Politik Pemerintahan

Gugatan Camat Tanggul Tak Berdampak Terhadap Bawaslu Jember

Ketua Bawaslu Jember Thobrony Pusaka

Jember (beritajatim.com) – Gugatan Camat Tanggul Muhammad Ghozali terhadap Badan Pengawas Pemilu Kabupaten Jember, Jawa Timur, tak berdampak sama sekali terhadap lembaga tersebut. Bawaslu saat ini mempersiapkan pengawasan terhadap tahapan verifikasi faktual calon perseorangan.

Hal ini dikemukakan Ketua Bawaslu Jember Thobrony Pusaka, Jumat (19/6/2020) malam. “Kami sudah berkirim surat ke Bawaslu Provinsi Jawa Timur untuk meminta pendampingan dan bantuan hukum, sehingga (gugatan) ini tak mengganggu kinerja kami,” katanya.

Tak ada yang istimewa dari persiapan Bawaslu Jember menghadapi gugatan itu. “Kami hanya berkoordinasi dengan Bawaslu Provinsi dan Bawaslu RI. Kemarin kami sudah bertemu Bawaslu Provinsi dan mengkaji beberapa hal dalam gugatan tersebut. Tentu kajian-kajian ini akan diperdengarkan di persidangan. Kami juga menyiapkan beberapa berkas yang ada,” kata Thobrony.

Menurut Thobrony, masih banyak orang yang kurang memahami aturan-aturan pemilu dan pemilihan kepala daerah. “Hikmah yang bisa diambil di sini adalah kami akan lebih mengedepankan sosialisasi peraturan-peraturan pilkada maupun pemilu,” katanya.

Camat Tanggul Muhammad Ghozali menggugat Badan Pengawas Pemilu Kabupaten Jember, Jawa Timur, dan Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN), serta menuntut ganti rugi Rp 533 juta. Gugatan perdata didaftarkan oleh kuasa hukum Mohammad Husni Thamrin ke Pengadilan Negeri Jember dan mendapat nomor register 52/Pdt.G/2020/PNJmr. Bawaslu Jember menjadi tergugat satu dan KASN tergugat dua.

Bawaslu dan KASN dianggap melakukan perbuatan melawan hukum, menyusul terbitnya surat rekomendasi sanksi terhadap Ghozali. Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN) merekomendasikan agar Ghozali dijatuhi sanksi disiplin sedang, karena terbukti melanggar netralitas aparatur sipil negara dengan mengampanyekan Bupati Faida yang mencalonkan diri kembali dalam pemilihan kepala daerah.

Semua berawal dari beredarnya sebuah klip berdurasi 21 detik di media sosial yang mempertontonkan Muhammad Ghozali sedang mengajari seorang perempuan tua difabel agar mengucapkan ‘salam dua periode’ dan dukungan untuk bupati. Video tersebut dibuat, saat Ghozali menyalurkan bantuan kursi roda dari Dinas Sosial Jember kepada perempuan tua difabel warga Desa Kramat Sukoharjo pada 13 Februari 2020.

Thamrin mempertanyakan tuduhan ketidaknetralan terhadap Ghozali. “Istilah tidak netral adalah istilah yang ada dalam Undang-Undang Pemilihan Umum, baik pemilihan presiden, DPR, DPR RI, kepala daerah. Satu poin pun tidak disebutkan alasan melanggar Undang-Undang Pemilu. Jadi menurut saya ini sudah di luar kewenangannya. Menurut saya ini adalah karena tekanan politik saja, yang dilakukan oleh Bawaslu,” katanya. [wir/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar