Politik Pemerintahan

Gus Muhdlor Ziarah ke Makam Putri Ayu Dewi Sekardadu

Sidoarjo (beritajatim.com) – Cabup Sidoarjo dari PKB, H. Ahmad Muhdlor Ali (Gus Muhdlor) melakukan melakukan ziarah ke makam Putri Ayu Dewi Sekardadu di Dusun Ketingan, Desa Sawohan, Kecamatan Buduran, Minggu (4/10/2020).

Gus Muhdlor berziarah ke makam ibunda Sunan Giri itu di dampingi Kyai Mas’ud dan para rombongan jamaah pengajian lainnya.

Rombongan datang ke lokasi persemayaman putri Prabu Menak Sembuyu, penguasa Kerajaan Blambangan Banyuwangi itu menempuh melalui jalur sungai dengan transportasi perahu.

Gus Muhdlor mengatakan, makam Putri Ayu Dewi Sekardadu ini perlu mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah, khususnya Dinas Pariwisata Kab. Sidoarjo. Karena Dewi Sekardadu mempunyai ikon wisata religi. Mulai fasilitas, infrastruktur, koneksifitas dan lainnya yang lebih baik.

“Makam Putri Ayu Dewi Sekardadu ini ikon wisata religi. Akses penunjang mulai jalan, dermaga, kapal dan lainnya harus mudah, agar semakin banyak dan senang masyarakat yang akan berkirim doa atau nyekar ke sini,” katanya.

Selain itu, tambah Gus Muhdlor, tidak kalah pentingnya promosi adanya wisata berbasis religi ini lebih digencarkan, agar tidak masyarakat Sidoarjo saja yang mengetahuinya, melainkan dari luar kota juga diharapkan berbondong-bondong berkunjung ke wisata religi tersebut.

“Pemerintah dituntut perhatian agar masyarakat luas banyak yang tahu adanya wisata religi ini,” tukasnya.

Masih kata Gus Muhdlor, selain wisata religi, ia betsama rombongan juga mengunjungi pulau Lusi (Lumpur Sidoarjo), yang juga bagus untuk berwisata.

“Syukur nantinya dalam wisata ke dua tempat itu ada semacam paket dalam berkunjung. Ke wisata religi makam Dewi Sekardadu dan juga ke pulau Lusi yang ada di pesisir timur selatan kawasan Jabon,” terangnya.

Sementara itu, Kiai Mas’ud menceritakan, dalam literasi yang dibaca, Putri Ayu Dewi Sekardadu ini bukan orang biasa. Dia anak seorang Raja Blambangan dan dinikahi oleh Syekh Maulana Ishaq.

Mengutip dari buku sejarah yang dibacanya, Putri Ayu Dewi Sekardadu yang cantik tersebut pernah didera suatu penyakit. Segala upaya penyembuhan telah dicoba, namun tak kunjung membuahkan hasil.

Raja Blambangan akhirnya menggelar sayembara barang siapa yang bisa menyembuhkan penyakit Putri Ayu Dewi Sekardadu, bila masih muda akan dinikahkan dengan putrinya itu. Apabila sudah tua akan jadi kerabat kerajaan.

Banyak yang mengikuti sayembara akan tetapi semuanya gagal. Setelah beberapa saat ada orang yang bernama Syekh Maulana Ishaq mengajukan diri ikut sayembara, dan akhirnya berhasil menyembuhkan penyakit Putri Ayu Dewi Sekardadu.

“Sesuai dengan janjinya sang Rajapun menikahkan keduanya,” ilas Kiai Mas’ud.

Setelah itu, tiba-tiba, sang Prabu dan Syekh Maulana bertengkar. Karena Sang Prabu tidak mau menerima ajakan Syekh Maulana Ishaq masuk agama Islam. Dari perkara tersebut Syekh Maulana Ishaq pamit mundur ketika Putri Ayu Dewi Sekardadu sedang hamil besar.

Syekh Maulana Ishaq berpesan jika lahir laki-laki, akan dinamakan Raden Paku. Setelah Radan paku atau lebih dikenal dengan sebuatan Sunan Giri lahir, dia dihanyutkan di laut oleh Raja Blambangan. Mengetahui anak tercintanya dibuang ke laut, Putri Ayu Dewi Sekardadu menceburkan diri ke laut mengejar- ngejar anaknya.

Namun gelombang ombak terlalu besar, dan tenggelamlah Putri Ayu Dewi Sekardadu. Jasad Putri Ayu Dewi Sekardadu terbawa arus hingga Sidoarjo. Jasad Putri Ayu Dewi Sekardadu digotong ikan keting ke dekat pantai.

“Akhirnya dari peristiwa itu wilayah daerah ini diberi nama Ketingan atau Kepetingan,” jelas Mas’ud menirukan bacaan buku cerita yang pernah dibacanya. [isa/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar