Politik Pemerintahan

Gus Hans dan Eri Cahyadi, Siapa Lebih Berpeluang Dampingi Whisnu Sakti di Pilwali Surabaya?

Surabaya (beritajatim.com) – Usai Whisnu Sakti Buana disebut telah mengantongi rekom PDIP sebagai Calon Wali Kota di Pilwali Surabaya, bola liar bergulir ke sosok kandidat Calon Wakil Wali Kota.

Ada dua nama yang menjadi sorotan utama kali ini. Keduanya adalah Gus Hans yang merupakan Wakil Ketua DPD Partai Golkar Jatim sekaligus orang dekat Gubernur Jatim Khofifah serta Eri Cahyadi yang adalah Kepala Bappeko Surabaya dan santer disebut sebagai orang dekat Wali Kota Risma.

Peneliti senior Surabaya Survey Center (SSC) Surokim Abdussalam menilai jika memang duet Whisnu-Eri bakal menjanjikan. “Secara konfigurasi dan kalkulasi politik bisa sangat berpeluang, hanya saja untuk menyamakan frekuensi di antara keduanya itu tidak mudah dan menjadi tantangan yang juga berat karena selama ini semua paham ada persaingan terselubung di antara keduanya di lapangan,” katanya.

Meski demikian, Rokim melihat jika kultur di PDIP bakal bisa menjembatani. “Karena PDIP sebagai partai komando yang kuat dan biasanya di bawah tegak lurus dengan perintah DPP,” bebernya.

Whisnu Sakti Buana

“Situasi itu tidak akan sedramatik yang dibayangkan. Meski, memang akan butuh waktu dalam menyamakan frekuensi keduanya dan itu akan menjadi konfigurasi rekonsilatif yang juga unik di Surabaya,” tambah Rokim.

Bagaimana dengan Gus Hans? Menurut Rokim, meski bisa menjadi kejutan, skema Whisnu-Gus Hans memiliki peluang yang tidak terlampau besar.

“Menurut saya jika melihat pola yang selama ini dijalankan maka peluang Cawali Cawawali yang sama-sama kader partai tidak terlampau besar kendati namanya politik selalu ada kejutan,” urai Rokim.

“Memang tidak beririsan langsung jika Mas WS dan Gus Hans dipasangkan. Semua akan sangat tergantung dari DPP PDIP jika kader partai yang diusung tentu sudah ada komunikasi antar DPP kendati Pilwali Surabaya ini kelasnya Kab/Kota, tetapi sesungguhnya masuk kategori liga satu Pilkada di indonesia yang akan menjadi ajang perebutan kuasa simbolik partai,” lanjutnya.

Di sisi lain, Rokim mengingatkan tentang kondisi geopolitik di Surabaya. “Kontestasi di Surabaya tidak selalu mudah karena variabel perilaku memilih warga juga kian kompleks dan terus berubah. Apalagi dengan konteks pendemi covid situasi itu selalu tidak mudah sehingga soliditas juga akan menjadi variabel pengaruh yang kuat dalam memenangkan kontes pilwali di Surabaya,” ujarnya.

“Dalam konfigurasi bakal calon Walikota dan bakal calon Wakil Walikota DPP PDIP pasti akan menguatkan moral kader dengan menempatkan kader genuine pada salah satu posisi itu. Menurut saya sudah seharusnya banget sehingga kader punya kebanggan dan semangat sehingga kaderisasi di partai punya harapan dan bisa berjalan alamiah,” pungkas Rokim. [ifw/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar