Politik Pemerintahan

Guru Besar Akhlak Tasawuf IAIN Jember Wafat

Jember (beritajatim.com) – Mahjuddin, guru besar Institut Agama Islam Negeri KH Achmad Shiddiq Kabupaten Jember, Jawa Timur, meninggal dunia dalam usia 70 tahun, Jumat (7/5/2021). Dia adalah pengampu akhlak tasawuf di di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK).

Lahir pada 19 Desember 1951, Mahjuddin pernah menjadi Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Jember 2000-2004. Sebelum masa jabatannya berakhir, ia mundur dan pindah tugas mengajar di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Namun dia kemudian kembali mengajar di Jember.

Mahjuddin dikenal sebagai sosok dengan perilaku sufi. Ia tinggal bersama keluarga di Kelanceng, Ajung. “Kadangkala ke mana-mana naik sepeda motor sendiri. Dulu beliau naik Vespa waktu semasa saya kuliah,” kata Moch. Eksan, mantan mahasiswanya.

Mahjuddin seorang penulis produktif. Beberapa karyanya antara lain Akhlaq Tasawuf I: Mu’jizat Nabi, Karamah Wali, dan Ma’rifat Sufi; Akhlak Tasawuf II: Pencarian Ma’rifah Bagi Sufi Klasik dan Penemuan Kebahagiaan Batin bagi Sufi Kontemporer; Masail Al-Fiqh: Kasus-Kasus Aktual dalam Hukum Islam. Semuanya diterbitkan oleh Kalam Mulia Jakarta.

Dosen asal Makassar ini aktif berdakwah dan tercatat sebagai khatib di berbagai masjid dan mengisi dialog agama di radio dan televisi lokal. “Walau tergolong dosen senior, ia mengikuti perkembangan pemikiran Islam kontemporer dari sudut pandang hukum Islam dan akhlak tasawuf,” kata Moch. Eksan, yang pernah menjadi anggota DPRD Jatim ini.

Eksan masih ingat bagaimana Mahjuddin menguji skripsinya yang berjudul Profil KH A Muchith Muzadi: Pemikiran dan Perjuangannya dalam Pendidikan Islam. Eksan mendapat nilai A dan skripsi itu belakangan diterbitkan LKiS Jogyakarta pada 2000, dengan judul Kiai Kelana Biografi KH A Muchith Muzadi.

Saat Eksan menjadi komisioner Komisi Pemilihan Umum Jember, Mahjuddin bertamu untuk berdiskusi untuk tugas makalah fiqih siyasah saat menempuh program doktoral. Eksan meminjamkan tiga buku kepada Mahjuddin, yakni Kaleidoskop Pemilu 2004 Kabupaten Jember: Jejak Langkah Demokrasi Kota Suwar Suwir; Kaleidoskop Pemilu 2005: Dinamika Pemilihan Langsung Kota Tembakau; dan Fiqih Pemilu Menyemai Nilai Agama dan Demokrasi di Indonesia.

“Saya melihat Pak Mahjuddin seorang yang sangat serius mengkaji sesuatu. Ia tak hanya mengkaji teks dalam kitab kuning, tapi konteks kekinian dari implementasi teks di tengah-tengah pergumulan masyarakat. Itulah yang membuat lontaran pemikirannya acapkali mengandung kebaruan. Buku Masail Al-Fiqh contoh konkret dari unsur kebaruan hukum Islam,” kata Eksan.

Eksan menyebut Mahjuddin menguasai peta jalan sufisme dalam meraih makrifat dan karomah. “Buku Akhlaq Tasawuf l dan II merupakan bukti penguasaan yang baik terhadap khazanah sufisme klasik dan modern. Laku akhlak dan zikir merupakan peta jalan menuju ‘maqam’ spiritual yang tinggi. Tak ada sufi besar dalam Islam yang tak melalui ‘riyadhah’. Semua melalui olah batin takhalli dan tajalli sekaligus. Sebuah usaha keras untuk mengosogkan diri dari sifat buruk dan mengisi dengan sifat baik,” katanya. [wir/kun]



Apa Reaksi Anda?

Komentar