Iklan Banner Sukun
Politik Pemerintahan

Gus Fahrur Jadi Pemateri Konferensi Internasional di Mesir

Malang (beritajatim.com) – Ketua PBNU KH.Ahmad Fahrur Rozi menjadi salah satu pemateri dalam Konferensi Internasional Pencegahan Ekstrimisme dan Radikalisme di Indonesia, Rabu (8/6/2022) di Hotel Almasa Naser City Cairo, Mesir.

Konferensi yang digelar oleh Darul Ifta bekerjasama dengan Pemerintah Mesir itu berlangsung mulai tanggal 7 hingga 9 Juni 2022. Gus Fahrur sapaan akrabnya dalam pidato berbahasa Inggris dan Arab mengucapkan terimakasih atas undangan Konferensi internasional oleh Darul ifta dan Pemerintah Mesir dalam rangka diskusi pencegahan ekstremisme dan radikalisme .

Menurut Gus Fahrur, Indonesia adalah negara yang terdiri dari ribuan pulau dan ratusan suku serta bahasa lokal, namun disatukan dalam satu bentuk Negara Kesatuan Republik Indinesia dengan penduduk sekitar 265 juta jiwa. Dimana mayoritas rakyat Indonesia memeluk agama islam dan menjadi negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia.

“Di negara kami Indonesia terdapat puluhan organisasi kemasyarakatan dan keagamaan dan semua ormas islam, disatukan para dalam wadah Majelis Ulama Indonesia yang berdiri pada 26 Juli 1975 lalu,” kata Gus Fahrur mengawali pidato internasionalnya.

Gus Fahrur kemudian membeberkan beberapa fase terorisme yang terjadi di Indonesia dari masa lalu hingga saat ini. Pertama, gerakan terorisme NII, organisasi lokal yang orientasinya mendirikan negara Islam di Indonesia sejak tahun 1960 silam, ditangani oleh pemerintah dengan pendekatan kekuatan militer.

“Kemudian gerakan Jamaah Islamiyah, organisasi yang berafiliasi dengan al-Qaeda melalui para alumni mujahidin Afghanistan. Orientasi mereka ingin mendirikan negara Islam regional Asia Tenggara, kelompok ini ditangani oleh pemerintah dg pendekatan hukum dan intelijen,” tegas Fahrur yang juga Pengurus Majelis Ulama Indonesia pusat itu.

KH Ahmad Fahrur Rozi (Kopyah hitam) bersama Prof Dr Syauqi Ibrahim Allam, Mufti Negara Mesir dan Dr Amru Wardani Sekretaris Majelis Fatwa Darul Ifta Mesir.

Berikutnya, lanjut Gus Fahrur, Jamaah Anshorud Daulah, merupakan organisasi yang berafiliasi dengan ISIS dan berorientasi mendirikan khilafah bersama ISIS di Timur Tengah. Dimana gerakan ini terus dipantau oleh pemerintah dengan pendekatan hukum dan keamanan.

MUI dalam hal tersebut, tambah Gus Fahrur, ikut berperan penting dalam penanggulangan teror melalui bentuk soft approach, yaitu dakwah, dialog, dan diskusi intensif dengan berbagai kelompok masyarakat.

“Langkah ini lebih diutamakan sebelum pendekatan kekuasaan bersenjata atau hukum, dan terbukti berhasil menarik banyak mantan anggota kelompok teroris untuk mencabut baiat kepada kelompoknya dan kembali ke pangkuan NKRI,” papar Gus Fahrur.

Masih kata Gus Fahrur, MUI juga ikut berperan aktif membina persatuan umat islam dan melawan terorisme serta radikalisme agama. Salah satunya dalam bentuk Fatwa MUI tentang Terorisme nomor 3 tahun 2004 lahir berdasarkan pembahasan masalah terorisme akibat runtutan kejadian bom bunuh diri.

