Politik Pemerintahan

Gus Hakim Hidayat: Penghargaan Ini Jadi Motivasi Kuat Kami Meneruskan Perjuangan Abah

Gus Hakim Hidayat, putra KH Hasyim Muzadi (almarhum) didampingi KH Muhammad Nafi’, saat menerima PWI Jatim Award 2020 di Pondok Mahasiswa Al Hikam, Kota Malang, Rabu (8/7/2020) siang.

Malang (beritajatim.com) — Putra KH A Hasyim Muzadi (almarhum), Gus Hakim Hidayat, mengaku makin termotivasi untuk melanjutkan nilai-nilai perjuangan KH Hasyim Muzadi dalam mencerahkan dan meningkatkan kualitas umat Islam dalam konteks kehidupan kebangsaan.

“Penghargaan ini menjadi bahan renungan kami untuk memaknai nilai-nilai perjuangan Abah (KH Hasyim Muzadi). Ternyata di luar banyak kelompok masyarakat yang mengapresiasi perjuangan Abah selama hidupnya, termasuk dari organisasi seperti PWI ini,” kata Gus Hakim Hidayat saat menerima pengurus PWI Jatim dan PWI Malang Raya di Pondok Mahasiswa Al Hikam di Kota Malang, Rabu (8/7/2020) siang.

Dipimpin Ketua PWI Jatim, Ainur Rohim yang didampingi dua pengurus PWI Jatim:, Teguh Lulus R (Bendahara), Didik Kusbiyantoro (Wakil Sekretaris), M Ariful Huda (Ketua PWI Malang Raya), M Taufik (Sekretaris PWI Malang Raya), dan Muhaimin (Bendahara PWI Malang), diserahkan PWI Jatim 2020 kategori Prime Achievement kepada KH A Hasyim Muzadi (almarhum). Apresiasi ini terkait dengan peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2020 tingkat Jatim dan HUT ke-74 PWI.

Saat menerima penghargaan, Gus Hakim didampingi KH Muhammad Nafi’ dan KH Nurcholish. “Abah Hasyim lebih banyak menghabiskan waktunya di luar, karena undangan dari umat dan masyarakat luar biasa banyak sepanjang hidupnya. Baru buka kitab sedikit sudah ada, lalu telepon, dan undangan pengajian. Ya begitu aktifitas beliau sepanjang hidupnya,” tambah Kiai Nafi’.

Kiai Nafi’ mengutarakan, apa yang diajarkan Kiai Hasyim di banyak forum pengajian dan kajian tentang agama Islam merupakan gabungan antara naskah keilmuan Islam yang bersumber dari kitab dan buku yang ditulis para ahli. Di samping itu, menurutnya, materi kehidupan praktis masyarakat di lapangan merupakan sumber konten pengajian dan kajian berkualitas.

“Almarhum mampu mengkompilasikan dan memadukan kedua sumber itu dengan baik, dengan bahasa ringan yang mudah dipahami rakyat di akar rumput. Tak lupa sentilan-sentilan bernada humor juga diselipkan,” kata Kiai Nafi’.

Atas pemberian PWI Jatim Award 2020 kepada Kiai Hasyim, Gus Hakim tampak terharu. Dia menyampaikan banyak terima kasih atas penilaian baik dan apresiasi PWI Jatim yang diberikan ayahandanya. Sebagai putra sulung almarhum, katanya, dia berkomitmen terus memperjuangkan dan berusaha merealisasikan cita ideal Kiai Hasyim. “Terima kasih, ternyata banyak orang luar yang memberikan penilaian baik kepada Abah saya,” ujarnya lirih dan matanya tampak berkaca-kaca.

Ketua PWI Jatim, Ainur Rohim, mengatakan, latar belakang pemberian penghargaan kepada Kiai Hasyim karena spirit perjuangan mantan ketua umum PBNU itu sangat tinggi terkait dengan keberagaman dan kebangsaan. Kiai Hasyim juga memiliki komitmen yang kuat kepada ke-Islaman-an dan ke-Indonesia-an. Kedua hal itu, bagi Kiai Hasyim, dalam konteks berbangsa dan bernegara sesuai falsafah Pancasila. Pesan penting Kiai Hasyim adalah Pancasila merupakan titik temu dari berbagai jalan dalam merajut cita-cita Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). “Itu yang jadi landasan kuat kami memberikan penghargaan kepada Kiai Hasyim,” kata Ainur Rohim.

Nilai-nilai kebangsaan dan pluralisme ini selalu diajarkan Kiai Hasyim dan pengasuh Pondok Mahasiswa Al Hikam kepada para santrinya. Pondok Al Hikam ingin memadukan dimensi positif perguruan tinggi yang menekankan pada ilmu pengetahuan dan teknologi dengan dimensi positif pesantren yang menjadi tempat penempaan kepribadian dan moral yang benar.

“Dalam sebuah kesempatan Kiai Hasyim Muzadi bilang Pancasila adalah titik temu, tak hanya jalan, tapi titik temu semua jalan. Titik temu berbagai suku, berbagai agama, bahkan berbagai kebiasaan dan kebudayaan daerah di Indonesia untuk cita-cita bersama dalam NKRI. Saya kira, itu yang selama ini Kiai Hasyim ajarkan dan perjuangkan melalui banyak sarana, apakah di ormas, di NU, lalu di kesempatan forum lintas agama, termasuk dalam pesantren,” tegas Kiai Nafi’.

KH Hasyim Muzadi adalah tokoh muslim yang menjadi representasi umat moderat dan kultural bagi dunia. Dia dikenal sebagai seorang muslim moderat dan toleran tanpa meninggalkan prinsip agama yang ia yakini sejak kecil. Sikap moderat dan toleran tidak boleh mengorbankan akidah.

Sebelum ke Malang untuk mengenyam pendidikan tinggi, Kiai Hasyim tercatat pernah nyantri di 3 pondok pesantren semasa mudanya: Pondok Pesantren Modern Gontor, Pondok Pesantren Senori Tuban, dan Pondok Pesantren Lasem Jawa Tengah. Dedikasinya terhadap pendidikan agama mengantarkan Kiai Hasyim jadi sosok yang dikenal masyarakat muslim Indonesia. Kerangka berpikirnya nasionalis dan pluralis.

Dalam hubungannya dengan media massa dan wartawan, Kiai Hasyim merupakan narasumber yang memiliki kedekatan dan kepedulian dengan wartawan, baik saat menjabat ketua PWNU Jatim maupun ketua umum PBNU di Jakarta. “Kiai Hasyim dekat dengan wartawan, baik saat di Jatim maupun di Jakarta. Kapan pun beliau ada waktu akan menerima wawancara wartawan,” tambah Ainur Rohim. [air]





Apa Reaksi Anda?

Komentar