritajatim.com) – Dr. Ahmad Ubaedy Hasbillah M.A, Dosen PTIQ Jakarta berusaha mengangkat pemahaman kita di masa pandemi Covid-19 ini. Dia menyebut bahwa marabahaya ini merupakan suatu rahmat Allah dan kita tidak boleh keliru mencernanya.

“Ini adalah tanda kasih sayang Allah supaya kita punya optimisme dan mendekatkan kita kepada-Nya. Coba dipikir kembali, sudah berapa lama kita tidak bersyukur atas kenikmatan yang luar biasa setiap hari. Kesehatan itu nikmat. Sering lupa bersyukur kan,” ucapnya saat mengisi acara Inspirasi Sahur di Youtube BKNP PDI Perjuangan dini hari tadi (9/5/2021).

Dosen yang akrab disapa Gus Ubed ini menyatakan, jikalau mau menjadikan sejarah kaca benggala, maka wabah Thaun bisa menjadi pelajaran yang baik. Ini merupakan sejenis wabah penyakit pes yang berasal dari hewan pengerat seperti tikus lalu menular ke manusia.

“Secara sosial kita tidak boleh kemana-mana, waspada di rumah saja, membatasi mobilitas sosial, seandainya terpapar tidak boleh menyalahkan siapa-siapa, ini ada hikmahnya, ini pedoman tuntunan dari Rasulullah,” ungkap Gus Ubed.

Dia lantas menjabarkan, ada beberapa teknik isolasi yang sudah diajarkan di zaman itu. Pertama, penduduk area terdampak dilarang keluar area dan pendatang tidak boleh masuk. “Persis seperti ketika Khalifah Umar bin Khathab menahan diri agar tidak masuk negeri Syam waktu itu. Karena disana sedang bergejolak wabh Thaun,” jelasnya.

Oleh karena itu, banyak implikasi ketika berhadapan dengan konteks sekarang. Banyak tata cara hidup yang berubah. Jarak tatap muka diatur, shaf salat diatur, jumlah jamaah diatur hingga pembatasan perdagangan juga terjadi.

“Perubahan yang terjadi ini sama sekali tidak bermasalah. Kita harus sasar bahwa ini kondisi darurat. Allah menghendaki kemudahan dan kuta harus menjauhkan diri dari potensi bahaya. Makanya ada sejumlah oengaturan itu tadi. Selama ini darurat tidak masalah,” terangnya.

“Rasul bilang larilah yang berarti menghindarlah kalian dari wabah penyakit. Konteksnya sekarang kita ijtihad secara ilmu epidemiologi adalah vaksin untuk menangani pandemi. Meskipun prosesnya ada pelibatan barang haram. Selama ini darurat dibolehkan dan nggak boleh berlebihan. Prinsipnya kita perlu ikuti ijtihad keilmuan. Niat kita menjaga kesehatan,” imbuhnya.

Di penghujung acara, Gus Ubed menitipkan pesan agar kita sesama warga bangsa Indonesia dan warga dunia harus selalu tolong menolong dalam kebaikan. Khususnya dalam rangka pandemi ini kita harus gotong royong dan bahu membahu. Jangan pernah melihat latar belakang dalam kerjasama kebaikan, karena ini dilarang Rasul.

“Tidak boleh memandang sekat dan latar belakang. Rasul mewajibkan kita saling menolong antar manusia. Bahkan dalam tataran pelaksanaan ibadah meskipun berbeda agamanya itu diperbolehkan. Yang dilarang adalah mencampuradukkan peribadatan. Artinya kemanusiaan selalu dikedepankan Islam,” tegasnya. [suf]



Apa Reaksi Anda?

Komentar