Gus Fahrur kemudia memaparkan, dimulai tahun 2000 terjadi ledakan bom bunuh diri di Bursa Efek Jakarta. Lalu pada akhir tahun yang sama (tahun 2000), terjadi ledakan bom bunuh diri yang kemudian disebut dengan bom Natal terjadi di sejumlah gereja di Indonesia. Tahun 2002 juga terjadi peristiwa bom Bali. dan Selanjutnya pada tahun 2003 terjadi ledakan bom di hotel JW Marriot di Jakarta.

“Polemik di masyarakat muncul akibat kesalahpahaman terhadap amaliyah istisyhadiyah seperti bom bunuh diri di Palestina disamakam dengan bom bunuh diri di Indonesia (salah satu contohnya bom Bali). Atas dasar itulah MUI melakuakn diskusi mendalam dan melahirkan Fatwa anti Terorisme nomor 3 tahun 2004. Fatwa tersebut secara tegas membedakan antara terorisme dengan jihad,” urainya.

Dalam diktum fatwa tersebut, sambung Gus Fahrur, terorisme adalah tindakan kejahatan terhadap kemanusiaan dan peradaban yang menimbulkan ancaman serius terhadap kedaulatan negara, bahaya terhadap keamanan, perdamaian dunia serta merugikan kesejahteraan masyarakat.

Terorisme adalah salah satu bentuk kejahatan yang diorganisasi dengan baik (well organized), bersifat trans-nasional dan digolongkan sebagai kejahatan luar biasa (extra-ordinary crime) yang tidak membeda-bedakan sasaran (indiskrimatif).

“Seperti sebuah pohon, upaya mengatasi terorisme dan radikalisme tidak bisa dilakukan hanya dengan menebang dahan ataupun batang pohon tersebut karena meskipun dahan atau batang pohon tersebut ditebang, nantinya akan tetap tumbuh kembali,” ujarnya.

Untuk mengatasi terorisme dan radikalisme, tuturnya lagi, perlu dilakukan upaya sungguh-sungguh untuk memberantas hingga ke akarnya. Maka penting untuk diketahui apa yang menjadi akar dari radikalisme dan terorisme itu sendiri.

“MUI bekerjasama dalam penanggulangan terorisme dan radikalisme dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dengan membentuk Badan Penanggulangan Ekstremisme dan Terorisme (BPET),” ucap Gus Fahrur.

Masih menurut Gus Fahrur, langkah strategis yang sudah di lakukan MUI dalam penanggulangan ekstremisme dan terorisme di Indonesia sejauh ini antara lain, memberikan syarah dan pengembangan atas fatwa MUI no. 3 tahun 2004. Menyelenggarakan Halaqah Kebangsaan, menulis materi khutbah Islam wasatiyah, menulis buku saku panduan moderasi beragama. Serta memperluas perangkat BPET di daerah, memberikan pencerahan kepada masyarakat melalui seminar, wawancara televisi dan lainnya. Hingga memberikan ceramah kepada narapidana terorisme di Lapas agar kembali ke jalan yang benar.

Sementara rekomendasi yang mungkin bisa menjadi bahan pertimbangan Konferensi Internasional sebagai berikut:

1. Memberikan pemahaman utuh kepada masyarakat akan arti dan bahaya radikalisme dan terorisme.

2. Perlu adanya fatwa yang dapat mencakup larangan segala bentuk tindakan/perbuatan terorisme.

3. Perlu adanya pembuatan buku, modul dan artikel tentang pentingnya wawasan persatuan kebangsaan, kesalahan terminologi khilafah, thaghut dan radikalisme untuk memberikan pemahaman yang komprehensif kepada umat Islam.

4. Peningkatan kesadaran dan diseminasi fatwa kepada publik dengan berbagai macam media.

5. Membuat daftar kelompok terorisme di setiap negara secara berkala untuk memberikan pemahaman dan pencegahan kepada umat Islam. [yog/but]

 


Apa Reaksi Anda?

Komentar